Jembatan Tayan Riwayatmu Kini

Jembatan Tayan Riwayatmu Kini

  Selasa, 29 March 2016 10:04   6,087

Oleh: Drs. Ferry Yasin

SECARA  berkelakar, ketika pelajaran geografi desa-kota, penulis sering mengajukan pertanyaan apa beda desa dan kota. Jawabnya adalah, di kota jarang ada sungai, tetapi banyak jembatan. Di desa banyak sungai tetapi jarang ada jembatan. Meski hanya sebuah icebreaking (pemecah suasana), namun pertanyaan ini langsung menohok pada perbedaan signifikan antara desa dan kota dalam hal infrastruktur. Ini hal yang jamak, suatu realita yang akan selalu begitu di semua tempat di muka bumi ini. Bahwa kota pasti ramai dengan berbagai fasilitas dan infrastruktur, desa sebaliknya.

Lihat ibukota kita Jakarta, tidak pernah sepi dengan pembangunan jembatan (layang) di berbagai tempat. Tujuannya hanya satu, untuk mengatasi masalah kemacetan yang telah sangat akut. Tentunya kita maklum dengan kondisi itu, mengingat kota kebanggaan rakyat Indonesia itu telah dijejali dengan 10 juta penduduk, dan hampir sebagian besarnya selalu melakukan mobilitas. Jembatan layang menjadi salah satu solusi mengatasi kemacetan di kota besar. Lalu bagaimana dengan di desa, di pedalaman atau di daerah, masih perlukah sebuah jembatan?

Sedari kecil kita diajarkan, bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas bagi rakyat Indonesia untuk menuju destinasi masyarakat  yang adil dan makmur. Ini jelas sebuah kiasan. Sebuah jembatan yang menghubungkan dua masa yang berbeda, masa penjajahan ke masa kemerdekaan, dimana bangsa ini bisa menghirup udara bebas untuk berkarya. Jembatan emas  berarti sangat berharganya ia, sebuah jembatan yang dibangun dengan pengorbanan jiwa dan raga para pejuang tanpa pamrih. Begitu pula jembatan fisik yang dibangun dan telah selesai diresmikan di daerah Tayan ini. Ia menjadi sangat berharga paling tidak dilihat dari sudut pandang prestis, ekonomis, sosial, dan keamanan-pertahanan.

Kalimantan Barat (Kalbar) adalah negeri dengan 1001 sungai. Betapa sungai yang terpanjang di Indonesia, Sungai Kapuas, terhampar di wilayah ini. Terpapar sepanjang 1.143 km dari daerah hulu di Kapuas Hulu, kemudian berkelak-kelok membentuk meander di bagian tengahnya, dan berakhir dengan sukses menghantarkan debit air yang jumlahnya relatif permanen sepanjang tahun di kawasan delta Pontianak. Tanpa lelah paling tidak sungai ini melewati 10 kabupaten dari  14 kabupaten dan kota yang ada di bumi Borneo Barat ini. Sebuah bentang alami (natural landscap) yang membuat bibir ini tak tahan untuk berdecak kagum. Kini, sebuah bentang sosial (social landscape), sebuah jembatan ditambahkan kepadanya di daerah Tayan. 

Jadilah ia Jembatan Tayan. Diresmikan oleh Presiden Jokowi, peletakan batu pertamanya di era SBY. Ada yang menanam, ada yang memanen. Memang sebuah proyek, apalagi sekaliber jembatan, pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit dan waktu yang tidak singkat. Jadi, mohon, untuk kedua presiden dan mantan presiden yang terhormat untuk tidak saling menyindir, mengklaim siapa yang paling jago membangun. Keduanya sinergis dan pembangunan itu selalu berkesinambungan. Yang sekarang tidak akan ada tanpa yang lalu. Rakyat akan selalu bertempik sorak  ketika pembangunan itu mewujud, dan tidak sekadar di tataran wacana serta janji.

Jembatan Tayan termasuk sebuah proyek prestisius dan mencipta prestise tersendiri bagi rakyat Kalbar. Apalagi ia merupakan jembatan terpanjang di Pulau Kalimantan. Kadang sebuah bangunan dibuat oleh manusia sebagai sebuah tonggak (milestone) untuk sebuah kebanggaan, sebuah titik balik, sebuah memori, sebuah penyemangat dan, tentu saja, prestise. Di Inggris ada London Bridge, yang di bawahnya mengalir Sungai Thames. Proses pembuatannya selama 33 tahun dan selama rentang waktu 600 tahun jembatan itu mengalami berbagai perubahan, renovasi dan modifikasi--sebuah jembatan kebanggaan penduduk Kota London. Siapa yang tidak kenal Jembatan Golden Gate di San Fransisco Amerika. Dan kini telah berdiri jembatan terpanjang di dunia Kunshan Grand Bridge di China dengan panjang 165 km. 

Rupanya manusia berlomba-lomba, tidak hanya membuat bangunan paling menjulang menembus cakrawala, seperti gedung tinggi di dunia Empire State Building, menara Petronas dan terakhir yang tertinggi Burj Khalifa, tetapi juga jembatan-jembatan yang paling panjang dan spektakuler. Jembatan Tayan, juga bisa kita jadikan tonggak kebanggaan dan prestise rakyat Kalbar, bahkan sebuah ikon untuk belajar lebih keras, bekerja lebih cerdas dan menyambut infrastruktur yang lain yang akan digarap di bumi khatulistiwa ini. Pontianak memiliki simbol dan prestise Tugu Khatulistiwa, Kalbar Jembatan Tayan.

Jembatan merupakan suatu konstruksi atau bangunan penyambung pada persilangan antara jalan dan penghalang yang dibangun sesuai situasi dan kondisi setempat. Jembatan Tayan dibangun untuk menembus penghalang berupa sungai. Keberadaan jembatan ini memunculkan dampak ekonomis. Selain menembus daerah-daerah terisolasi, ia juga menyebabkan arus barang, jasa dan modal menjadi lancar. Yang selama ini kendaraan bermotor menyeberangi sungai harus turun menaiki rakit dengan biaya yang tidak sedikit, kini menjadi gratis dan ini menekan  biaya tranportasi. 

Yang selama ini akses ke wilayah lain di Kalimantan (Tengah, Selatan, Timur dan Utara) via penerbangan ke Jakarta dulu, sekarang dengan jalan darat pun sampai. Mengambil buah langsat dari Punggur Sungai Kakap dikirim ke Kalteng dan membawa batu mulia dari Kalsel  ke Pontianak aksesnya menjadi gampang.  Kehidupan ekonomi menggeliat. Bermunculan pula rest area milik masyarakat berupa rumah makan, pedagang buah-buahan dan hasil kerajinan tangan serta tempat istirahat, warung kopi, menambah pendapatan masyarakat di sekitar jembatan.

Dari segi sosial dan demografi pun memberi dampak yang sangat bermanfaat. Interaksi sosial masyarakat semakin intens dan dengan demikian tali silaturahmi semakin kuat. Komunikasi (face to face) semakin mempererat persaudaraan dan orang mulai memahami kekayaan keberagaman nilai-nilai etnis dan budaya. Orang akan berusaha untuk mengetahui dan mencoba tinggal di tempat lain untuk bekerja atau mencari penghidupan yang lebih layak, sehingga pemerataan pendapatan bisa terjadi.

Last but not least, sebuah jembatan juga bisa menjadi komponen keamanan dan pertahanan sebuah negara. Di daerah dengan topografi yang kasar,memiliki banyak sungai dan lembah, keberadaan jembatan memang sangat penting untuk aksesibilitas dan mobilitas pasukan. Memang sekarang ada alat semacam tank yang sekaligus juga dilengkapi dengan jembatan di atasnya, hingga bisa dipakai sebagai jembatan di daerah sungai, daerah cekung atau lembah (armoured vehicles launched bridge). Tetapi jembatan yang telah berdiri tegar akan lebih baik, daripada tidak ada sama sekali. Sebuah sungai ada riwayatnya, sebuah jembatan ada nilai historisnya. Jembatan Tayan baru sepenggal ‘curriculum vitae’-nya, tetapi ke depan ia akan membuat sejarahnya sendiri!

*) SMA Taruna Bumi Khatulistiwa
Kabupaten Kubu Raya