Kalau Nggak Narik Sehari, Anak dan Istri Mau Makan Apa?

Kalau Nggak Narik Sehari, Anak dan Istri Mau Makan Apa?

  Kamis, 24 March 2016 17:23
BUAH SERVIS LEBIH: Bayu Ahmad Dianto berpose untuk pengambilan gambar sebuah iklan asuransi. Dok Pribadi Bayu Ahmad Dianto

Berita Terkait

Ingar-bingar unjuk rasa yang membuat ibu kota mencekam kemarin menyisakan cerita tentang Ali, 55; Sabarudin, 39; dan Bayu, 31. Selain pengemudi angkot serta taksi konvensional dan aplikasi, mereka adalah kepala keluarga yang harus membawa pulang segepok rupiah buat anak istri setiap hari.

------------

’’Kalau lu nggak mau ikut demo, ya nggak usah narik. Ngerti kagak?’’ Teriakan belasan orang di depan mobil angkutan kota (angkot) itu membuat Ali terpaku di kursi sopir. Dia tidak bisa keluar untuk memberikan penjelasan. Pintu dan sekeliling angkotnya dikepung. Dia pun mengalah. Lalu, mesin angkot dimatikan. Setelah puas, para pelaku sweeping melanjutkan perjalanan.

Kepada Pontianak Post yang menemuinya di sudut Terminal Kampung Melayu kemarin sore, Ali mengaku kenal baik dengan para pelaku sweeping. Mereka merupakan sesama sopir yang beroperasi di rute yang sama. Namun, dia menolak ikut dalam rombongan demonstrasi. ’’Kalau nggak narik sehari, mau makan apa istri dan anak di rumah?’’ ujar Ali sambil mengelap keringat di dahinya.

Saat kejadian, angkot Ali memang sedang penuh penumpang. Namun, dia menolak disebut memanfaatkan kesempatan sepinya angkot yang beroperasi. Menurut dia, anak dan istrinya tetap harus dinafkahi. Karena itu, dia memilih tetap menjalankan tugasnya sehari-hari. ’’Bukannya nggak ikut solidaritas. Tetapi, kalau pulang demo anak minta jajan, mau beli pakai apa?’’ ujarnya.

Demo yang berlangsung anarkistis juga membuat Sabarudin, 39, pengemudi Uber dari Pamulang, Tangerang Selatan, bimbang. Bapak dua anak itu tidak mau mempertaruhkan nyawanya. Sabarudin dan beberapa temannya yang berada di sekitar Pamulang memutuskan untuk libur sejak Senin malam (21/3).

Iming-iming dari Uber yang menawarkan pendapatan dua kali lipat kalau tetap beroperasi saat jam demo tidak membuat Sabarudin beranjak menstarter mobilnya. ’’Saya nggak keluar sama sekali. Di rumah saja. Sengaja menghindari demo,’’ katanya.

Langkah itu dinilai tepat. Sebab, dari tayangan televisi kemarin, terlihat kebrutalan para sopir taksi. Anggapan yang sama muncul dari teman-temannya yang memilih libur.

Mantan sopir Angkutan Kota 106 jurusan Parung–Lebak Bulus itu sempat berdiskusi dengan teman-temannya. Hasilnya jelas, tidak ingin Uber cepat ditutup. Sebab, dia sudah menggantungkan hidupnya pada platform itu. ’’Saya baru tiga bulan. Uber dan GrabCar jangan sampai ditutup lah,’’ tegasnya.

Dia berharap pemerintah bisa segera mencarikan solusi yang sama-sama menguntungkan. Sabarudin mengaku tidak tahu apa langkah yang terbaik. Sebagai mantan sopir angkot, dia tahu bahwa pekerjaannya sama-sama bertujuan mencari makan. ’’Masalahnya sama kok, nggak setiap hari banyak penumpang,’’ katanya.

Dia mengaku pernah tekor, namun juga pernah untung. Setiap bulan, dia mendapat uang kotor Rp 6 juta–Rp 7 juta. Itu belum dikurangi biaya bensin yang setiap hari mencapai Rp 100 ribu. ’’Saya juga masih bayar cicilan mobil,’’ tuturnya.

Lantaran masih punya tanggungan itu, Sabarudin tidak ingin terus ada gesekan antara taksi dan Uber. Demo membuat kedua pihak sama-sama tidak mendapat pemasukan. Hari ini dia akan kembali mencari penumpang karena kondisi sudah kondusif. ’’Besok (hari ini, Red) sudah aman. Uber juga sudah minta jalanin seperti biasa,’’ ucapnya.

