Jokowi Vs Prabowo 2019; Yusril Berpeluang jadi Pesaing

Jokowi Vs Prabowo 2019; Yusril Berpeluang jadi Pesaing

  Jumat, 11 Agustus 2017 16:29

JAKARTA--Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin menilai, Indonesia butuh figur calon presiden alternatif untuk diusung pada Pemilu 2019, di luar dua nama yang sering disebut-sebut yaitu Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Hal tersebut penting agar terjadi penyegaran dalam alam demokrasi Indonesia. Jangan sampai Pilpres 2019 nantinya hanya mengulang pertarungan Jokowidan Prabowo, seperti yang terjadi pada Pilpres 2014 lalu.

“Kalau pertarungannya kembali hanya dua nama yang sebelumnya terjadi di Pilpres 2014, dikhawatirkan bakal menimbulkan kejenuhan. Makanya, saya kira butuh capres alternatif,” ujar Ujang kepada JPNN, Jumat (11/8).

Saat ditanya siapa kira-kira tokoh yang memungkinkan muncul sebagai capres alternatif, Ujang menyebut beberapa nama. Misalnya Presiden PKS Sohibul Iman atau Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid.

"Dari PKS bisa ada dua nama. Elektabilitas Sohibul dan HNW memang saat ini belum sebaik Jokowi dan Prabowo, tapi saya kira masih ada waktu," ucapnya.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Politikan Review ini, Sohibul dan HNW masih memiliki waktu untuk menggenjot elektabilitas. Caranya, dengan semakin banyak terjun ke masyarakat dalam dua tahun terakhir.

"Harus sering turun menyapa masyarakat dan dekat dengan media. Dengan demikian masyarakat dapat menilai apakah layak untuk diusung atau tidak nantinya," pungkas Ujang.

Masih ada nama lain lagi? Dia adalah Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra.  Yusril dinilai berpeluang menjadi menjadi capres alternatif, bersaing dengan petahana Joko Widodo dan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subiantopada Pilpres 2019 mendatang.

Peluang terbuka karena mantan Menteri Kehakiman dan HAM tersebut memiliki segudang pengalaman yang mumpuni di pemerintahan. Bahkan sejak era Presiden RI ke-2 Soeharto.

Selain itu, Yusril juga dinilai memiliki kemampuan di bidang ketatanegaraan. Ilmu tersebut sangat penting dalam memimpin sebuah negara dan terutama ia cukup dikenal secara luas oleh seluruh lapisan masyarakat.

"Yusril bisa menjadi kuda hitam dan jadi tokoh alternatif pada Pilpres 2019mendatang," ujar Ujang Komarudin.

Meski begitu, Direktur Eksekutif Indonesia Politikan Review ini menilai ada sebuah tantangan besar yang harus diselesaikan Yusril terlebih dahulu, jika ingin maju sebagai calon presiden.

Ia harus mampu meyakinkan partai-partai besar untuk berkoalisi dengan partainya. Karena syarat ambang batas dalam UU Penyelenggaraan Pemilu yang baru ditetapkan 20-25 persen.

"Jadi Yusril harus didukung oleh partai politik besar. Karena PBB yang dipimpinnya sekarang tidak memiliki kursi di DPR," ucapnya.

Saat ditanya bagaimana caranya agar partai besar mau mendukung, Ujang menilai Yusril perlu membesarkan PBB terlebih dahulu dalam dua tahun ke depan.

"Jika PBB besar dan mendapat dukungan masyarakat, maka secara politik otomatis akan menjadi magnet untuk mendapat dukungan dari partai-partai lain," pungkas Ujang.(gir/jpnn)