Karol Mantap Maju Pilgub

Karol Mantap Maju Pilgub

  Sabtu, 11 November 2017 10:00

Berita Terkait

PONTIANAK – Bupati Landak, Karolin Margret Natasa tidak ingin berandai-andai terkait siapa yang akan memakai perahu PDIP Kalbar pada pertarungan perebutan bakal calon Gubernur-Wakil Gubernur Kalbar yang berlangsung Juni 2018 mendatang.

“DPP PDIP sedang memproses untuk Pilgub Kalbar. Saya tidak mau berandai-andai siapa yang akan memakai perahu PDIP. Yang jelas sampai hari ini, saya adalah PDI Perjuangan,” katanya menjawab pertanyaan wartawan dalam acara ramah tamah Karolin Margret Natasa dengan para awak media di Kafe Red Zone Pontianak, Kamis (9/11) malam.  

Karolin menyampaikan bahwa berdasarkan informasi kawan-kawan di DPP, PDIP masih membahas dan memprioritas kantong-kantong suara di seluruh Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa pilkada serentak yang akan digelar pada bulan Juni tahun 2018 mendatang, setidaknya ada 18 pertarungan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur se-Indonesia. Tentu prioritasnya tetap berada di wilayah-wilayah Jawa.

“Kalau Jawa sudah beres baru bicara Sumatera dan Sulawesi baru kemudian di Pulau Kalimantan termasuk Kalimantan Barat sendiri,” ucapnya.

Untuk Kalbar, lanjutnya, sampai hari ini belum dikeluarkannya surat keputusan siapa yang akan memakai perahu PDI Perjuangan Kalbar. Namun DPD PDIP Kalbar sudah dipanggil melakukan presentasi ke tingkat DPP. Sudah dijelaskan bagaimana pandangan tokoh-tokoh politik Kalbar oleh ketua DPD PDIP Kalbar.  “Makanya sampai hari ini, masih ditunggu surat keputusannya,” kata Karol.

Lebih lanjut dikatakannya bahwa PDIP Kalbar sendiri, sudah terbiasa dengan keputusan the last minute menjelang pendaftaran bakal calon kepala daerah. Siapa ditentukan paling akhir, sudah biasa terjadi. Oleh karena itu, pihaknya masih menunggu.

”Sabar saja dan tunggu tanggal mainnya. Namun yang pasti, saya sudah lakukan yang terbaik untuk partai. Keputusan apapun nantinya tetap dikembalikan ke partai,” ujarnya.

Terkait dukungan Gerindra Kalbar kepada dirinya, Karol juga menjawab pertanyaan para awak media. Baginya proses di Partai Gerindra Kalbar yang memberikan deadline atau batas waktu mencari bakal calon wakil sudah dilakukannya. ”Siapa wakil saya, masih berproses. Prosesnya melalui mekanisme survei yang tengah berjalan,” ujarnya.

Karol bercerita pada awal karirnya sepuluh tahun lalu dimulai di Jakarta. Ketika itu, orangtuanya memutuskan maju bakal calon Gubernur Kalbar. ”Akhirnya saya balik dan berada di lapangan. Saya keliling Kalbar. Makanya saya tahu betul kondisi di lapangan seperti apa,” katanya. ”Sampai hari terakhir hampir mau nangis ikut kampanye orang tua ke bawah. Rasa capek menyelimuti. Hanya modal nekat waktu itu. Saya melihat seluruh situasi Kalbar seperti apa,” ucapnya lagi.

Menurut Karol, jika bicara kekurangan Kalbar masih banyak. Hanya perlu diingat selama 10 tahun apa saja yang sudah bisa jabarkan. Kawan-kawan di media pasti juga sudah tahu apa terwujud dan belum. Seperti daerah perbatasan sudah dibangun habis-habisan.

“Tinggal sedikit saja, akan beres semua. Seperti PLBN Aruk, Sajingan sudah bagus. PLBN Badau, Kapuas Hulu masih berproses hampir selesai. Begitu juga pembangunan jalan seperti di Kabupaten Kapuas Hulu, Melawi dan Kabupaten Sekadau. Jaraknya sudah lebih dekat dan pendek melewati jalan darat. Tak seperti dulu,” jelasnya.

