Kantongi Rupiah dari Kerajinan Sampah

Kantongi Rupiah dari Kerajinan Sampah

  Sabtu, 6 February 2016 09:03
KERAJINAN KERTAS BEKAS: Thea Ananda (20 tahun) bersama rekannya berkreasi membuat paper bag MARSITA/PONTIANAK POST

Berbagai cara bisa dilakukan untuk mendapatkan uang yang halal. Tentu saja seseorang harus bisa berpikir inovatif dan kreatif. Salah satunya dengan menghasilkan kerajinan rumah tangga yang berbahan utama barang bekas atau sampah. Marsita Riandini

PAPER bag saat ini menjadi salah satu tren yang berkembang diseluruh dunia. Salah satu alasan menariknya, paper bag juga digunakan untuk mengkampanyekan penggunaan bahan-bahan yang ramah lingkungan.Ditambah saat ini sejumlah daerah di Indonesia telah menerapkan aturan jika penggunaan kantong plastik tak lagi gratis yang dimulai sejak Februari 2016.  Supermarket dan retail sejenisnya akan mengenakan biaya tambahan untuk membeli kantong plastik belanja. Tentu saja paper bag menjadi peluang menjanjikan bagi para pengrajin.

Ini pula yang menjadi alasan Anong Thea Ananda ( 20 tahun) yang berkreasi membuat paper bag. Tas terbuat dari bahan kertas ini dibuatnya bersama empat orang temannya. “Awalnya itu saya khan volunteer di WWF. Mereka minta bantu membuat paper bag. Nah dari situ dikasi modal 100 ribu untuk membali bahan baku,” jelasnya.Bahan utama yang digunakan adalah koran. Tak sulit mencari koran, sebab kata dia rata-rata didapat dari orang terdekat yang langganan koran. “Ada dari teman, keluarga, jadi mencari bahan bakunya gampang,” ulas dia.

Hal lain yang diperlukan,lanjut dia adalah beli staples, lem, dan bahan lain pendukung pembuatan paperbag.  “Untuk tali pembuatannya masih menggunakan tali rapiah,” tambahnya.Meskipun paper bag yang dibuatnya masih tergolong sederhana, namun tas jinjing tersebut cukup diminati, terutama di kalangan mahasiswa. “Jualnya sih masih kalangan mahasiswa, belum sampai meluas,” ujar dia.

Tas hasil buatannya ini, lanjut dia harapkan dapat mengganti kantong kresek. Masyarakat pun semakin peduli dengan lingkungan. “Tas ini sebenarnya untuk pengganti kresek. Jadi lebih ramah lingkungan.”Namun, diakuinya ada kelemahannya, terutama tidak bisa untuk membawa beban yang terlalu berat. “Tas yang dibuat ini paling untuk beban berat  3-4 kilogram,” jelas dia.Bila diseriusi, lanjut dia usaha ini cukup menjanjikan. Sayangnya saat ini dia dan teman-temannya masih terfokus pada kuliah. “Cukup menjanjikan, tetapi kendalanya masih mahasiswa khan, jadi masih fokusnya masih untuk kuliah,” ucapnya.

Kendala lainnya, membutuhkan keterampilan dibidang desain yang baik agar menarik banyak peminat. “Khan kami dari Fakultas Kehutanan, jadi belum memahami betul desain menarik seperti apa,” ucap dia.Proses pembuatannya terbilang mudah. Cukup sediakan kerta yang kemudian dilipat berbentuk persegi, kemudian di lem dan di staples. “Untuk dasarnya gunakan bahan yang lebih keras agar tas lebih tahan terutama pada benda yang lebih berat,” jelasnya yang menyarankan bisa menggunakan kotak bekas.

Tas buatannya ini cukup tahan lama, bahkan kata dia lebih awet dari paper bag biasa. “Sebab kita pakai 4 lapis koran. Kalau bawa buku banyak masih mampu. Cuma kalau kema hujan, hancur,” terang dia yang mengerjakannya di sela-sela kuliah.Satu paper bag kecil dihargai Rp. 2500 rupiah, sementara untuk ukuran yang lebih besar Rp. 3000 rupiah. “ Harapan kami masyarakat Pontianak khususnya lebih bijak dalam menggunakan produk. Terutama yang ramah lingkungan, kalau bukan kita yang menjaga siapa lagi, “ pungkasnya. (*)