Kanker Serviks, 80 Persen Sudah Stadium Lanjut

Kanker Serviks, 80 Persen Sudah Stadium Lanjut

  Minggu, 20 December 2015 14:10

Berita Terkait

KANKER serviks merupakan kanker yang menyerang leher rahim. Kanker yang satu ini tidak bisa dianggap enteng, sebab jumlah pengidapnya cukup banyak di Indonesia. Demikian yang disampaikan oleh dr. Manuel Hutapea, Sp. OG (K) kepada For Her. “Kalau secara global, kanker terbanyak itu kanker payudara. Tetapi di negara berkembang, termasuk di Indonesia terbanyak adalah kanker serviks. Sementara kalau di negara maju sudah bergeser, paling banyak itu kanker indung telur dan kanker rahim,” paparnya yang menyebutkan ada banyak kelompok kanker yang bisa diidap oleh perempuan.

Di Pontianak, lanjut dia berdasarkan praktek sehari-hari dan kunjungan ke rumah sakit, persentase penderita kanker serviks lebih kurang 60 -  70 persen. “Sayangnya mereka yang datang itu sudah stadium lanjut, yang tidak bisa dioperasi lagi. Ini mencapai 80 persenan,” papar dokter di Rumah Sakit Soedarso ini ketika ditemui di Seminar  Sehari Penyakit Tak Menular  yang diadakan Dinkes Propinsi Kalbar, belum lama ini.

Virus Human Papilloma menjadi penyebab terbesar kanker serviks. Sementara gaya hidup tidak menjadi faktor penyebab,  melainkan faktor resiko. “Seperti orang yang berhubungan seks terlalu dini, misalnya dibawah 17 tahun, kemudian mempunyai anak yang banyak bisa tiga empat, merokok, gonta ganti pasangan seks. Ini sangat beresiko,”katanya. Sementara itu, siklus menstruasi yang tidak teratur tidak bisa dikorelasikan dengan kanker serviks. Tetapi ini menginformasikan ada gangguan haid. Disisi lain kata dia, mungkin saja keluhan tersebut mengarah pada kanker serviks.  

Dari data yang ada, baik yang bisa didapatkan di literatur atau jurnal luar negeri maupun penelitian dalam negeri, termasuk pengalamannya sendiri, kelompok usia terbanyak penderita kanker serviks berusia 35 sampai 45 tahun. “Dia bisa bergeser lima tahun menjadi 50 tahun. Tetapi jarang ada yang terkena dibawah usia 25 tahun, dan di atas 60 tahun,” ujarnya.

Ancaman dari kanker serviks, lanjutnya bisa sampai mematikan. Itulah sebabnya semakin cepat deteksi, semakin cepat pemulihannya. “Kalau sudah stadium lanjut, maka bukan lagi ditanya bisa disembuhkan atau tidak, melainkan yang diukur angka ketahanan hidup lima tahunnya,” paparnya.

Manuel menjelaskan jika seseorang  sudah terdiagnosis kanker serviks lanjut yaitu IIB ke atas, dia punya angka ketahanan hidup lima tahun itu tidak sampai lagi 70 persen. “Jadi memang sangat bergantung stadium. Kalau sudah stadium tiga, angka ketahanan hidup 5 tahunnya hanya 30 -  40 persen, kalau stadium 4 cuma 15-30 persen. Tapi ingat, berapa lama lagi orang hidup di dunia itu bukanlah ditentukan oleh dokter,” jelas dia yang mengatakan bahwa sekarang sudah bisa dilakukan diagnosis pra kanker. Pada tahapan ini akan memberikan harapan yang baik untuk proses penyembuhan.

 

 

Cegah dengan Vaksin

Pencegahan terjadinya kanker serviks, bisa dilakukan dengan primer maupun sekunder. “Primer itu sebelum terinfeksi faktor penyebab. Pencegahannya dengan pemberian vaksin. Vaksinnya bisa didapat di rumah sakit. Sementara sekunder itu dengan pap smear, iba, dan cara screening atau dengan metode lainnya,” urainya.

Dia menyarankan, sebelum vaksin pastikan kondisi tubuh. Apakah sudah terinfeksi virus penyebab kanker serviks atau belum. Makanya pemeriksaan harus dilakukan di tenaga kesehatan yang tepat. “Sementara untuk pap smear memang dilakukan pada wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual. Baik yang sudah menikah atau pun belum. Kenapa yang belum pernah melakukan hubungan seksual tidak boleh? Sebab proses pemeriksaannya itu berkenaan dengan liang vagina pada wanita,” terangnya.

Tak perlu khawatir melakukan pemeriksaan ini, sebab kata Manuel, pemeriksaan ini tidak sakit, sangat santai, rileks, dan tidak menimbulkan efek yang berbahaya. “Dilakukan di ruangan tertutup, sebab ini berkenaan dengan organ genital klien,” pungkasnya. (mrd)

Berita Terkait