Jumlah Korban Capai 13 Orang , Kecelakaan Terbesar di Kalbar Sepanjang 2015

Jumlah Korban Capai 13 Orang , Kecelakaan Terbesar di Kalbar Sepanjang 2015

  Rabu, 16 December 2015 09:07
EVAKUASI: Tim evakuasi gabungan berhasil mengevakuasi salah satu korban kecelakaan speedboat di Perairan Olak-Olak Pinang, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Selasa (15/12). Dalam insiden itu, total korban meninggal dunia berjumlah 13 orang. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Kecelakaan Speedboat Indo Kapuas Express di Perairan Olak-Olak Pinang, Kecamatan Kubu, Kubu Raya termasuk yang terbesar di Kalbar sepanjang 2015 ini. Kecelakaan tersebut telah merenggut setidaknya 13 orang. Sementara itu satu penumpang lagi hingga berita ini ditulis pukul 22.00 masih belum ditemukan.

"Peristiwa ini yang terbesar, yang menelan banyak korban di tahun ini," kata Kepala Basarnas Pontianak Slamet Riyadi pada Pontianak Post, kemarin.  Di hari ketiga pencarian, Selasa (15/12) kemarin, tim evakuasi gabungan menemukan enam jenazah. Enam korban itu adalah Fatih (5), Kapi (9), Nilasari Ayu (21), Tia (10), Dimas (5), dan Aling (27). Dengan ditemukannya enam jenazah tersebut maka total korban tewas tragedi di perairan Olak-Olak Pinang, Kecamatan Kubu, Kubu Raya itu menjadi 13 orang (selengkapnya lihat infografis).

Pada hari sebelumnya, Senin (14/12) ada tiga korban yang ditemukan dari 10 korban yang dikabarkan hilang. Mereka adalah Sengseng (5), Maedin (45), dan Tamah (60). Sedangkan pada hari Minggu (13/12), saat kecelakaan terjadi, ada empat korban yang  teridentifikasi, yakni Nurimah (50), Sahara (40), dan Siti Kamelia (40) bersama anaknya, Hazwan (bayi 7 bulan).

Seluruh jenazah korban dibawa ke Puskesmas Rasau Jaya, Kubu Raya untuk diperiksa DVI Polda Kalbar sebelum dipulangkan ke rumah duka.‎Slamet Riyadi mengatakan rata-rata korban yang ditemukan berada di radius antara satu sampai dua kilometer. “Ini karena arus sungai yang cukup kuat. Sehingga korban terbawa arus cukup jauh,” kata Riyadi di Posko Pelayanan dan Penanganan Korban Laka Air di Olak-Olak Pinang, kemarin.

Dari pantauan Pontianak Post, Puskesmas Rasau Jaya dipadati pengunjung dari keluarga korban, kemarin. Mereka berbondong-bondong mendatangi puskesmas untuk melihat secara langsung sekaligus mengidentifikasi korban. Salah satunya Iskandar, warga Tanjung Harapan, Kecamatan Batu Ampar. Dengan wajah sayu, ia terlihat menunggu jenazah keluarganya di puskesmas.

Menurut Iskandar, setidak-tidaknya ada tujuh keluarganya yang menjadi korban kecelakaan speedboat Indo Kapuas Expres. Dari tujuh orang, lima di antaranya meninggal dunia. “Kami satu keluarga menjadi korban,” kata pria yang sehari-hari mengajar di SD Negeri 18 Padang Tikar itu. Menurut Iskandar, kelima keluarganya yang menjadi korban speedboat nahas itu adalah Maedin, Siti Amelia bersama anaknya, Azwan, Tamah, Ipin, dan Nurimah. “Siti Amelia, dia baru saja menjemput anaknya, Azwan di rumah kakeknya di Padang Tikar untuk dibawa ke Pontianak, ternyata ketimpa musibah,” kenangnya.

Sementara Maedin bersama istri, anak dan cucunya,  mereka hendak ke Batu Layang untuk memenuhi janji (nazar). Karena sebelumnya, istri Maedin sakit keras dan setelah sembuh, Maedin beserta keluarga ingin memenuhi nazar itu. “Maedin ditemukan meninggal, sementara istrinya selamat,” terangnya.

Kisah memilukan juga dialami Herman. Kecelakaan speedboat tersebut telah merenggut nyawa Nilasari Ayu (21), anak perempuan yang akan dinikahkan dengan seorang pria bernama Trisno pada 2016 mendatang. “Nilasari dan Trisno rencananya akan menikah pada 2016, tahun depan. Nila hendak ke Pontianak untuk berbelanja keperluan pernikahannya,” kata Herman, ayah dari Nilasari saat ditemui di Puskesmas Rasau Jaya.  

Herman sendiri sangat terpukul dengan kepergian anaknya itu.  Sambil menyeka air mata, ia menyatakan ikhlas melepas kepergian anak tertuanya itu. “Alhamdulillah bisa ditemukan. Kami sudah tiga hari mencarinya,” katanya dengan nada bersedih.Terpisah, Dokpol RS Anton Soedjarwo Bhayangkara Polda Kalbar, Kompol Edi Hasibuan mengatakan, korban kecelakaan speedboat di perairan Olak-Olak Pinang seluruhnya berhasil diidentifikasi. Identifikasi bisa cepat dilakukan karena korban dalam keadaan utuh dan masih dapat dikenali keluarga dan kerabat.

Sementara dari hasil visum atau pemeriksaan terhadap jasad korban, penyebab kematian korban karena terisinya air ke saluran pernafasan hingga memenuhi paru-paru. Sehingga korban kesulitan untuk bernapas dan meninggal dunia. “Mereka ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia. Dari hasil visum, korban mengalami gangguan pernapasan. Paru-paru mereka terisi air,” paparnya singkat.

Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Provinsi Kalimantan Barat menyoroti kasus dugaan kelalaian pihak speedboat Indo Kapuas Ekspress yang menyebabkan kecelakaan dan menewaskan 14 dari 53 penumpangnya. Jika terbukti bersalah, maka izin CV Indo Kapuas Ekspress akan dicabut. “Kalau terbukti menyimpang, cabut izinnya. Saya rekomendasikan ambil tindakan yang profesional, walaupun akibat ketidaksengajaan,” kata Kepala Dishubkominfo Kalimantan Barat Anthony Runtu, kemarin.

Kendati demikian, kasus ini tengah dilakukan penyidikan lebih mendalam oleh kepolisian dan pihak terkait lainnya. "Sambil menunggu proses penyidikan, izinnya kita bekukan dulu," katanya.Ia mengatakan, untuk pengawasan perlayaran di perairan Kubu Raya adalah kewenangan KSOP. Karena, semua alat trasnportasi sungai atau laut harus memiliki surat izin perlayaran (SIP). “Itu sudah pasti (hukumnya, red)," tegasnya.

Untuk memastikan kelengkapan dari longboat itu, baik kelaikan maupun segala perizinan, pihaknya masih berkoordinasi dengan Dishubkominfo Kubu Raya. "Karena kejadian di wilayah Kubu Raya, saya sudah instruksikan kepada kepala Bidang Laut untuk berkoordinasi ke Dishubkominfo Kubu Raya guna mengecek surat perintah berlayar," ujarnya.

Dengan kondisi ini bahkan sebelumnya, Anthony mengatakan dia sudah perintahkan Dishubkominfo Kabupaten dan Kota yang daerah mereka dilalui angkutan pedalaman untuk selalu mewanti-wanti untuk koordinasi. Termasuk tidak merekomendasi jika angkutan pedalaman di luar kapasitas. "Dinas Kabupaten dan Kota harus berkoordinasi. Ini saya harap kejadian terakhir, jangan sampai terjadi lagi," katanya.

Untuk pengusaha perlayaran ditekankan Anthony jangan jadikan manusia sebagai barang. "Jangan main tumpuk saja. Saya tidak mau penumpang dianggap sebagai barang. Jangan cuma cari untung. Kan ada regulasi. Nanti cabut izinnya, demo. Saya sudah bosan seperti ini," tugasnya. Namun terlepas sengaja atau tidak, ditegaskan Anthony ini merupakan musibah. Musibah untuk semua. "Apakah akibat kesalahan. Ini sedang diproses. Tentunya, ini tidak sampai di sini. Kita utamakan cari dulu korban. Kita akan kawal kasus ini. Dan ini cacatan kelam dan kita di akhir tahun," ujarnya.

Di Dinas Perhubungan, kata Anthony,  hanya ada dua hal yang diutamakan, yakni keselamatan dan kenyamanan. “Penumpang bukan angkutan barang. Saya ingatkan itu,” tegasnya.Dalam perlayaran dikatakannya, ada aturan dan regulasi. Hal itu terkadang diabaikan pengusaha perlayaran demi keuntungan semata. Sementara untuk mengubah mainset buruk yang terus terjadi dan menjadi kebiasaan itu sangatlah tidak mudah. "Kami semua mau taat aturan. Manusia gila yang tak taat aturan. Tapi kadang-kadang ini sudah menjadi kebiasaan membawa angkutan atau penumpang di luar aturan," katanya.

Anthony tidak mau hanya katanya saja. Untuk mengetahui kondisi perhubungan di lapangan ia turun langsung. Bahkan ia blusukan tongkrongi pelabuhan. Tapi itu percuma saja. "Karena sudah menjadi mainset. Ya, kita pelan-pelan lah ubah mainset itu. Ini juga perlu peran masyarakat. Keselamatan penting," pungkasnya.

Sebelumnya, Direktorat Polair Polda Kalbar menetapkan Zainudin, operator speedboat Indo Kapuas Expres sebagai tersangka.  Hasil pemeriksaan terhadap Zainudin, speedboat yang dioperasikan oleh tersangka berlayar tidak dilengkapi surat persetujuan berlayar dan tidak ada alat keselamatan.‎ "Yang bersangkutan dijerat dengan pasal 323 ayat (3) Undang Undang No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran dan atau pasal 359 KUHP," tambahnya.‎ (arf)

 

Berita Terkait