Kabel Listrik Tak SNI

Kabel Listrik Tak SNI

  Rabu, 18 November 2015 09:25
ALAT LISTRIK: Petugas Disperindagkop dan UKM Kota Pontianak memeriksa berbagai jenis alat listrik yang dijual di sejumlah toko di Pontianak. Pemeriksaan tersebut untuk mengetahui berbagai produk listrik yang beredar tanpa berlabel Standar Nasional Indonesia. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PONTIANAK - Petugas Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Pontianak melakukan pemeriksaan di beberapa toko elektronik yang menjual peralatan listrik. Pemeriksaan untuk memantau peredaran kabel listrik yang tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Dari pemeriksaan Selasa kemarin, petugas tidak hanya menemukan kabel listrik tak ber-SNI, beberapa peralatan listrik tidak memiliki SNI juga beredar di toko elektronik.

“Pengawasan ini sebagai tindak lanjut terhadap kabel listrik. Salah satu penyebab kebakaran yang terjadi selama ini ada indikasi dari penggunaan kabel listrik tak ber-SNI yang digunakan masyarakat. Makanya kami lakukan pengawasan. Saat ini kami turun ke toko-toko elektronik, setelah itu nanti kami juga mendatangi agen dan distributornya,” kata Haryadi S Triwibowo, kepala Disperindagkop dan UKM Kota Pontianak, kemarin.

Dugaan adanya kabel listrik tak ber-SNI beredar di pasaran ternyata benar. Hal itu diketahui saat petugas memeriksa di beberapa toko elektonik diantaranya Jalan Gusti Hamzah, Hasanudin dan Martadinata. Bahkan, selain kabel listrik, pihaknya juga ditemukan beberapa peralatan listrik tak ber-SNI seperti, stop kontak sampai ke barang elektonik seperti kipas angin dan setrika listrik. “Khusus alat listrik wajib harus ber-SNI,” tegas dia.

Beredarnya peralatan listrik tak ber-SNI ini, jelas mantan Kasat Pol PP, itu begitu merugikan konsumen. Tujuan dari pemonitoran ini agar pemilik usaha elektronik dan masyarakat dapat memahami pentingnya penggunaan barang SNI. Apabila tak ber-SNI wajib bagi pedagang tidak menjual pada konsumen. Begitu juga pada konsumen tentu harus menjadi pembeli cerdas. Jangan hanya karena barangnya dijual dengan harga murah lalu dibeli, tetapi tidak mengetahui kualitasnya. Lebih parahnya tambah Haryadi dapat berakibat fatal.

“Terjadi kebakaran salah satu pemicunya dari penggunaan kabel listrik tak standar,” contoh Haryadi.  Ia mengimbau kepada pedagang untuk tidak lagi menjual alat listrik tidak standar. Karena sudah banyak masyarakat yang rumahnya jadi korban kebakaran. Adanya logo SNI yang terpasang di tiap produk menandakan bahwa barang tersebut telah melalui proses sehingga layak dipasarkan ke masyarakat.

Dalam waktu dekat ini pihaknya juga akan melakukan pemeriksaan ke distributor dan agen yang memasok peralatan listrik tak standar ini. Sejauh ini Disperindag masih dalam tahap sosialisasi terlebih dahulu. Bagi toko elektronik, akan segera di surati. Mereka (pemilik toko elektronik) harus berjanji di atas surat bermaterai, untuk tidak lagi menjual barang tak standar di tokonya.

“Apabila masih menjual, maka izin dagangnya akan kita beri sanksi. Dan tokonya ditutup sekalian,” ancamnya.Pemilik Toko Elektronik di Jalan Gusti Hamzah, Hendra Gunawan mengaku tidak tahu bahwa barang eletronik yang tak ber SNI ternyata tidak boleh diperdagangkan. Barang-barang tersebut dipasok dari sales-sales yang datang ke toko.

“Saya tidak pernah periksa SNI-nya. Ini baru tahu setelah didatangi petugas. Setelah tahu, saya akan mengembalikan barang ini ke salesnya lagi,” terangnya.
 Hal senada juga dikatakan pemilik toko elektronik di Jalan Martadinata. “Pantauan ini bagus. Selama ini kami tidak tahu, karena hanya menjual saja. Adanya kabar ini kami (pedagang) akan lebih selektif untuk mengambil barang dari sales,” tukasnya.

Anggota DPR Kota Pontianak Bebby Nailufa mengatakan,apa yang dilakukan Pemkot Pontianak melalui dinas terkait sangat baik. Pengawasan penting, apalagi terkait dengan peralatan listrik. Persoalan ini jangan dianggap sepele, banyak rumah terbakar karena korlesting listrik. “Karena kabel listrik tak SNI juga jadi pemicu kebakaran,” ungkapnya. Pengawasan ini jangan setengah-setengah, mesti berkelanjutan. Ia meyakini apabila terus dilakukan pengawasan Pontianak ke depan akan terbebas dari barang-barang yang tidak memiliki label SNI.(iza)

Berita Terkait