Jemput Berkah, Merantau Tiap Agustus

Jemput Berkah, Merantau Tiap Agustus

  Minggu, 7 Agustus 2016 10:39
AMBIL PELUANG: Asep (32) saat menata bendera dan umbul-umbul jualannya di depan Fakultas Kehutanan Untan, Jalan Daya Nasional, Pontianak, Senin (1/8) lalu. Memasuki Agustus, ia selalu bersiap meninggalkan rutinitas sehari-harinya sebagai tukang servis jok dan tukang gorden di daerah asalnya. MIFTAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Pedagang Bendera Musiman Bermunculan Lagi

Warga kota dengan mudah akan menemukan bendera merah putih dan umbul-umbul terpajang di beberapa sudut kota jelang peringatan kemerdekaan. Semaraknya diikuti dengan beberapa pedagang musiman. Baik warga sekitar atau mereka yang hanya datang ke Pontianak ketika Agustus tiba.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

SUDAH menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia untuk menaikkan bendera merah putih di depan rumah, dengan tiang mereka masing-masing. Depan kantor perusahaan dan instansi pemerintah juga tak mau kalah dengan memajang umbul-umbul beragam warna di pinggir jalan. Ramainya peringatan 17 Agustus sudah terasa.

Bagi mereka para penjual bendera dan umbul-umbul musiman, bulan kemerdekaan merupakan bulannya panen untung. Penjual musiman ini selalu datang membawa berbagai ukuran bendera dari beragam warna dan corak yang berbeda. Kehadiran mereka di pinggir jalan juga menjadi penarik mata bagi para pengguna jalan.

Penjual musiman tesebut, tidak hanya berasal dari Kota Pontianak. Bahkan, sebagian besar pedagang tersebut berasal dari daerah Jawa Barat. Mereka baru akan datang ke Pontianak menjelang Agustus, membawa bendera dagangan mereka. Berharap rezeki berhasil dijemput seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sangat sulit sekali untuk menemukan pedagang bendera yang berasal dari Pontianak. Pontianak Post tidak berhasil menemukan warga Pontianak yang berjualan bendera di antara pedagang yang memajang benderanya hampir di tiap jalan kota.

Salah seorang penjual bendera dan umbul-umbul, Asep (32). Ia memajang bendera jualannya di depan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjung Pura, Jalan Daya Nasional, Pontianak. Ia memajang dagangan sejak Rabu (28/7), pekan lalu. Tiga hari setelah ia tiba di Kota Khatulistiwa dari kota asalnya, Garut, Jawa Barat. Asep tiba pada Minggu (25/7) bersama teman-temannya yang juga pedagang bendera.

“Kami semua kurang lebih 40 orang. Semuanya dari Jawa Barat,” katanya. ”Setelah sampai di Pontianak, kami pun berpencar ke seluruh kabupaten di Kalbar,” imbuhnya lagi.

Sejak pagi pukul 07.00 pagi ia telah bersiap dengan bendera-benderanya, lalu ia pajang dengan beberapa utas tali dan tiang yang telah ia siapkan sebelumnya. Pada tiga tiang, ia ikatkan satu utas tali untuk memajang bendera merah putih dari tiga ukuran, satu utas tali untuk umbul-umbul, dan lainnya untuk menggantung bendera hias.

Ia siapkan sebuah tempat, tepat di bawah bendera itu dipajang. Beralas karung yang ia gunakan untuk membawa semua bendera itu, ia biasa menunggu pelanggannya datang. Entah pedagang lama atau pun warga yang lalu lalang dan tertarik untuk membeli bendera padanya.

Asep mengaku sudah lima kali Agustus menjual bendera dan umbul-umbul. Lima kali sudah ia berjualan di Kalbar. Akan tetapi, baru kali ini ia mendapat giliran untuk berjualan di Pontianak. ”Sebelumnya saya berjualan di Sintang dua kali, di Sekadau dua kali,” ujarnya. 

Keberangkatannya yang kelima kali ini, ia membawa beberapa temannya di Garut untuk ikut berjualan bendera di Kalbar. ”Dengar saya ada kerjaan ini, mereka ingin ikut,” umbuhnya.

Selama berjualan bendera, Asep ternyata memang tak pernah pergi sendiri. Usaha bendera itu pun bukan miliknya. Bukan juga modalnya. Ia mengaku ikut berjualan kepada seorang pedagang yang memiliki modal yang ia sebut sebagai bos.

