Jemaah Pontianak Tuntut Refund

Jemaah Pontianak Tuntut Refund

  Sabtu, 12 Agustus 2017 12:48
KORBAN: Jemaah First Travel saat mendatangi Bareskrim Mabes Polri, Jumat (11/8). Foto kanan, Andika Surachman dan istrinya, Anniesa Hasibuan ILHAM DWI WANCOKO/JAWAPOS

Berita Terkait

Korban First Travel Asal Kalbar Capai 102 Orang

PONTIANAK – Ratusan calon jemaah asal Kalimantan Barat menuntut First Travel mengembalikan uang mereka (refund). Di Kalbar, sedikitnya terdapat 102 jemaah yang menjadi korban biro perjalanan umrah itu, dari total 35 ribuan orang di seluruh Indonesia.

Jumlah 102 orang itu diketahui hanya melalui salah satu agen, yakni Suwindra. Diduga masih ada korban dari agen lain. Jumlahnya diperkirakan lebih dari 200 orang. “Saya minta uang saya dan mertua dikembalikan. Kami juga meminta paspor yang ditahan dikembalikan,” kata Iwan, warga Pontianak yang jadi korban First Travel saat ditemui Pontianak Post, Jumat (11/8) pagi.

Warga jalan Komyos Sudarso itu dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada Desember 2016. Ia sudah mendaftar sejak Desember 2015. “Kalau kita daftar tahun ini, kita akan berangkat tahun depan. Saya daftar Desember 2015 dan semestinya berangkat Desember 2016  ke tanah suci,” jelasnya.

Iwan bahkan mengalami dua kali penundaan keberangkatan. Sedianya ia akan berangkat Desember 2016 tetapi keberangkatan itu dijadwalkan ulang pada 11 Mei 2017. Setelah itu, jadwal kembali ditunda dan ia dijanjikan akan berangkat pada 20 Mei 2017.

Menurut Iwan, alasan First Travel saat menunda keberangkatannya waktu itu adalah pertama karena antrean. Sementara alasan kedua adalah karena putus kontrak dengan maskapai penerbangan. Bahkan pihak biro perjalanan itu juga mengeluarkan surat edaran kepada para jemaah. Intinya jika ingin berangkat segera, jemaah diharuskan menambah biaya tiga juta rupiah, dengan alasan untuk mencarter pesawat.

“Memang pada waktu itu ada surat untuk jemaah seluruh Indonesia. Bagi yang mau berangkat cepat harus menambah tiga juta rupiah untuk carter pesawat. Pada 11 Mei itu paspor sudah keluar visanya. Harusnya tinggal berangkat saja,” ungkapnya.

First Travel merupakan biro perjalanan umrah yang menawarkan tarif relatif murah. Ada tiga paket biro ini yang terdiri dari paket promo dengan nilai Rp14,3 juta, paket regular senilai Rp25 juta, paket VIP senilai Rp 54 juta. Paket promo merupakan paket yang paling banyak digunakan oleh para jemaah, termasuk Iwan.

Menurutnya, ia tertarik pada paket promo karena harganya sangat terjangkau. Selain itu, biro perjalanan ini pada 2015 lalu sempat naik daun karena memberangkatkan banyak jemaah. Selain murah, pemberangkatan pun dinilai tidak terlalu lama. Jika mendaftar pada tahun ini, tahun berikutnya sudah bisa berangkat.

Nasib serupa dialami oleh Dayang Suryani, warga Pontianak lainnya. Ia juga menjadi korban First Travel yang izinnya baru saja dibekukan pemerintah. Sebenarnya Suryani akan berangkat pada Januari 2017. Namun, hingga sekarang ia tak kunjung diberangkatkan.

“Saya sebenarnya akan berangkat Januari 2017.  Lalu dijadwalkan ulang saya akan berangkat Mei ini. Sudah dapat jadwal tetapi pas mau berangkat malah dibatalkan,” katanya saat dihubungi Pontianak Post.

Ia yang sedianya akan berangkat bersama kedua anaknya itu merasa kecewa atas kejadian ini. Ia pun menuntut refund kepada pihak First Travel. “Saya sangat kecewa karena seperti perjanjiannya mau kembalikan uang saya 100% karena saya mau ibadah. Kalau tidak bisa memberangkatkan, uangnya dikembalikan supaya bisa ikut travel yang bisa berangkatkan kita,” katanya.

Iwan dan Dayang Suryani serta korban-korban lainnya di Pontianak sudah menyerahkan pengurusan masalah ini kepada kuasa hukum mereka. Iwan bersama mertuanya sudah merogoh kocek senilai Rp34,6 juta. Sedangkan Suryani bersama kedua anaknya sudah membayar sejumlah Rp51,6 juta.

Sementara itu, Suwindra, salah seorang agen yang mendaftarkan Iwan dan Suryani bersama seratus jemaah lainnya mengaku sudah tiga minggu di Jakarta guna mengurus masalah ini. Menurutnya, pihak First Travel memberikan dua opsi kepada para jemaah. Pertama, menunggu keberangkatan dan kedua adalah refund.  “Seluruh jemaah di Kalbar yang daftar ke saya minta refund secepatnya,” kata dia.

Suwindra mengakui, selain dirinya, ada juga agen lainnya yang beroperasi di daerah ini. Karena itu, masih ada korban-korban lainnya yang tidak ia ketahui. Itu belum termasuk para jemaah asal Kalbar yang langsung mendaftar ke First Travel di Jakarta. Ia memperkirakan lebih dari 200 orang di Kalbar menjadi korban biro perjalanan ini. (gef)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait