Jejak Jaringan Hilang

Jejak Jaringan Hilang

  Jumat, 21 Oktober 2016 08:45

Berita Terkait

Pelaku Tewas, Dua Kakak Pelaku yang Anggota Polisi Diperiksa

JAKARTA - Aksi teror penusukan pada tiga polisi di Pos Polisi Cikokol Tangerang yang dilakukan pemuda berinisial SA, 22, bakal sulit dideteksi. Pasalnya, pelaku tunggal aksi tersebut meninggal dunia, kendati sempat diperiksa dalam perjalanan untuk mendapatkan pengobatan. 

Kadivhumas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar memastikan bahwa SA meninggal dunia dikarenakan kehabisan darah saat dilarikan ke rumah sakit. ”Kehabisan darah itu akibat luka tembak di perut dan kaki yang terpaksa dilakukan karena pelaku melukai tiga petugas,” tuturnya.

Awalnya, bila pelaku masih hidup, tentu penyelidikan terhadap aksi dan jaringan teror akan jauh lebih mudah. Namun, dengan kondisi saat ini, maka ada sejumlah pilihan yang akan ditempuh. Seperti, mengenali asal pelaku dan menganalisis bahan peladak. ”Setelah pemeriksaan dan analisa, baru akan diketahui,” jelasnya.

Boy Rafli menambahkan, pihaknya akan mendalami bagaimana pelaku bisa terlibat jaringan teror dan memiliki pemahaman radikal yang kemudian membuatnya melakukan aksi teror. ”Kalau dilihat, usianya masih sangat muda, kelahiran 1994 atau baru 22 tahun,” ujarnya.

Dengan kejadian penyerangan anggota polisi ini, maka setiap anggota kepolisian diharapkan bisa lebih waspada saat bertugas. Setiap anggota polisi diharapkan selalu berhati-hati saat melayani masyarakat. ”Apalagi penyerangan itu dilakukan saat anggota mengatur lalu lintas,” terangnya.    

Di bagian lain, Kabagpenum Divhumas Mabes Polri Kombespol Martinus Sitompul menuturkan bahwa dipastikan pelaku berinisial SA ini memiliki dua kakak yang berprofesi sebagai anggota polisi. Satu kakaknya berdinas di lantas Polres Tangerang dan seorang lainnya di reserse narkotika. ”Dengan pengetahuan ini, maka kedua kakaknya akan diperiksa,” terangnya.

Pemeriksaan akan difokuskan untuk mengetahui latar belakang aksi yang dilakukan SA dan mendalami jaringan yang mungkin berafiliasi dengan pelaku. ”Keduanya keluarga. Mungkin saja mengetahui,” katanya.

Hal lain yang juga dinilai perlu diklarifikasi adalah soal adanya temuan sejumlah peluru dari pelaku. Peluru tersebut kemungkinan didapatkan dengan mencuri milik kakaknya. ”Itu perlu dipastikan,” ujar Sitompul.

Kedua kakak pelaku saat ini telah diperiksa Densus 88. Sejauh informasi yang didapat, kedua kakaknya tinggal terpisah dari adiknya yang menjadi pelaku aksi penusukan. ”Keduanya belum mengetahui dari mana adiknya bisa terlibat jaringan teror. Mereka jarang berkomunikasi,” jelasnya.

Berdasarkan keterangan kedua kakaknya, pelaku memang dikenal pendiam. Namun, ada indikasi bahwa pelaku memang sangat terbiasa mengakses internet dan browsing ke situs-situs tertentu. ”Belum diketahui apakah pelaku direkrut melalui internet atau tidak,” terangnya.

Peluang bahwa pelaku memiliki afiliasi dengan kelompok tertentu masih tetap terbuka. Bisa jadi pelaku merupakan simpatisan dari kelompok teror. ”Semua masih didalami, belum ada kejelasan,” papar polisi dengan tiga melati di pundak tersebut. 

Golok dari Pandai Besi 

Aksi nekat Sultan Aziansyah diduga telah direncanakan sebelumnya. Dari penelusuran, pelaku diketahui memesan golok jauh hari sebelum kejadian. Nurdiansyah, 21, rekan sekaligus tetangga pelaku di Desa Lebak Wangi, Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang mengungkapkan golok yang digunakan pelaku untuk menusuk anggota polisi diduga kuat berasal dari H. Jamin, pandai besi yang rumahnya berjarak 200 meter dari kediaman pelaku.