Pertama kali ia berjualan bendera di Kalbar, Asep ditawarkan oleh seorang temannya yang juga seorang penjual bendera. Beberapa kali waktu ia menolak, namun akhirnya ia menerima tawaran teman karibnya tersebut untuk ikut berjualan bendera di Kalbar. ”Lumayan Bang buat tambahan makan anak istri di sana,” katanya yang pertama kali berjualan di Sintang 2011 silam.

Masing-masing pedagang akan mendapatkan satu karung bendera untuk dijual. Ia dapat menghabiskan satu hingga dua karung berisi bendera dan umbul-umbul. Setelah satu karung habis, barulah ia akan meminta lagi pada bosnya yang dikatakannya juga berjualan di Jalan Ahmad Yani II.

Hari Satu, ia membawa setengah karung berisi bendera dan umbul-umbul. Bendera berukuran 90cm x 60cm ia banderol dengan harga Rp30 ribu, sedang bendera berukuran 100cm x 80cm dibanderol dengan harga Rp80 ribu perlembarnya. “Tapi harganya bisa turun kalau ada yang beli banyak,” katanya lagi.

Bukan hanya pembeli perseorangan, ternyata ia juga memiliki pelanggan dari perusahaan atau instansi pemerintah. Hal itu dirasanya sangat menguntungkan karena mereka selalu mengambil bendera dalam jumlah banyak. Diakui Asep, mereka pun seperti sudah tahu kemana harus membeli bendera dan umbul-umbul. Mereka pasti menyasar pedagang sepertinya yang membuka lapak di beberapa tempat strategis di Pontianak. Walaupun sebenarnya, ia mengaku tidak memiliki kwitansi atau bon jika diminta.

Ia bisa mendapatkan omzet kotor Rp10 juta dalam satu kali musim berjualan bendera. Dari angka yang terbilang besar itu, ia hanya akan mendapatkan komisi dari total hasil penjualan. Setelah selesai berjualan, barulah ia menyetor semua keuntungan kepada pemilik usaha atau bosnya.

Ketika ia baru sampai di Pontianak, ia bersama seorang temannya langsung diarahkan ke Asrama TNI Gatot 2 Pontianak Jalan Adi Sucipto, Pontianak. Di sana ia tinggal di sebuah rumah yang menurut dia disewakan kepadanya. Mereka berdua tinggal dalam satu rumah selama berada di Pontianak.

Asep datang dengan menggunakan pesawat dari Jakarta bersama rombongannya. Setelah selesai berjualan bendera, 17 Agustus mendatang, ia akan pulang bersama temannya yang lain. ”Pulangnya nanti ongkosnya masing-masing,” katanya. Setelah ongkos pergi ke Pontianak dijamin oleh sang bos.

Selain Asep, Salah seorang penjual bendera yang juga berasal dari Jawa Barat, Danu (40) menjajakan dagangannya di depan Rumah Sakit Jiwa Jalan Alianyang, Pontianak. Ia mengaku sudah menggelar lapak sejak Senin (25/7) lalu. Berbeda dengan Asep, keesokan harinya setelah tiba di Pontianak dan menginap di rumah salah seorang temannya, Dedi (40), di asrama tentara Hidayat Jalan Alianyang, Pontianak.

Danu sudah berjualan sepuluh kali Agustus menjual bendera dan umbul-umbul di Kalbar. Sebelumnya ia pernah menggelar lapak di Jalan Prof M Yamin, Kota Baru, dan di Siantan. Ia mengaku sering berpindah untuk mendapatkan peluang yang lebih bagus dari daerah yang pernah ditempatinya. Tempat ia berjualan sekarang, merupakan kali keempatnya ia menggelar lapak bendera dan umbul-umbul. Ia beralasan, lokasinya saat ini sangat dekat dengan tempatnya menginap.

Di kota asalnya Bandung, Danu biasa bekerja sebagai tukang ojek pengkolan. Selain itu, ia juga biasa mengisi hari dengan berjualan cilok dan menjajakannya di sekitar kampung di mana ia tinggal. Baru pada akhir Juli ia akan meninggalkan pekerjaannya dan bersiap kembali menjual bendera, seperti beberapa tahun belakangan.

Seperti Asep, Danu juga mengaku bekerja pada satu orang yang memiliki modal berjualan bendera ini. Diakuinya, ia juga mengetahui Asep. Danu mengatakan, mereka mengambil modal pada satu bos yang sama selama berjualan bendera di Pontianak. “Di sini rata-rata yang berjualan bendera, satu bos semua, kami semua berjualan bendera hanya pada Bulan Agustus saja” tuturnya.(*)

Berita Terkait