Jelang RWMF 2016, Menjaga Ibu Bumi Dengan Aksi Penanaman Mangrove

Jelang RWMF 2016, Menjaga Ibu Bumi Dengan Aksi Penanaman Mangrove

  Jumat, 5 Agustus 2016 09:07
TANAM POHON: Artis dan awak media dari berbagai negara melakukan penanaman mangrove di Wetland, Sarawak, Malaysia kemarin. Penanaman pohon ini merupakan rangkaian dari Rainforest World Music Festival 2016. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

KUCHING-Sebelum perhelatan Rainforest World Music Festival (RWMF) 2016 yang akan berlangsung 5-7 Agustus 2016, sehari sebelumnya diadakan penanaman pohon mangrove bersama di Kuching Wetlands National Park, Kamis (4/8) pagi.
Ratusan tamu undangan hadir, mulai dari para pejabat KJRI, pihak sponsor, awak media, serta para seniman grup musik dari berbagai negara yang akan tampil di RWMF tahun ini.
Perjalanan menuju lokasi konservasi mangrove di Kuching Wetlands National Park memakan waktu sekitar satu jam setengah, dari penginapan para peserta di Damai Beach Resort. Seluruh peserta berangkat menggunakan bus pukul 07.00, dilanjutkan menumpangi speed boad dengan waktu tempuh sekitar 10 menit.
Sesampaianya di lokasi, dimulai acara seremonial terlebih dahulu. Dilanjutkan dengan penanaman bibit mangrove oleh masing-maisng peserta. Chief Executive Officer, Sarawak Tourism Board (STB) Datuk Ik Pahon mengungkapkan, kegiatan penanaman pohon ini merupakan salah satu Corporate Social Responsibility (CSR) pihak penyelenggara yaitu Sarawak Tourism Board (STB), didukung oleh Petronas. "Mungkin sekarang kegiatan ini terkesan sederhana, tapi jika dilihat dampaknya ke depan terhadap dunia sangat besar," ujarnya.
Dia mengaku sangat senang melihat antusias para peserta. Dia menilai kegiatan ini penting untuk melestarikan ekosistem hutan tropis. Sebab kalimantan adalah salah satu paru-paru dunia. Artinya menjaga hutan Kalimantan bisa dikatakan sama dengan menjaga ibu dari bumi.
Sementar itu, Petugas Jawatan Kehutanan Sarawak, Irma Diana Ardi menjelaksan luas lahan Kuching Wetlands National Park mencapai 6.610 hektar. Sebesar 121 hektar diantaranya masuk dalam program penanaman ulang karena mengalami kerusakan akibat banjir pada 2009 silam.


"Program reboisasi dimulai 2010, sampai sekarang sudah sekitar 68 ribu bibit mangrove yang ditanam," jelasnya.
Sampai saat ini dari 121 hektar lahan yang rusak baru 60 hektar yang sudah dilakukan penanaman ulang. "Tahun 2018 diperkirakan bisa mencakup 80 persen lahan yang rusak," katanya.
Menurtnya program ini sangat penting sebagai penyeimbang kelestarian alam sebab semakian hari kian banyak hutan bakau yang rusak. Apalagi di kawasan lindung ini hidup berbagai satwa endemik khas kalimantan seperti buaya, bekantan dan bangau botak.
"Buaya ada sekitar 500 ekor yang tinggal liar di sini, sementara bekantan hanya tinggal 100-an saja," pungkasnya. Untuk RWMF sendiri akan dimulai, Jumat (5/8). Ada 17 grup musik internasional dan 8 grup musik asal Malaysia yang akan memeriahkan even tahunan ini selama tiga hari ke depan.(bar)

Berita Terkait