Kapal Nelayan Luar Kalbar Rusak Lingkungan

Kapal Nelayan Luar Kalbar Rusak Lingkungan

  Jumat, 9 December 2016 09:30

Berita Terkait

Nelayan Lokal Terancam Kehilangan Hasil Tangkapan

PONTIANAK – Masuknya ratusan kapal besar nelayan luar Kalimantan Barat ke perairan Pulau Datuk, membuat sejumlah nelayan asal Kalbar resah. Mereka merasa dirugikan karena kapal besar tersebut telah mengambil ikan yang semestinya menjadi hasil tangkapan mereka. Bahkan telah merusak lingkungan perairan Kalbar karena mereka menggunakan alat tangkap cantrang.

Berdasarkan pengakuan dari sejumlah nelayan asal Kalbar yang beroperasi di daerah perairan Pulau Datuk, selama lima tahun terakhir, mereka telah diganggu oleh masuknya ratusan kapal besar nelayan dari jawa yang menggunakan alat tangkap cantrang di area di mana mereka biasa melaut.

Menurut Natsir (48), salah seorang nahkoda kapal nelayan cumi berukuran 10 gross ton asal Kalbar, kapal besar nelayan berukuran rata-rata lebih dari 50 fross ton itu mulai masuk ke perairan Kalbar sejak lima tahun lalu. Pada bulan-bulan tertentu kapal besar itu masuk menuju perairan Kalbar dan secara tidak langsung mencaplok area di mana ia dan sejumlah nelayan lain biasa beroperasi. “Dan telah diketahui, mereka menggunakan alat tangkap cantrang,” katanya Kamis (8/12) kemarin.

Secara langsung, sejak kedatangan mereka, produktivitas tangkapan nelayan cumi pun menurun drastis. Sebelum kedatangan kapan nelayan tersebut, ia biasa mendapatkan hasil tangkapan hingga 15 ton cumi dalam tiga bulan melaut. Kini, mendapatkan 10 ton cumi saja sudah sangat sulit. Alhasil, pendapatan para nelayan pun anjlok.

Kapal-kapal besar itu menurutnya telah merusak habitat di perairan tersebut. Penggunaan alat tangkap cantrang oleh kapal besar tersebut telah merusak habitat cumi untuk berkembang biak. “Setelah menangkap dan merusak, mereka pergi. Setiap tahun seperti itu,” katanya.

Ia dan sejumlah nelayan yang biasa beroperasi di perairan Pulau Datuk pun mempertanyakan izin dari kapal besar nelayan dari Luar Kalbar tersebut. Bagaimana mungkin, kata Natsir, selama lima tahun mereka terus dibiarkan masuk dan mengambil hasil tangkapan yang seharursnya menjadi hasil tangkapan mereka.

Ia berharap dalam waktu dekat pemerintah dan aparat terkait dapat merespon keluhan mereka tersebut. Jika tidak, tangkapan nelayan akan semakin tergerus. Bahkan, ikan di perairan tersebut berpotensi habis di tahun-tahun mendatang.

Apalagi, Menteri Susi mengeluarkan (Permen) Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015 tentang Larangan Penggunaan Pukat Hela (Trawl) dan Pukat Tarik, semakin banyak pula kapal besar nelayan dari luar Kalbar yang masuk ke perairan tersebut.

Menurutnya, seharusnya izin mengenai kedatangan nelayan dari luar Kalbar itu diperketat. “Kalau mereka yang aslinya berasal dari pulau Jawa, mengapa mereka harus sampai beroperasi ke daerah kami? Bagaimana perizinannya,”  tanyanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kalimantan Barat, Bani Amin, mengatakan ia sudah beberapa kali menerima keluhan dari para nelayan yang beroperasi di perairan Pulau Datuk tersebut. Kedatangan nelayan luar Kalbar yang menggunakan kapal besar dan alat tangkap cantrang itu sangat merugikan nelayan Kalbar.

Dan, barang tentu penggunaan alat tangkap cantrang oleh nelayan dari luar Kalbar itu telah melanggar undang-undang No 45 tentang perikanan maupun Permen Kelautan dan Perikanan No 2/2015 karena alat tangkap itu akan merusak sumber daya perikanan.

Kapal-kapal nelayan dari luar Kalbar ini, berdasarkan keterangan nahkoda kapal yang ada Kalbar, sangat mengganggu bahkan menggangu bahkan telah mengurangi hasil produksi mereka. Ditakutkan, di tahun mendatang, sumber daya perikanan di daerah tersebut bisa habis.

Sampai saat ini nelayan sudah terlampau resah dengan kehadiran kapal nelayan yang merusak tersebut. Apabila dibiarkan berlarut-larut, ditakutkan akan terjadi konflik antar nelayan di laut. “Kami sudah meminta kepada para nelayan untuk tidak melakukan tindakan anarkis dan menunggu hingga kasus ini segera diselesaikan,” terangnya.

 

Ikan Terancam Habis

 

Menurutnya, tidak ada keseriusan oleh pemerintah untuk menindaklanjuti kasus ini. HNSI berharap, jangan nelayan kecil yang terus ditekan dengan mengirim tudingan bahwa mereka yang menjadi biang kerok atas rusaknya sumber daya perikanan di Kalbar.

Nelayan yang ada di Kalbar, menurut Bani, ialah nelayan yang menggunakan kapal berukuran di bawah 10 gross ton. Para nelayan ini tidak merusak lingkungan dengan alat tangkap mereka karena mereka beroperasi di daerah laut lepas. Bukan di daerah karang.

Sampai saat ini ia belum melihat kasus ini sampai naik ke proses pengadilan. Malah, kapal nelayan asli Pulau Jawa yang menggunakan alat tangkap cantrang dan beropasi di perairan Kalbar semakin bertambah. “Belum ada proses penegakan hukumnya,” terang Bani.

Ia berharap kedepannya kapal-kapal nelayan yang berasal dari luar Kalbar yang menggunakan alat tangkap cantrang itu bisa segera ditindaklanjuti. “Karena kan jelas pelarangannya,” katanya. Bagaimana caranya agar pengawasan di laut bisa ditingkatkan. “Agar mereka bisa menindak kapal nelayan nakal ini,” tambahnya lagi.Bani melanjutkan, selama dua tahun terakhir, nelayan Kalbar pun mengalihkan area tangkapan mereka ke daerah perairan Pulau Natuna, Selat Karimata dan sebagian di Laut Cina Selatan. Mereka terpaksa pindah karena hasil tangkapan di perairan Pulau Datuk lambat laun semakin berkurang. Bahkan hampir habis.

Jangan sampai daerah perairan Kalbar akhirnya bernasib sama dengan daerah perairan di Thailand dan Vietnam. “Di sana ikannya sudah habis karena lingkungannya rusak,” katanya. (mif)

 

Berita Terkait