Meski begitu, Karol juga menyadari pembangunan infrastuktur di Kalbar juga masih ada yang kurang. Kalau mau mencari kurangnya justru lebih banyak. “Saya sendiri bahkan punya data lebih banyak dari kawan-kawan wartawan. Tetapi saya pikir waktu 9 sampai 10 tahun juga bukan waktu pendek membangun Kalbar. Banyak hal sudah berubah,” ucap dia.

Contoh lain Jembatan Tayan sudah dirasakan bagaimana menjadi penghubung utama ke masyarakat hingga ke provinsi tetangga, Kalteng tak perlu waktu lama. Dulu waktu belum terwujud, masyarakat merasakan bagaimana harus sampai menginap segala. Pernah di Ambawang, satu-satunya warung yang harga teh esnya saja sampai ratusan ribu atau 1 juta kalau akan makan. ”Sekarang jalannya sudah bagus. Banyak sektor usaha berdiri,” ungkap Karol.

Oleh karena itu, kalau bicara kurangnya tentu ada. Hanya ia berkomitmen kekurangan tersebut harus terus disandingkan sehingga program pusat akan terus mengucur ke Kalbar. Makanya dengan pemahaman baik justru bakalan menjadi modal dasar atau modal awal bicara pembangunan ke depan. “Makanya saya bertanding dan maju Pilgub Kalbar ingin meneruskan komitmen membangun Kalbar dan apa yang sudah dirintis Gubernur yang masih menjabat ini,” jelasnya.

Terpisah, Ireng Maulana, Pengamat Politik Kalbar lulusan Master Politik Universita Iowa, Amerika Serikat menyampaikan bahwa DPD PDIP Kalbar sudah melakukan serangkaian seleksi untuk mencari figur kepala daerah terbaik. Melihat perjalanan dari awal proses pendaftaran hingga sekarang, peluang PDIP terbuka dipakai oleh kader sendiri.

Tidak heran belakangan sambil menunggu keputusan DPP, menguat nama Lasarus (Wakil Ketua Komisi V DPR RI)  dan Karolin Margret Natasa (Bupati Landak) sebagai kandidat terkuat direkomendasikan memakai perahu PDIP Kalbar. Akan tetapi siapa paling beruntung, keputusannya tetap berada di tingkat DPP. “Tunggu saja kejutannya. Kapan keluarnya? Intinya siapapun pemakai perahu PDIP Kalbar, tentu merupakan bakal calon kepala daerah terbaik yang diusung,” katanya belum lama ini.

Pertarungan Pilgub Kalbar memang menarik. PDIP sebagai partai besar di Kalbar diketahui banyak memiliki konstituen fanatik dan masa besar di Kalbar. Apapun nantinya diputuskan DPP PDIP, pastinya akan merubah peta pertarungan di Pilgub Kalbar.  

Perlu diingat, lanjutnya, sejumlah partai politik juga telah memproklamirkan jagoannya pada Pilgub Kalbar. DPP Golkar dengan 9 kursi sudah mengumumkan nama Sutarmidji (balon Gubernur)—Ria Norsan (balon Wakil Gubernur). Partai Nasdem 5 kursi bersama PKS juga mendukung duet pasangan ini.

Pun Gerindra Kalbar dengan 7 kursi, hangat menjadi perbincangan dan trending topik di media sosial. Partai dengan ciri khas Lambang Kepala Burung Garuda ini, mengumumkan nama Karolin Margret Natasa (Bupati Landak) sebagai bakal calon Gubenurnya. Tentu dengan syarat, Karol sapaan karib putri Gubenur Kalbar ini, diberi deadline untuk mencari bakal calon pasangan dan membangun koalisi bersama partai lain

Namun yang menarik, Partai Demokrat dengan 9 kursi sampai hari ini belum mengumumkan siapa saja jagoannya. Belakangan santer terdengar nama Suryadman Gidot (Bupati Bengkayang) sekaligus Ketua DPD Demokrat Kalimantan Barat ikut menguat.  “Kewenangannya tetap saja berada di DPP Demokrat. Siapapun direkomendasikan Demokrat, tentu bakal calon kepala daerah terbaik,” ucapnya.

Partai lain seperti PAN (6), PPP (4), PKPI (3), Hanura (3) juga masih bersikap dan menunggu bangunan koalisinya. “Partai-partai tersebut bisa the last minute juga menggumumkan bakal calon kepala daerah. Bisa ada kejutan juga,” kata dia. (den)

Berita Terkait