"Malam Minggu (16/10) baru jadi (goloknya, Red), dia (Sultan, Red) langsung ambil ke situ (rumah H. Jamin)," ungkapnya saat ditemui di sekitar rumah pelaku di Desa Lebak Wangi, kemarin (20/10). Namun, kata Nurdiansyah, pelaku tidak mengatakan untuk apa golok yang dipesannya tersebut. "Gak tau kalau masalah itu (golok buat apa, Red). Saya tahunya dia ke belakang (ke rumah Jamin ambil golok, Red)," terangnya.

Selain sudah memesan golok jauh hari, rencana aksi tersebut juga diketahui dari pembicaraan Sultan dengan salah seorang tokoh pemuda desa setempat beberapa waktu lalu. Sultan sempat menyampaikan pepesan saat perbincangan itu.

"Dia (Sultan, Red) bilang ke ketua korlap (organisasi pemuda, Red) saya kalau sebelum tahun baru (2017) kampung ini (Desa Lebak Wangi, Red) akan ramai," ungkap anggota organisasi pemuda ini. Diduga kuat, pepesan itu merujuk aksi brutal yang dilakukan Sultan.

Nurdiansyah dan pemuda yang mengetahui pemesanan golok serta pepesan tersebut mengaku tidak menaruh curiga. Hal itu mengingat sejak tinggal di Lebak Wangi lima tahun lalu, pelaku dikenal memiliki pribadi yang tertutup. Pelaku jarang bergaul dengan pemuda kampung setempat. "Sehari dua hari sebelum kejadian, dia gak ada di rumah," paparnya.

H. Jamin, pandai besi yang tinggal di belakang rumah pelaku mengamini bila Sultan memesan golok kepadanya jauh hari sebelum kejadian. Namun, dia tidak bisa menjelaskan secara detail kapan pemesanan itu lantaran keterbatasan ingatan. "Tidak hanya dia (Sultan, Red), yang pesan golok di saya banyak. Saya lupa karena sudah tua," ujarnya sambil menunjuk rambut dan jenggotnya yang sudah memutih.

Ketua RT 04 Muhidin menambahkan, meski jarang bergaul, Sultan bersama keluarganya selama ini dikenal sopan. Pelaku tinggal bersama orang tua, kakak ipar dan keponakan yang masih berusia belia. Sebelumnya, keluarga Sultan tinggal di asrama polisi (aspol) Kelurahan Pasar Baru, Karawaci. "Orangnya (Sultan, Red) pendiem, gak gaul. Kalau bapak ibunya bermasyarakat kayak lainnya," tuturnya.

Hanafi, 29, rekan sekaligus tetangga pelaku mengamini bila Sultan memiliki pribadi tertutup. Selama tinggal di kampung tersebut, pelaku lebih sering pergi ke masjid yang berada di belakang rumahnya ketimbang berkumpul dengan pemuda setempat. Sultan juga lebih sering latihan beladiri seorang diri setiap pagi setelah salat subuh daripada latihan silat bersama pemuda lain.

"Jarang nongkrong seperti kebiasaan pemuda di sini (Desa Lebak Wangi, Red). Kalau keluar rumah seringnya ke masjid sama ke warung beli gas elpiji," tuturnya.

Terkait penusukan polisi, Hanafi menilai adanya motif sakit hati. Menurutnya, Sultan sempat mengikuti tes masuk anggota Polri pada 2012 dan 2013. Namun selalu gagal. Kegagalan itu diduga kuat membuat pelaku benci dengan institusi Polri. "Padahal keluarganya banyak yang jadi polisi," tuturnya.

Sementara itu, kemarin rumah pelaku di Desa Lebak Wangi dalam kondisi terkunci sejak siang sampai tadi malam. Garis polisi sempat terpasang di depan rumah pelaku pada pukul 11.00. 

Petugas dari Polda Metro Jaya juga melakukan penggeledahan dan menjemput ibu, kakak ipar serta keponakan Sultan. Ayah dan kakak pelaku informasinya sedang tidak berada di rumah saat penggeledahan tersebut. Sampai berita ini ditulis, belum ada pihak keluarga yang memberikan pernyataan. (idr/tyo)

Berita Terkait