Kalbar Sambut Gerhana Matahari Total

Kalbar Sambut Gerhana Matahari Total

  Selasa, 16 February 2016 14:00

Berita Terkait

PONTIANAK - Peristiwa langka gerhana matahari total (GMT) bakal terjadi di Indonesia pada Rabu, 9 Maret 2016. Gerhana matahari total akan bisa disaksikan di 11 provinsi. Yaitu Kalimantan Barat, Bengkulu, Sumatra Selatan, Jambi, Bangka-Belitung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.

Balai Pengamatan Antariksa dan Atmosfer (BPAA) Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Pontianak menyatakan, khusus di Kalimantan Barat ada beberapa wilayah yang terlewati jalur gerhana matahari total. Terutama di wilayah bagian selatan Kalbar, tepatnya di sekitar Kendawangan, Manismata, Riam dan Penahan, Kabupaten Ketapang. Sementara di luar daerah tersebut hanya akan mengalami gerhana matahari sebagian (GMS). Salah satunya di Kota Pontianak.

Staf Teknis BPAA LAPAN Pontianak Hadi Rasidi menjelaskan, berdasarkan data simulasi, gerhana di Pontianak mulai terjadi pukul 06.24 (kontak pertama). Setelah itu, perlahan bulan akan mulai menutupi matahari dan terus bergerak selama satu jam dua menit sampai masuk fase maksimum. Tepatnya pada pukul 07.26.

"Saat itulah matahari di Kota Pontianak ini akan tertutup maksimal dengan intensitas 93 persen," katanya. Karena tidak tertutup 100 persen, artinya Kota Pontianak hanya akan merasakan gerhana matahari sebagian.

Setelah fase maksimum, bulan akan terus bergerak secara perlahan sampai matahari kembali terlihat penuh. Dari fase maksimum pukul 07.26, gerhana matahari akan berakhir pada pukul 08.40 (kontak terakhir).

Jika dihitung keseluruhan dari pukul 06.24 sampai 08.40, artinya gerhana di Kota Pontianak akan terjadi selama kurun waktu dua jam 16 menit. "Setiap daerah tentu akan berbeda-beda. Ini hanya prediksi dan khusus di Kota Pontianak saja," terangnya.

Hasil prediksi tersebut baru akan bisa dibuktikan kebenarannya saat pengamatan langsung pada 9 Maret nanti. Timnya akan menggelar edukasi publik dengan mengundang para stakeholder dan masyarakat umum. Melakukan pengamatan menggunakan teleskop yang bisa disaksikan secara langsung maupun streaming di intenet. "Kami sifatnya hanya melakukan edukasi, bekerjasama juga dengan Kemenag Kalbar dan IAIN yang memiliki teropong sendiri," ujarnya.

Kepala Seksi Observasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Supadio Pontianak, Sri Ningsih menjelaskan, gerhana matahari total di Kalbar akan bisa disaksikan, salah satunya di Kendawangan, Ketapang. Diprediksi durasi gerhana matahari total akan terjadi selama dua menit 19,1 detik.

Daerah-daerah lain yang teramati berupa gerhana matahari sebagian seperti di utara Sambas hingga Selatan Ketapang. Secara umum, sambungnya, gerhana matahari di Kalbar akan dimulai pada pukul 06.23. Puncak gerhana matahari terjadi pada pukul 07.28 dan akan berakhir pada pukul 08.42. Durasi gerhana teramati rata-rata di Kalbar yakni 2 jam 17 menit. Gerhana paling lama akan dialami pengamat dan masyarakat di Putusibau dengan durasi waktu gerhana selama dua jam, 17 menit, 26,8 detik.

Pada 9 Maret mendatang BPAA LAPAN Pontianak akan melakukan pengamatan gerhana. Jika cuaca mendukung pengamatan tersebut akan diselenggarakan di halaman BPAA LAPAN Pontianak. "Yang penting cuaca tidak mendung dan matahari tidak tertutup awan," katanya.

Data-data hasil pengamatan langsung tersebut nantinya bisa menjadi bahan yang dapat digunakan oleh para peneliti. "Bisa diteliti lebih lanjut, misal apa pengaruhnya terhadap perubahan antariksa dan Bumi, tugas kami hanya sebatas menjaga peralatan agar maksimal mendapatkan data," ujarnya.

Gerhana matahari total akan kembali berlangsung di tempat yang sama dalam periode 350 tahun. Sebelumnya, GMT pernah melintasi Indonesia pada 11 Juni 1983 dengan cakupan area berbeda dengan GMT 2016. Di antara 20 kejadian gerhana matahari yang terjadi antara tahun 2001 hingga 2020, hanya terdapat 1 gerhana matahari total dan 2 gerhana matahari cincin teramati di Indonesia.

Kepala BMKG, Andi Eka Sakya menjelaskan, merhana terjadi ketika matahari, bulan, bumi berada pada satu garis lurus. Sebagian bayangan bulan ini akan menutup sebagian bumi. Akibatnya wilayah-wilayah yang terkena bayangan gelap bulan, tidak terlihat matahari.

Gerhana matahari total akan menutup proses pemanasan dan ionisasi di lapisan ionosfer sehingga 'arus ionosfer' akan terganggu. ”Kejadian ini akan mengakibatkan gangguan medan magnet bumi,” ujarnya.

Andi mengatakan, posisi itu akan menyebabkan perubahan gaya tarik matahari dan bulan terhadap bumi mencapai titik maksimum. (bar/den/jpnn)

Berita Terkait