Kaligrafi Memberi Perasaan Rileks

Kaligrafi Memberi Perasaan Rileks

  Selasa, 11 Oktober 2016 09:30
Veronika Halim

Berita Terkait

Menulis dengan tangan semakin jarang dilakukan pda era digital sekarang. Tetapi, tak ada salahnya mencoba seni tulis tangan dekoratif atau kaligrafi. Seperti yang Veronica Halim, yang jatuh hati pada kaligrafi.

Veronica mengenal kaligrafi ketika berkuliah desain grafis di Swinburne University of Technology, Melbourne. Kaligrafi merupakan salah satu kelas favoritnya. Namun, setelah lulus, perempuan kelahiran Singapura, 4 Oktober 1983, lama tak menyentuhnya. Ia dan suaminya memilih merintis merintis Shft Inc, studio desain grafis yang mengerjakan project corporate branding, packaging, dan website.

Sekitar awal 2013, tiba-tiba Veronica merasa rindu menggerakkan tangan terampilnya untuk membuat kaligrafi. “Akhirnya mulai mendalami kaligrafi lagi setelah lama nggak pegang pena,” ujar Veronica..

Apakah harus punya tulisan tangan yang sangat bagus untuk bisa menulis kaligrafi dengan indah? ”Tidak kok, tulisan tangan saya sehari-sehari juga tidak terlalu rapi,” kata istri Steve Budihardjo itu, lantas tersenyum. 

Sebab, yang berperan dalam pointed pen calligraphy itu adalah bonding dengan pena. Hal dasar yang dipelajari adalah cara memegang pena, basic stroke (sapuan pena), serta kontrol titik tekanan pada pena. ”Di bagian mana harus lebih ditekan, di mana yang lebih ringan seperti melayang,” urainya. Perlu latihan yang cukup sering untuk membuat tangan makin terbiasa. Kemudian, ketika sudah bisa mengontrol pena dan prinsip stroke, tahap berikutnya adalah mendalami alfabet. 

“Mengatur komposisi juga penting,” ucap Veronica. Dia mencontohkan, antara copperplate style dan modern font. Untuk copperplate, harus benar-benar presisi dan konsisten jarak antarhuruf, kemiringan, dan angle-nya.

Sementara itu, modern font style lebih bermain ritme, bebas, dan abstrak. “Meski ada panduan tiap jenis alfabet, masing-masing kaligrafer pasti punya style tersendiri,” papar Veronica. 

Kemudian, elemen flourishing atau ornamen huruf yang merupakan eksplorasi bebas sang kaligrafer.

Bagi Veronica, kaligrafi merupakan keseimbangan yang memberinya perasaan rileks. Ketika merasa jenuh dengan rutinitas mendesain yang sehari-hari dilakukan, dia melarikan diri ke kaligrafi. ”Buat saya kaligrafi itu meditatif, ketika cuma fokus ke tulisan, nggak mikirin yang lain-lain. Meski kata teman-teman, kalau buat mereka makin stres, hahaha,” ungkap Veronica yang sudah tiga setengah tahun mendalami kaligrafi. 

Karya-karyanya bisa ditengok di Instagram @truffypi. Aplikasi kaligrafi bisa diwujudkan dalam banyak media. Salah satunya, undangan. Dari awalnya membuatkan undangan untuk saudara sendiri yang menikah, akhirnya banyak yang tertarik dan request pun berdatangan. Seiring dengan tren

intimate wedding dan barang-barang handmade, makin banyak yang menginginkan tulisan artistik karya tangan Veronica. 

Untuk desain undangan dengan kaligrafi, prosesnya setelah ditulis, di-scan, kemudian dicetak. ”Tapi, nama tamu tetap ditulis tangan. Pernah sampai 350 undangan dalam waktu sebulan,” kata Veronica sembari menunjukkan desain undangan pernikahan bernuansa biru laut dengan goresan kaligrafinya. (nor/c7/ayi/JP)

Berita Terkait