Sementara itu, smartphone biru Bayu Ahmad Dianto beberapa kali memecah konsentrasi saat berbincang kemarin. Rupanya, sopir Blue Bird itu tengah menerima banyak pesan di aplikasi messenger-nya. ’’Saya sambi memantau perkembangan teman-teman di jalanan, ya,’’ kata Bayu.

Sore itu Bayu memang sedang tidak narik taksi. Dia khawatir terhadap sweeping oleh pengemudi taksi lain yang terlibat demo besar-besaran di Jakarta. Dia memilih berdiam di pool taksinya di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk menghindari chaos.

Lajang kelahiran Kediri tersebut mungkin layak disebut bukan sopir taksi biasa. Di tengah sulitnya kondisi yang dihadapi sopir taksi konvensional, Bayu masih berjuang menyelesaikan kuliah. Belakangan, dia juga banyak dikenal karena aktivitas sosialnya yang terekam media massa.

Ya, sejak 2008, Bayu tercatat aktif sebagai pengurus Komunitas 1001 Buku. Komunitas itu bergerak menyediakan akses buku gratis dan taman baca nonprofit. Sasarannya adalah anak-anak kurang mampu yang tak bia mengakses buku bacaan berkualitas.

Melalui komunitas itu, Bayu rela menyumbangkan tenaga dan uang yang didapatnya sebagai sopir taksi. Kegiatan yang rutin dilakukan adalah mengantarkan buku ke sejumlah taman baca gratis untuk masyarakat kurang mampu di sekitar Jabodetabek.

Aktivitas itu dilakoni dengan uang pribadinya. Bahkan, tak jarang ketika menjalani rutinitas tersebut, Bayu harus rela komisinya sebagai sopir taksi berkurang. Sebab, bensin jatah dari perusahaan terpakai untuk mengirim buku.

’’Tapi, rezeki itu kan sudah ada yang mengatur seperti yang dijanjikan Tuhan,’’ ujar pria kelahiran 9 Mei 1985 itu.

Bayu mengungkapkan, dari kegiatan sosial tersebut, selalu saja ada cara Tuhan mengirimkan rezeki untuknya. Mulai tip lebih dari tamu hingga belakangan dia diapresiasi perusahaannya. Blue Bird memberikan beasiswa pendidikan untuk pria yang tengah menempuh kuliah jurusan marketing communication di Institut Bisnis Nusantara itu.

Bayu tidak menampik, sejak menjamurnya transportasi online, pendapatannya terus berkurang. Menurut dia, sebelum transportasi online hadir, komisi bersih yang didapat dari perusahaan Rp 200 ribu–Rp 250 ribu per hari. Namun, belakangan pendapatan itu melorot hingga pendapatan bersih per hari hanya Rp 120 ribu–Rp 150 ribu. ’’Malah pernah sehari hanya dapat Rp 30 ribu,’’ katanya.

Tetapi, Bayu tetap mensyukurinya. Sebab, lagi-lagi, kata dia, Tuhan kerap mengirimkan rezeki lewat jalur lain. Misalnya, tip lebih dari penumpang. Menurut Bayu, penumpang yang diantarkannya kerap memberikan tip lebih. Dia menilai hal itu terjadi karena servis yang diberikan kepada penumpang.

Perlakuan Bayu kepada penumpang memang berbeda dengan kebanyakan sopir taksi lain. Selain menjalankan standard operating procedure (SOP) perusahaan, yakni memberikan senyum, sapa, dan salam, Bayu memberikan fasilitas lebih lainnya. Yakni, dia menyediakan wifi gratis di taksi dari kantong pribadinya. ’’Biasanya setelah saya tanya bagaimana kondisi AC-nya dan mau diantarkan ke mana, saya tawari penumpang dengan fasilitas wifi,’’ jelasnya.

Fasilitas itu sebenarnya sederhana. Bayu hanya membeli modem wifi portabel dengan fasilitas 4G. Fasilitas tambahan tersebut kemarin sempat ditunjukkan kepada koran ini. Wifi portabel itulah yang menemani Bayu dan koran ini mengobrol santai di sebuah kedai donat.

’’Sering dari sekadar wifi inilah saya bisa terlibat pembicaraan yang intens dengan penumpang,’’ tuturnya. Penumpang kerap bertanya mengapa di taksinya ada perangkat modem. Sebab, mereka tak menemukan fasilitas yang sama di taksi lain.

