Jessica Bisa Psikopat, Bisa Tidak

Jessica Bisa Psikopat, Bisa Tidak

  Minggu, 31 January 2016 14:07

Berita Terkait

SURABAYA – Penetapan tersangka Jessica Kumala Wongso sebagai dalang pembunuhan Mirna mendapat sorotan dari Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedoteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). Sebab, Jessica diduga menderita gangguan kejiwaan tingkat berat.

”Ada yang bilang pskiopat. Dugaan seperti ini tidak boleh dikeluarkan sembarangan,” ujar Spesialis Kejiwaan RSUD dr Soetomo dr Nalini M. Agung SpKJ (K) kemarin (30/1). 

Banyak pihak yang menyangka Jessica bermasalah dengan kejiwaannya lantaran terlihat tenang saat diberondong pertanyaan tentang kematian rekannya. Dia juga sering tampil di media tanpa menunjukkan sikap merasa bersalah. Nalini menyebut, sikap itu menunjukkan dua kemungkinan. Yang pertama, dia memang psikopat. Yang kedua, Jessica tidak bersalah.

Menurut dia, seseorang bisa dinyatakan psikopat atau tidak setelah melalui proses pengamatan yang intens. Waktu yang diperlukan minimal dua pekan. Masa itu terus diperpanjang sampai bukti yang mendukung pelaku psikopat ditemukan.

Karena itu, langkah wawancara berjam-jam sampai hipnotis pun belum dianggap kuat. Bahkan, selama ini psikopat terbukti gampang lolos dari pemeriksaan menggunakan lie detector.

Nalini mengatakan, dengan kondisi itu, yang melakukan penentuan kejiwaan seseorang harus dari tim profesional. Yakni psikiater atau dokter jiwa. ”Takes time sekali karena psikopat sangat manipulatif. Pandai berbohong. Psikiater saja bisa terkecoh,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, kepolisian sebaiknya mengajak tim ahli kejiwaan untuk menentukan kondisi kejiwaan Jessica. Sebab, dia mengakui perkara tersebut bukan sekedar masalah biasa.

Karena itu, perempuan yang juga pengurus pusat PDSKJI tersebut menyebut tidak akan mengeluarkan pernyataan yang justru menimbulkan kebingungan dan kontroversi di kalangan masyarakat.

Saat ini, PDSKJI sedang melakukan rapat untuk memberikan statement khusus tentang kasus tersebut. ”Kami tidak akan beropini Jessica mengalami gangguan jiwa atau tidak tanpa diagnosis holistik,” katanya.

Nalini menyebutkan, kasus tersebut memang mendapat perhatian besar dari masyarakat. Namun, dia berharap kepolisian tidak mengkriminilasisasi seseorang atas dasar opini publik. ”Yang paling penting penetapan itu harus berdasar bukti otentik,” katanya.

Meski begitu, jika terbukti Jessica memang tersangka, Nalini memastikan seorang psikopat yang terlibat kasus kejahatan tidak akan lepas dari jerat hukum. Sebab, psikopat merupakan jenis gangguan kepribadian yang tetap bisa dipidanakan. Pelaku dianggap sadar saat melakukan tindakan kejahatan. ”Psikopat bukan jenis gangguan yang lepas dari sanksi hukum,” tegasnya.  Sementara itu, Psikiater Forensik Natalia Widiasih Raharjanti menolak memberikan keterangan terkait sosok Jesica. Menurutnya, dia tidak bisa menentukan apakah Jessica sendiri mempunyai gangguan kepribadian neurotik tanpa memeriksa langsung. Pasalnya, kesimpulan diagnosis berasal dari berbagai pemeriksaan psikologis dan analisa medis yang objektif.

’’Saya tidak bisa menuduh seseorang punya masalah psikologis hanya dengan pengamatan saja. Kalau mau tanya soal diagnosa lebih baik tanya ke psikiater forensik yang memeriksa secara langsung,’’ ujarnya kemarin (30/1).

Terkait kemungkinan tersangka yang menghindari evaluasi penyelidikan seperti lie detector, Natalias tak menampik. Menurutnya, setiap proses penyelidikan mempunyai pitfall atau hasil tes yang tak ternyata salah. Hasil tersebut bisa berubah false positif atau false negatif. False positif merupakan kondisi dimana hasil menyatakan terdapat gangguan mental padahal nyatanya tidak. Sedangkan, fasle negatif merupakan hasil sebaliknya.

Hal tersebut juga dikonfirmasi oleh Psikolog Klinis Kasandra Putranto. Menurutnya, tes-tes psikologis seperti lie detector masih mengandung kotroversi dalam penggunaannya. Pasalnya, berdasarkan penelitian, ada segolongan profil yang mampu mengendalikan emosi dan memanipulasi alat tersebut.

Namun, dia mengaku bahwa proses psikiatri forensik tak hanya bergantung pada satu dua proses saja. Menurutnya, dunia forensik saat ini terdiri dari berbagai bidang studi. Mulai dari otopsi fisik, kimia forensik, IT forensik, sampai forensik psikologis yang juga dikenal sebagai criminal profiling.

’’Yang perlu dilakukan hanya mencari hubungan setiap bukti yang ada dengan forensik tersebut. Dan itu sudah cukup menjadi alat bukti. Metode pengakuan sendiri sudah lama jarang tidak dilakukan oleh kepolisian,’’ terangnya.

Dia juga tak menampik, beban mental seseorang yang ditetapkan pasti tinggi. Mulai dari menerima surat panggilan pun pasti menghasilkan dampak mental. Namun, ada juga orang-orang dengan kualifikasi tertentu yang menjadi pengecualian. Namun, dia menegaskan bahwa hal itu belum bisa menjadi diagnosis psikologis. (bil)

Berita Terkait