KALIJODO

KALIJODO

  Sabtu, 12 March 2016 11:40   801

Oleh Drs Ferry Yasin 

KAWASAN Kalijodo, konon dulu tempat muda-mudi di tepian kali bertemu dan mendapat jodoh. Beberapa tahun kemudian, ternyata, tempat itu malah menjadi ajang mereka yang sebenarnya telah dikaruniai Tuhan jodohnya, secara sadar atau tidak malah merusak hubungan itu. Bukan tempat prostitusi terbesar di negeri ini, memang, tetapi Kalijodo terlanjur mendapat predikat dunia hitam yang paling kelam  dan nista. Seolah tidak ada kekuatan lain yang bisa membungkamnya, bertahun-tahun Kalijodo melenggang sempurna, demi aktivitas prostitusi dan premanisme, dibumbui minuman keras dan narkoba.

Kini ia terhenyak dari tidur panjang dan mimpi-mimpi indahnya. Enam ribu aparat diterjunkan merangsek  area itu atas nama ruang terbuka hijau (RTH). Setelah sekian lama seolah merasa di atas angin, kini masyarakat balik bertanya,” Hai Kalijodo dimana sengatmu?” Kalijodo tumbang dan tidak akan lama lagi kita bakal melihat taman pepohonan dan area bermain anak-anak serta tempat yang asri dan nyaman untuk bersantai dan lari pagi bagi masyarakat.

Kalijodo mungkin bakal menjadi kenangan, tetapi penyebab masalah dan dampak sosial dari fenomena itu adalah tugas kita bersama untuk menyikapi membenahi. Paling tidak ada beberapa hal yang kita bisa cermati dari fenomena Kalijodo ini, dan semoga bisa menjadi perhatian dan permakluman bagi para pemangku kepentingan serta masyarakat yang berkesadaran.

Kalijodo adalah contoh ekses dari sebuah urbanisasi besar-besaran menuju ke kota dan kota besar. Dewasa ini penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan diperkirakan telah mencapai 54 persen. Jika saat ini penduduk Indonesia sudah lebih dari 240 juta, itu berarti 129.6 juta orang yang menyesaki perkotaan. Angka ini melambung tinggi dibandingkan hasil sensus penduduk 2010. Saat itu, sebanyak 49.8 persen dari 237.6 juta penduduk Indonesia yang tinggal di kota.

Daya tarik kota dan daya dorong desa, menyebabkan urbanisasi masyarakat desa yang tidak dibarengi dengan modal dasar. Tiadanya ketrampilan yang memadai, tak adanya pendidikan formal yang cukup, nihilnya modal untuk memulai usaha di kota serta tak adanya koneksi dan relasi saudara di kota, ditambah dengan sengitnya persaingan, menyebabkan tersisihnya banyak orang di tepian arena, menjadi kaum yang marjinal, kaum papa, pengangguran, mereka yang hidup lontang-lantung. Tak heran kota banyak dipenuhi slums area yang pada akhirnya mengokupasi banyak lahan kosong termasuk RTH.

Meningkatnya jumlah penduduk dipicu oleh urbanisasi dan perubahan desa menjadi kota. Urbanisasi jelas merupakan persoalan semenjak Orde Baru dan sampai kini belum ada resep jitu mengatasinya. Sedangkan perubahan desa menjadi kota disebabkan banyak hal, mulai dari meningkatnya jumlah dan kepadatan penduduk, aktivitas ekonomi yang tak lagi mengandalkan pertanian, hingga makin mantapnya infrastruktur.

Namun, banyak pemerintah kota yang tak siap dengan perkembangan kotanya. Kurangnya sumber daya manusia dan ketersediaan infrastruktur membuat banyaknya jumlah penduduk kota malah menjadi tekanan. Kalijodo merupakan contoh pembiaran selama bertahun-tahun lahan yang harusnya sesuai peruntukkannya, serta pemerintah gagap dalam mengantisipasi serbuan mereka yang unskilled datang ke kota. Pemerintah kota yang sekarang harus berpikir ekstra keras dan bertindak dengan kekuatan penuh melakukan law enforcement untuk mengembalikan ruang terbuka hijau yang baru 9 persen dimiliki Jakarta menjadi 20 persen.

Supaya masalah tidak akumulatif, dan meledak menjadi konflik sosial, pemerintah harus memiliki daya antisipasi yang mumpuni. Masalah sentral kota adalah ruang atau lahan. Ketika perbandingan antara lahan dan manusia sudah tidak proporsional lagi maka problema berat sebuah kota mulai mengernyitkan dahi para pemimpinnya. Oleh karena itu, sebagaimana saran Sadyohutomo, kota harus memiliki manajemen kota, yang meliputi tiga aspek, yaitu perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfatan ruang.

Perencanaan ruang adalah kegiatan atau proses penyusunan kebijakan yang bertujuan untuk pembangunan dan pemanfatan ruang kota. Perencanaan ruang harus sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku sesuai dengan letak daerah itu. Dan, yang lebih penting, perencanaan itu harus disosialisasikan ke masyarakat supaya tahu. Pemerintah tak boleh pelit informasi tentang yang satu ini dan harus bersikap tranparan.

Pemanfaatan ruang berkaitan dengan tata guna lahan. Pemanfaatan ruang dalam tata guna lahan harus sesuai dengan fungsi lahan, sehingga keseimbangan antara lingkungan dan manusia yang mengelola dapat seimbang. Sedangkan fungsi terakhir yaitu pengendalian pemanfataan tata ruang. Tujuannya adalah supaya lahan yang ada sesuai dengan fungsinya agar lahan tidak dialihfungsikan untuk kegiatan manusia.

Berita tentang Kalijodo adalah monumental sekaligus kontroversial. Monumental, berarti dari Kalijodo-lah semua pelanggaran terhadap ruang terbuka hijau di Jakarta akan dibenahi dan ditertibkan secara lebih gencar. Okupasi masyarakat sebagian besarnya terjadi di daerah bantaran sungai dan kali, situ-situ dan waduk yang ada di kota besar itu. Monumental, itu juga harus menjadi awasan dan amaran pemerintah daerah untuk dengan ketat melaksanakan tiga aspek manajemen kota itu secara arif, bijaksana dan strict serta manusiawi yang tentunya environmentally friendly. Kontroversial, membersitkan sebuah pertanyaan mengapa baru sekarang, mengapa dengan cara-cara seperti itu. Sebuah wacana yang diselimuti sedikit penyesalan dan diwarnai perbedaan pendapat serta kontroversi.

DRS. FERRY YASIN
SMA TARUNA BUMI KHATULISTIWA
KAB.KUBU RAYA