Sebenarnya, untuk mengangkat perusahaan tempatnya bekerja, Bayu kerap mengaku modem itu merupakan fasilitas kantor. Namun, beberapa penumpang tidak percaya karena tak menemukannya di armada lain yang pernah mereka tumpangi. Dari soal wifi gratis itulah pembicaraan yang lebih intens terjadi selama perjalanan.

Ketika penumpang terkesan, Bayu biasanya bercerita tentang berbagai aktivitasnya. Mulai soal Komunitas 1001 Buku hingga impiannya menulis sebuah buku. Bayu sedang menyusun buku tentang motivasi. ’’Sekarang kan banyak orang yang hopeless karena kondisi ekonomi. Nah, saya ingin menulis tentang mimpi dan harapan penumpang yang pernah saya bawa dalam sebuah buku,’’ ujarnya.

Proyek buku itu kini tengah disusun Bayu tiap hari dari balik kemudinya. Tiap hari ketika ada penumpang yang terkesan dengan layanannya, Bayu menawarkan apakah mereka bersedia menuliskan mimpi pribadinya dan harapannya untuk Indonesia. ’’Sebab, dengan mimpi itulah seseorang akan berupaya survive menjalani kehidupannya,’’ ungkap lelaki yang pernah menjadi penjual bakso hingga buruh pabrik di Jakarta tersebut.

Bayu mengaku kini tengah menggapai impiannya sebagai penulis dan pengusaha. Dua bidang itu kini mulai ditapaki. Selain menyiapkan buku perdana, Bayu tengah merintis usaha kaus. Dia membuat brand Soul of Indonesia. Seperti namanya, kaus tersebut mengadopsi desain-desain bertema nasionalisme.

’’Alhamdulillah, usaha kaus itu ternyata jalan lain Tuhan memberikan rezeki untuk saya,’’ ucap pria yang tak lama lagi mempersunting perempuan bernama Afdina Hespita Putri tersebut.

Kaus yang dipasarkan lewat media sosial itu kadang juga dibeli penumpang yang dibawanya. Bahkan, kaus tersebut diklaim sudah sampai ke Turki dan Swedia.

Keberuntungan Bayu tak sampai di situ. Beberapa saat lalu, dia mendapat rezeki karena layanan lebih yang diberikan penumpang. ’’Ketika ngobrol-ngobrol, ternyata penumpang yang saya bawa saat itu adalah seorang pekerja di sebuah agency. Dia tengah menggarap iklan asuransi dan butuh talent,’’ ucapnya. Jadilah Bayu sebagai bintang iklan dadakan.

Dari situ, Bayu pun mendapat komisi, meski menurut dia tidak begitu banyak. Dokumentasi iklan dengan kopi #pejuanglovelife itu kemarin juga ditunjukkannya kepada koran ini. ’’Bukan hanya itu, saya ini dapat calon istri juga dari penumpang yang terkesan dengan layanan saya,’’ ujarnya bercanda.

Bayu mengaku mengenal Afdina Hespita Putri dari seorang ibu yang pernah diantarkannya. Saat itu si ibu bertanya apakah Bayu sudah punya pasangan atau belum. ’’Saya jawab belum karena selama ini nembak cewek ditolak terus kok. Eh, lha malah dikenalin ke temannya si ibu itu,’’ kenangnya.

Sejak penghasilan sopir taksi konvensional menurun, Bayu menyatakan agak berat menyisihkan uang untuk kuliah. Namun, lagi-lagi rezeki dari Tuhan datang dari segala penjuru. Sejak enam bulan lalu, Blue Bird memberikan beasiswa Rp 2 juta per semester. Beasiswa itu diberikan karena perusahaan mengetahui berbagai kisah hidup Bayu dari sebuah televisi swasta. Bahkan sebuah stasiun televisi memberikan hadiah laptop.

Bayu menyikapi kehadiran transportasi online sebagai hal yang tidak bisa dihindari. Dia hanya berharap pemerintah membuat kebijakan yang adil. Misalnya, pemberlakuan perizinan yang sama hingga penyeragaman tarif.

’’Transportasi online itu kan lebih menang karena perang tarif. Jadi, harusnya mereka ya mengikuti tarif yang telah ditentukan pemerintah,’’ ujarnya. Meski begitu, Bayu tetap yakin bahwa rezeki tak akan tertukar. Apalagi jika seseorang melakukan sesuatu yang lebih dalam pekerjaannya. (dim/gun/gen/wir/c5/kim)

 

Berita Terkait