Jokowi Marah Besar, Setya Novanto Tolak Tuduhan Sudirman Said

Jokowi Marah Besar, Setya Novanto Tolak Tuduhan Sudirman Said

  Selasa, 8 December 2015 09:30
FOTO EVAN ZUMARLI/SUMATERA EKSPRES

Berita Terkait

JAKARTA - Presiden Joko Widodo menunjukkan amarahnya atas perkembangan kasus dugaan pencatutan namanya oleh Ketua DPR Setya Novanto. Sebagai presiden, Jokowi -sapaannya- berang karena diseret-seret ke dalam kasus yang kini beken dengan sebutan Papa Minta Saham itu.

Jokowi mengatakan, dirinya memang menghormati proses yang berjalan di MKD untuk menyidangkan dugaan pelanggaran etika oleh Setya. Namun, ia menyebut yang dirugikan dalam kasus itu adalah lembaga kepresidenan. "Proses yang berjalan di MKD harus kita hormati. Tapi tidak boleh yang namanya lembaga negara itu dipermainkan. Lembaga negara itu bisa kepresidenan, bisa lembaga negara lain," terang Jokowi, Senin (7/12).

Wajah Jokowi yang awalnya tampak kalem, akhirnya langsung terlihat menegang. Aura kemarahan pria asal Solo itu terlihat membuncah. Tangan Jokowi yang mengacung bahkan sampai bergetar.
"Saya enggak apa-apa dikatain presiden gila, presiden sarap, presiden kopah, ndak apa-apa. Tapi kalau sudah menyangkut wibawa mencatut meminta saham sebelas persen itu yang saya enggak mau,” tegas Jokowi.
Kepala Staf Presiden Teten Masduki mengatakan, presiden hari ini Senin (7/12)membaca transkrip lengkap pembicaraan Setya Novanto, Riza Chalid dan Maroef Sjamsoeddin soal Papa Minta Saham.
"Selama ini presiden menurut saya selalu berusaha menjaga dan percaya proses di MKD. Tapi ketika membaca naskah transkip memang presiden marah betul," ujar Kepala Staf Presiden Teten Masduki di kompleks Istana Negara.
Selama ini, Jokowi bersikap santai karena hanya mendengar dan membaca selentingan-selentingan mengenai pencatutan nama yang dilakukan Novanto.
"Tadi siang presiden udah marah. Tapi kayaknya dari siang nahan-nahan diri. Saya tahu karena tadi siang menghadap beliau. Tadi siang sudah mengekspresikan kemarahannya ke saya,"  imbuh Teten.
Dia mengakui, Jokowi kesal karena namanya dicatut dalam permintaan saham Freeport. "Beliau sampai geleng-geleng baca transkripnya,” tegas Teten.
Novanto Tolak Tuduhan
Ketua DPR Setya  Novanto secara tegas menolak tuduhan Menteri ESDM Sudirman Said sesuai laporannya 16 November 2015, perihal tindakan tidak terpuji Setya Novanto yang ditujukan ke MKD DPR.
Dalam dokumen nota pembelaannya, Senin (7/12), penolakan ini ditulis Novanto pada bagian aspek yuridis materiil/substansi pengaduan.
"Saya menyatakan keberatan dan menolak dengan tegas seluruh dalil dalil dan tuduhan dalam butir satu sampai enam laporan pengadu yang dutuduhkan kepada saya secara serampangan, tidak sesuai dengan fakta dan tifak sesuai dengan undang- undang yang berlaku sebagaimana diuraikan dalan laporan pengadu," tulis Novanto, dalam dokumen yang ditanda tangani di atas materai itu.
Novanto pun menambahkan, bantahan ini merupakan pembelaannya atas tuduhan Sudirman Said yang tidak sesuai dengan fakta dan tidak mempunyai bukti yang sah sebagaimana diatur dalam UU.
Ketika keluar ruang persidangan, politikus Golkar itu hanya menyampaikan beberapa patah kata. "Sudah saya sampaikan sejelas-jelasnya. Saya terima kasih kepada MKD yang sudah menyampaikan kepada saya. Rekaman ini tentu saya sudah sampaikan secara detail (penjelasannya), karena saya tidak bersalah. Untuk itu saya serahkan kepada MKD sejelas-jelasnya," kata Novanto.
