Karam setelah Oleng

Karam setelah Oleng

  Sabtu, 5 March 2016 10:19
EVAKUASI: Evakuasi KMP Rafelia di Selat Bali, kemarin. MUHAMMAD TAN REHA/JAWAPOS

Berita Terkait

”BAPAK, sepeda motor kita tergenang!” teriak Nova Sari, 7, warga Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, kepada sang ayah, Januri, 51. Ketenangan dalam Kapal Motor Penumpang (KMP) Rafelia II pun pecah. Gempar.

Penumpang kapal yang tengah mengarungi Selat Bali, tepatnya dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, tersebut panik. Termasuk Januri dan sang istri yang saat itu tengah bermain bersama anaknya yang lain yang masih berusia 1,5 tahun.

Januri dan para penumpang lain berusaha mencari tahu kebenaran ucapan gadis kecil yang kala itu mengenakan seragam olahraga SDN Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, tersebut. Situasi semakin mencekam ketika para penumpang mengetahui air laut sudah menggenangi dek kapal tersebut.

Para penumpang pun berupaya menyelamatkan diri. Oleh kru kapal, seluruh penumpang diarahkan ke emergency station. Sejumlah kru kapal bahu-membahu membagikan pelampung dan mengarahkan penumpang keluar dari kapal.

Tidak lama berselang, pukul 12.50, KM Rafelia II oleng dan akhirnya tenggelam di selat yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali tersebut.

Saat kapal hendak tenggelam, banyak penumpang yang memilih posisi di ketinggian untuk menyelamatkan diri. Banyak juga penumpang yang menceburkan diri ke laut saat kapal akan tenggelam karena panik.

Akbar Fitrianto, 16, salah seorang kernet truk pengangkut batu bara yang hendak menyeberang ke Banyuwangi, sempat merasa sangat enggan tidur di dalam kendaraan. Padahal, biasanya ketika truk naik ke kapal, dia memilih tidur di bangku belakang sopir.

Tetapi, entah kenapa, saat KMP Rafelia II yang mengangkut kendaraannya mulai mengangkat jangkar, dia justru memilih duduk di dek atas bersama penumpang lain. Ternyata, pilihannya duduk bersama para penumpang itu sebuah firasat.

Beberapa saat berjalan, kondisi kapal tidak terkendali. Kapal yang sarat muatan kendaraan roda empat dan roda dua itu tiba-tiba oleng. Air laut pun dengan perlahan tapi pasti memasuki lambung kapal, lalu merambat ke seluruh bagian kapal. Akbar yang kebetulan berada di kursi yang dekat dengan kotak pelampung langsung mengambil rompi pelampung dan menceburkan diri ke dalam air bersama penumpang lain. Dia akhirnya selamat setelah ada kapal yang menolongnya dengan sebuah tali yang dilempar kepadanya.

 

Upaya Penyelamatan

Rafelia II yang sarat muatan penumpang dan kendaraan tenggelam tidak jauh dari Pelabuhan ASDP Ketapang. Lokasi karamnya kapal milik PT Bahari Dharma Utama itu berada 400 meter dari bibir pantai di belakang Hotel Banyuwangi Beach, Desa Ketapang, Kalipuro.

Jumlah kendaraan yang diangkut adalah 4 pikap, 4 minibus, 1 truk besar, dan 18 tronton. Tiga orang masih hilang. Yakni, Masruroh, 25; dan Romlan, 1,8 bulan; warga Desa Olehsari, Glagah; serta Bambang S.A. (nakhoda kapal).

Sementara itu, penumpang yang bisa dievakusi, menurut Kapolres Banyuwangi AKBP Bastoni Purnama, hingga kemarin sekitar 68 orang.

KMP Rafelia II berangkat dari Pelabuhan Gilimanuk tepat pukul 12.05. Di tengah perjalanan, kapal tiba-tiba saja miring. Diduga, kapal mengalami kebocoran lambung. Anak buah kapal (ABK) langsung menghubungi pihak syahbandar. Oleh pihak syahbandar, KMP Refalia II diimbau untuk menepi ke pantai terdekat. Kapal-kapal lain yang posisinya terdekat juga diimbau mendekat ke lokasi tenggelam untuk proses evakuasi.

Tepat pukul 12.40, posisi kapal berada 400 meter dari bibir pantai di belakang Hotel Banyuwangi Beach, Desa Ketapang, Kalipuro, atau tepatnya dekat mercusuar PLN. Kapal yang sudah miring ke kiri langsung tenggelam dalam waktu sekejap, yakni selama 15 menit. ”Saya tadi pas berada di tengah mau melaut. Kapal itu sudah miring dari jauh. Tiba-tiba langsung tenggelam kapalnya. Nggak sampai setengah jam, kapal hilang ke dalam laut,” ujar Eko Saputro, 29, warga Kelurahan Bulusan.

Proses evakuasi korban dilakukan petugas dari Basarnas, Polair, TNI-AL, KUPP Ketapang, dan dibantu para nelayan setempat.

Seluruh penumpang selamat dievakuasi ke pinggir pantai di belakang Hotel Banyuwangi Beach. Wajah para penumpang selamat tersebut sangat panik. Ada pula anggota keluarga yang menangis histeris saat mengetahui keluarganya menjadi korban kapal tenggelam. ”Saya tadi tidur, kemudian terbangun karena suasana di dalam kapal panik. Kami diinstruksikan pakai pelampung. Kemudian, saya dan penumpang lain naik ke atas. Kapal langsung tenggelam dengan cepat,” kata Nyoman Tayun, 49, korban selamat sopir truk asal Singaraja, Bali, yang menumpang KMP Refalia II.

Setelah dievakuasi ke pinggir pantai, seluruh penumpang selamat dibawa ke aula ASDP Ketapang untuk diberi perawatan. Sementara itu, korban yang mengalami luka cukup parah dievakuasi menuju rumah sakit terdekat.

Belum ada data valid tentang jumlah korban, baik selamat maupun hilang. Sebab, ada perbedaan jumlah penumpang di dalam daftar manifes kapal dengan korban yang bisa diselamatkan.

Kepolisian juga belum bisa memberikan keterangan soal penyebab tenggelamnya kapal. Apakah ada dugaan bocor atau kelebihan muatan, kepolisian belum memastikan. ”Penyebab belum diketahui. Masih akan kami koordinasikan dengan pihak Basarnas, ASDP, syahbandar, TNI-AL dan pihak-pihak terkait. Fokus kami evakuasi dulu sampai data benar-benar valid,” tegas Kapolres Banyuwangi AKBP Bastoni Purnama. Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Christine Hutabarat menepis dugaan kebocoran kapal. Dia menegaskan, penyebab kapal tenggelam masih belum bisa diketahui. Pihaknya akan sepenuhnya menyerahkan penyelidikan kepada pihak berwenang. ”Kami fokus dalam proses evakuasi penumpang,” tegasnya. (tfs/sgt/JPG/c6/sof)

Berita Terkait