Kapal Perang Siaga di Pontianak

Kapal Perang Siaga di Pontianak

  Minggu, 27 March 2016 09:43
SANDAR: KRI Lemadang 632 saat bersandar di Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) XII Pontianak. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK- KRI Lemadang 632 disiagakan di dermaga Pangkalan Utama TNI AL ‎(Lantamal) XII Pontianak. Kapal patroli jenis kapal cepat ini ‎berada di Pontianak sejak tiga hari lalu.

Menurut informasi, kapal perang milik TNI AL ini  akan melakukan patroli di Perairan Natuna menyusul insiden penabrakan kapal illegal fishing oleh kapal coast guard China saat ditangkap Kapal Patroli HIU 011 milik KKP di perairan Natuna beberapa hari lalu. 

Namun hal itu dibantah oleh Kadispen Lantamal XII Pontianak Kapten (Laut) Sitho P Yudhoajie. Menurut Sitho, kapal perang tersebut disiagakan di Pontianak dalam rangka pengaman‎an kunjungan kerja Presiden RI Joko Widodo bersama rombongan di Kalimantan Barat. 

"Kapal ini untuk pengamanan bapak Presiden. Sekarang masih menunggu perintah kepulangan ke Koarmabar (Komando Armada RI Kawasan Barat, red)," ujar Kadispen Lantamal XII Pontianak Kapten (Laut), Sitho P Yudhoajie‎.

Selama berada di dermaga Lantamal XII Pontianak, kata Sitho, KRI Lemadang 632 akan menerima kunjungan anak-anak sekolah, sekaligus mengisi logistik untuk persiapan ke Koarmabar.

KRI Lemadang 632 adalah salah satu dari empat ‎kapal dari kapal patroli jenis kapal cepat kelas Todak milik TNI AL. Kapal ini bertugas sebagai armada patroli cepat yang beroperasi di laut dangkal, dan sebagai kapal perang antikapal permukaan.

KRI Lemadang 632 ini memiliki karakteristik, di antaranya, berat benaman sekitar  447 ton, Panjang; 58.10 meter (190.62 ft), Lebar;  7.62 meter (25.00 ft), Draft;  2.85 meter (9.35 ft), Tenaga penggerak;  MTU 2 x 3.025 HP, Kecepatan    ; 15 knot (ekonomis), 20 knot (jelajah), 30 knot (maksimum), jumlah awak kapal; 51 orang dan persenjataan elektronik;  DR-3000 intercept dan Decoy Dagie RL.

Sebelumnya kapal patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan menangkap KM Kway Fey di perairan Natuna. Kapal asal Tiongkok itu diduga kuat sedang menangkap ikan secara ilegal di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.

Kapal milik KKP, yakni KP Hiu 11, mendatangi kapal motor itu dan mengamankan delapan awak buah kapal (ABK). Saat KM Kway Fey akan dibawa petugas KKP, tiba-tiba datang kapal coast guard Tiongkok.

Kapal itu menabrak KM Kway Fey. Dugaannya, agar kapal ikan itu tidak bisa dibawa ke daratan Indonesia. Untuk menghindari konflik, petugas KKP meninggalkan Kway Fey dan kembali ke KP Hiu 11. 

Lantamal XII Pontianak memiliki tanggungjawab yang berat dalam mempertahankan kedaulatan laut RI. Posisi Pontianak yang berhadapan langsung dengan Laut China Selatan atau masuk dalam Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I. Dimana Laut China Selatan ini berbatasan dengan negara tetangga Malaysia, dan negara lainnya di ASEAN.

Dikutip dari artikel yang ditulis oleh Jenderal Moeldoko di Wall Street Journal, Laut Cina Selatan,  telah menjadi fokus dari sengketa maritim di Asia. Dua dari negara penuntut adalah Cina dan Taiwan, sementara empat lainnya – Brunei, Malaysia, Filipina dan Vietnam – adalah anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Meskipun ASEAN sendiri sebagai organisasi bukan salah satu pihak yang bersengketa, organisasi inimemiliki kepentingan agar sengketa di kawasannya diselesaikan dengan damai tanpa memengaruhi kebebasan navigasi internasional.

Indonesia juga memiliki posisi yang sama. Indonesia bukan pihak yang menuntut dalam sengketa ini, namun negara kami akan terkena imbas jika terjadi konflik di Laut Cina Selatan karena interpretasi dari “nine-dash line”atau sembilan garis terputus di peta Cina, yang mengklaim sekitar 90% dari perairan yang luasnya 3,5 juta kilometer persegi (atau 1,35 juta mil persegi). Karena kepentingan strategis dan ekonomis dari perairan tersebut, maka isu ini telah menjadi permasalahan internasional yang juga melibatkan Amerika Serikat.

Oleh karena itu, Indonesia merasa terganggu karena Cina telah memasukkan sebagian dari Kepulauan Natuna dalam sembilan garis terputus tersebut, yang berarti menyatakan sebagian dari provinsi Kepulauan Riau masuk ke wilayahnya. Garis terputus tersebut terlihat di paspor warga negara Cina yang baru diterbitkan. Kepulauan yang termasuk di sini terletak di pesisir barat laut Kalimantan.

Tentara Nasional Indonesia telah memutuskan untuk meningkatkan kekuatannya di Natuna. (arf)

Berita Terkait