Jokowi Pilih Duet Keras Kepala

Jokowi Pilih Duet Keras Kepala

  Sabtu, 15 Oktober 2016 08:47

Berita Terkait

JAKARTA – Ignasius Jonan dan Arcandra Tahar melengkapi formasi Kabinet Kerja. Kemarin keduanya dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai menteri dan wakil menteri energi dan sumber daya mineral (ESDM).

          Penunjukan mendadak itu sempat menimbulkan pertanyaan. Terutama posisi Jonan yang sama sekali tidak memiliki latar belakang di bidang energi. Namun, presiden berpandangan lain. Menurut Jokowi, penunjukan Jonan ditujukan untuk membenahi manajemen. ’’Keduanya adalah figur-figur profesional yang tepat, berani, dan punya kompetensi untuk melakukan reformasi besar-besaran di ESDM,’’ ujar Jokowi.

          Dia menegaskan, penunjukan Jonan dan Arcandra merupakan isu manajemen. ’’Jangan ditarik ke isu politik atau lainnya,’’ katanya. Jokowi yakin Jonan dan Arcandra mampu menyelesaikan masalah-masalah di Kementerian ESDM. ’’Meskipun saya tahu dua-duanya keras kepala, tapi suka terjun ke lapangan,’’ ujarnya.

          Jonan sebelumnya menjadi menteri perhubungan (Menhub). Pada reshuflle kabinet 27 Juli lalu, Jonan termasuk salah seorang menteri yang terdepak. Alumnus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu digantikan Budi Karya Sumadi.

          Sementara itu, Arcandra masuk kabinet menggantikan Sudirman Said. Tapi, Jokowi kemudian memberhentikannya pada 15 Agustus lalu. Praktis, pria asal Padang itu hanya menjabat selama 20 hari. Arcandra diberhentikan karena munculnya polemik status kewarganegaraan. Dia memiliki paspor Amerika Serikat (AS).

          Setelah Arcandra diberhentikan, status kewarganegaraannya diproses kembali. Akhirnya, awal September lalu dia resmi kembali berkewarganegaraan Indonesia. Paspor AS-nya dikembalikan dan dia mendapat paspor Indonesia dari Kemenkum HAM.

          ’’Saya kira semua persoalannya sudah diselesaikan dan alhamdulillah saya sekarang dilantik Bapak Presiden,’’ ujar Arcandra setelah pelantikan kemarin. Sedikitnya dua kali dia memberikan penegasan lewat kalimat ’’sebagai warga negara Indonesia’’ saat ditanya wartawan.

          Di sisi lain, Jonan mengaku belum memiliki program apa pun. Sementara dia berpegang pada arahan presiden yang membawa isu manajerial sebagai sektor yang harus dibenahi. ’’Lebih detail mungkin nanti menunggu beliau (presiden). Kami berdua akan menghadap,’’ ujarnya.

          Jonan memang tidak memiliki latar belakang di bidang energi. Dia kuliah di bidang akuntansi. Karirnya malang melintang di sejumlah bank sebelum ditarik menjadi Dirut PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan berlanjut menjadi Menhub. ’’Saya pikir begini, ini kan ada Pak Wamen dengan saya. Kami harus tandem,’’ tutur pria kelahiran Singapura itu. Jonan berjanji bekerja sama sebaik-baiknya dengan Arcandra.

          Gayung bersambut. Arcandra menyatakan siap bekerja sama dengan Jonan. Pakar perminyakan lulusan A&M University Texas, AS, itu mengungkapkan, yang harus dilakukan saat ini adalah revitalisasi sektor energi. ’’Dalam hal ini, kita butuh figur Pak Jonan,’’ ucapnya.

          Jonan dan Arcandra sepakat tidak membicarakan pencopotan mereka dari kabinet sebelumnya. ’’Kalau kita bekerja, kan lihatnya juga ke depan,’’ kata Jonan. ’’Saya sepakat,’’ sahut Arcandra.

          Setelah pelantikan, keduanya langsung menuju kantor Kementerian ESDM. Jonan dan Arcandra disambut Sekjen Teguh Pamudji. ’’Saya sudah pernah di sini, jadi tahu,’’ kata Arcandra.

          Jonan dan Arcandra sempat melakukan rapat tertutup. ’’Pak Arcandra kenalan kembali, saya kenalan saja tidak pakai kembali,’’ ujar Jonan.

          Mereka segera berkoordinasi untuk menyusun program kerja. Banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus segera dituntaskan. ’’Sampai dipilih menteri dan Wamen. Sektor ini besar sekali, harus tandem,’’ kata Jonan.

          Dia ingin kerja bersama itu berjalan secara dwitunggal. Jadi, pengambilan keputusan dilakukan bersama. Arcandra ingin kerja bareng itu benar-benar bisa menjadikan Kementerian ESDM jauh lebih baik.

          Terkait dengan program prioritas, Jonan tidak mau terburu-buru menjawab. Menurut dia, akan jauh lebih baik kalau hal itu disampaikan setelah dirinya dan Arcandra bertemu dengan Pelaksana Tugas (Plt) Menteri ESDM Luhut Binsar Pandjaitan. Meski sudah ada pelantikan, belum ada penyerahan jabatan di internal ESDM.  Luhut sedang menghadiri acara di luar kota.

          Jonan menginginkan Kementerian ESDM bersih dari praktik kotor seperti pungutan liar dan mafia. ’’Pungli dan mafia harus diberantas. Saya memang bukan dari dunia migas, tapi nanti kita bereskan,’’ tegasnya.

          Dari sisi Arcandra, dia mengaku sudah memiliki bayangan. Prioritasnya adalah menyelesaikan pembahasan revisi UU Minyak dan Gas (Migas) dan revisi UU Mineral dan Batu Bara (Minerba). ’’Itu jadi prioritas untuk diselesaikan secepatnya,’’ katanya.

          PR di Kementerian ESDM saat ini memang sedang menumpuk dan perlu segera diselesaikan. Selain revisi UU Migas dan Minerba, ada polemik mahalnya harga gas industri. Sampai saat ini, upaya penurunannya menjadi USD 6 per MMBTU sesuai dengan perintah presiden belum terealisasi.

          Yang juga sedang disorot adalah kebijakan relaksasi mineral. Ada rencana untuk memberikan kelonggaran ekspor bagi perusahaan yang belum menyelesaikan smelter. Lantas, megaproyek pembangkit listrik 35 ribu mw yang sempat disebut-sebut sulit terealisasi. Masalah lain terkait dengan distribusi tertutup elpiji 3 kg. (byu/dim/c5/ca)

 

 

Berita Terkait