JK: Kita Kuat Karena Berbeda

JK: Kita Kuat Karena Berbeda

  Minggu, 31 July 2016 10:40
Sisa-sisa bekas kerusuhan di Tanjungbalai, Sumatera Utara, Sabtu (30/7). Foto: Gatha Ginting/Sumut Pos

Berita Terkait

TANJUNGBALAI – Suasana mencekam  di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara (Sumut), Sabtu dini hari (30/7) sekitar pukul 00.30 WIB.

Puluhan ribu warga mengamuk dan membakar delapan rumah ibadah. Empat lainnya dirusak, termasuk yayasan sosial. Selain itu, 6 unit mobil, 4 sepeda motor, serta 1 becak bermotor turut menjadi sasaran amuk warga. 

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Islam (MUI) Din Syamsuddin menyesalkan terjadinya peristiwa perusakan rumah ibadah tersebut. 

Apa pun alasannya, tutur mantan ketua umum PP Muhammadiyah itu, perusakan rumah ibadah sama sekali tidak dapat ditoleransi. ”Tindakan ini tidak dibenarkan agama apa pun,” tegasnya. 

Perusakan tersebut, lanjut Din, menunjukkan masih kurangnya kualitas kerukunan antarumat. Masyarakat diminta tidak terprovokasi. Sebab, konflik itu belum tentu murni terkait dengan agama. 

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyatakan, selama ini Indonesia dikenal sebagai bangsa yang toleran. 

”Semua orang saling menghormati. Apalagi di Sumatera Utara ini. Kita kuat karena berbeda,” ujar JK di sela-sela menghadiri musyawarah masyarakat adat Batak di tepi Danau Toba, Parapat, Sumut, kemarin.

Meski begitu, JK tidak menampik adanya sejumlah kasus intoleransi yang pernah muncul. Tapi, menurut dia, itu hanya sebagian kecil. 

”Kalau konflik ya sedikit-sedikit saja,” kata dia. Memang suku dan agama itu punya perbedaan.

Dirjen Bina Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) Machasin mengatakan, pihaknya juga sedang menyelidiki kasus puluhan ribu warga yang mengamuk dan membakar delapan rumah ibadah di Tanjungbalai, Sumut. 

Dia juga mengecam tindakan massa yang melakukan aksi sewenang-wenang. ”Saya meminta semua lapisan masyarakat, baik di tempat kejadian maupun seluruh Indonesia, menahan diri. Jangan sampai kejadian ini menyulut insiden lain dan membuat masalah semakin besar,” tuturnya.

Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan menerangkan, saat kejadian  massa telah terkendali. Sejumlah ruas jalan di Kota Tanjungbalai sempat lumpuh.

Dalam aksi kericuhan yang terjadi di Tanjungbalai, pihak kepolisian mengamankan tujuh warga. Mereka melakukan penjarahan dalam kerusuhan. 

Kabidhumas Polda Sumut Kombespol Rina Sari Ginting di Medan menjelaskan, tujuh warga tersebut diamankan ke Mapolres Tanjungbalai. 

Menurut dia, pihak kepolisian dan pemerintah daerah setempat telah menyepakati pertemuan untuk membahas kerusuhan berbau SARA itu.

Polri telah menerjunkan Kepala Lembaga Pendidikan Kepolisian (Kalemdikpol) Komjen Syafruddin untuk memimpin langsung upaya pencegahan kian meluasnya kerusuhan di Tanjungbalai. ”Saya sudah di Tanjungbalai. Kerusuhan ini dalam waktu tiga jam telah teratasi,” ucapnya.

Ada dua cara yang akan ditempuh dalam mencegah membesarnya kerusuhan tersebut, yakni berkomunikasi dengan masyarakat dan menegakkan hukum. 

Yang juga penting ialah memulihkan situasi. ”Saya sudah instruksikan ke Kapolda Sumut untuk memimpin pemulihan itu,” ujarnya.

Untuk komunikasi dengan warga, mantan Wakapolda Sumut tersebut memastikan telah menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat.

Namun, langkah-langkah yang akan dilakukan masih coba dikerucutkan. ”Dialog telah dilakukan, tapi masih berlanjut,” kata Syafruddin.

Dalam situasi kerusuhan, penegakan hukum juga memerlukan kehati-hatian. Polda wajib melakukan penegakan hukum yang akurat. Polisi tidak boleh sampai main asal tangkap. ”Dalam situasi semacam ini, penegakan hukum tidak boleh salah,” tuturnya.

Karena itu, Syafruddin memberikan jaminan bahwa ke depan situasi di Tanjungbalai lebih kondusif. Yang pasti, masyarakat harus tetap tenang dan kepolisian akan dengan profesional menangani masalah tersebut. ”Sudah aman kok,” yakin jenderal berbintang tiga itu. (mia/bil/idr/tyo/jun/mag02/syaf/JPG/c9/sof)

Berita Terkait