Meski membantah seluruh tuduhan Menteri ESDM Sudirman Said terkait skandal Papa Minta Saham yang diadukan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), tapi Ketua DPR Setya Novanto mengakui pertemuannya bersama pengusaha M Riza Chalid dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Maroef Sjamsoeddin.
Ini diungkap Wakil Ketua MKD Junimart Girsang, usai persidangan Novanto di gedung DPR Jakarta, Senin (7/12). "Ya, ya pertemuan ada tapi beliau bukan sebagai inisiator. Dan beliau tidak tahu apa mata acaranya," kata Junimart.
Ditegaskan politikus PDI Perjuangan itu, apapun hasil persidangan dan keterangan yang diberikan Novanto, hal itu tetap diterima MKD untuk dikaji secara mendalam. Kemudian internal mahkamah akan menggelar rapat untuk membuat keputusan.
"Nanti mahkamah memutuskan dalam internal. Untuk mendalami. Saya hanya katakan sidang terbuka akan terus saya perjuangkan. Kalau tadi kami tak bisa menolak lagi karena beliau (Novanto) menolak keras untuk dibuka. Kami tidak bisa memaksa," jelas anggota komisi III DPR itu.
Lalu bagaimana kemungkinan MKD membentuk Panel? "Nanti setelah ini tercapai kesimpulan. Kami akan memutuskan apa ada potensi pelanggaran berat atau tidak. Kalau pelanggaran berat keputusannya akan bentuk panel," tambah Junimart.
Geram Sidang MKD
Anggota Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) Akbar Faisal benar-benar geram menangani kasus dugaan pelanggaran etik Ketua DPR Setya Novanto. Pasalnya, dugaan Setnov -sapaan Setya Novanto- melakukan intervensi melalui partainya benar-benar nyata.
Bentuk intervensi yang dimaksud Akbar adalah proses rapat MKD yang berlangsung tertutup. Melalui Wakil Ketua MKD Abdul Kahar Muzakir yang selaku pimpinan sidang seolah memaksa digelar tertutup bagi publik. Padahal sidang sebelumnya dilakukan secara terbuka.
Abdul Kahar Muzakir berasal dari fraksi Golkar, satu fraksi dengan Setnov. Ia didapuk sebagai wakil ketua MKD menggantikan Hardisoesilo menjelang MKD menyidangkan kode etik kasus Papa Minta Saham.
"Sejujurnya saya kaget kenapa dia, karena menurut saya itu konflik kepentingan," ujarnya di depan ruang MKD usai persidangan Setnov digelar,Senin (7/12).
Lantas apakah kahar yang membelokkan ini sehingga tertutup? "Saya ada di dalam, saya yang berteriak. Saya yang berteriak kepada Muzakir," tegasnya dengan lantang.
Politikus NasDem itu mengaku tak bisa membendung kekesalannya. Apalagi, ada permintaan sebelumnya agar Setnov diperiksa malam hari saja. "Mau periksa Novanto tengah malam, saya tolak dan saya harus buka di publik," ungkapnya.
Dalam sidang, Akbar mengungkapkan bahwa Setnov tidak ingin menjawab pertanyaan terkait rekaman."Kami hormati itu. Tapi kami, sata tetap memeberi pertanyaan mengacu konstruksi hukum dimana pengaduan ini masuk," ucap Akbar.Anggota Komisi III DPR itu pun menyatakan Setnov membantah semua tuduhan yang telah dilaporkan Menteri ESDM Sudirman Said."Saudara terperiksa membantah semua tuduhan, laporan, isi rekaman yang jadi dasar MKD menyidangkan kasus ini," ‎ceritanya.Apakah ada bukti untuk bantahan Setnov? "Ngak tahu, dia cuma bantah saja. Itu haknya dia. Saya mau fokus pada pemeriksaan ini," ujarnya. (flo/jpg)

 

Berita Terkait