JAUHI REZEKI YANG HARAM

JAUHI REZEKI YANG HARAM

Jumat, 7 Oktober 2016 07:53   421

Rasulullah SAW bersabda “Andaikata kamu kehilangan segala-galanya, harta tidak punya, rumah tidak ada, penghormatan tidak ada , hidup sakit – sakitan, namun engkau mendapatkan Allah, engkau memiliki segala-galanya. Sebaliknya jika engkau mendapatkan segala yang engkau inginkan dari kehidupan duniawi ini, namun engkau tidak mendapatkan Allah, maka engkau kehilangan segala-galanya.”

Penyebab jauhnya atau berjaraknya kita dengan Allah, antara lain karena termakan dari rezeki yang haram atau tidak sah. Di antaranya Rasulullah SAW bersabda ”Barangsiapa yang memakan sedikit yang haram, maka tidak diterima salatnya selama 40 hari“. “Sesungguhnya Allah mengharamkan jasad yang tumbuh dari barang haram untuk masuk surga”. ( HR.Bukhari – Muslim ) “Jika sesuatu yang haram sampai masuk ke kerongkongan seorang hamba maka seluruh malaikat langit dan bumi akan melaknatnya“. ”Ibadah yang disertai makan makanan haram seperti membangun di atas debu”. 

“ Jika seseorang mencampur hartanya dengan yang haram, maka tidak akan diterima haji, umrah dan silaturrahminya “.Dalam hadis lain beliau SAW bersabda “ Seseorang yang meninggalkan sesuap nasi haram lebih utama daripada salat sunat seribu rekaat dan seribu kali haji “. Subhanallah.

Zaid bin Khalid Al Juhani bercerita dalam perang Hunain. Seseorang dilaporkan syahid kepada Nabi SAW. Beliau SAW bersabda “ Salatkan sahabatmu itu.”.Mendengar perintah tersebut para sahabat berubah wajahnya. Kenapa? Sebab orang yang mati syahid seharusnya tidak disalati. Zaid bertanya “ Kenapa wahai Rasulullah !? “. Beliau SAW menjawab “ Sesungguhnya sahabatmu itu  telah berbuat khianat dalam perjuangan dijalan Allah “. Zaid kemudian membongkar barang milik orang itu dan ternyata menemukan beberapa buah permata milik orang Yahudi seharga kurang lebih dua dirham atau setara dengan Rp6.000. Memang menunaikan amanah tidak lepas dari masalah kejujuran. Bayangkan gara-gara menggelapkan barang senilai Rp6.000, pahala syahidnya gugur. Rasulullah SAW tidak ingin ikut mensalatkannya. 

Kasus lain lagi. Tatkala Rasulullah SAW sibuk membagikan rampasan perang Hunain, seorang Abshar datang dengan membawa seutas tali. Seraya menunjukkan tali yang diambil dari tumpukan rampasan perang itu, dia berkata “ Ya Rasulullah, saya mengambil ini untuk mengikat onta yang lepas “. Nabi SAW menjawab “ Bila itu dari bagianku ,maka aku relakan “. Si Anshar itu kontan bergumam “ Kalau sampai begitu, maka aku tidak butuh “. Tali itu pun dikembalikannya. Jadi meski seutas tali, bila belum menjadi hak pribadi, haram diambil. Statusnya harta gelap atau korupsi. 

Di zaman Rasulullah SAW bagi pejabat yang mencoba mengkorupsi sepotong jarum pun akan ditindak. Dalam beberapa hadis yang disahihkan Imam Abu Daud disampaikan bahwa Nabi SAW bersabda “ Barangsiapa yang bekerja dengan kami dan telah digaji dan diberi fasilitas, lalu menggelapkan harta, walau Cuma sepotong jarum, maka dia dinilai berkhianat “.

Allah swt berfirman “ Barangsiapa berbuat khianat, pada hari kiamat ia akan datang membawa hasil apa yang dikhianatinya. Kemudian setiap orang akan menerima balasan setimpal terhadap apa yang telah dilakukannya dan mereka tidak diperlakukan secara zalim “( Ali Imran 161 ).

Dakhil bin Guhnaim Al Aswad penulis buku “ Kepada Para Pedagang “, antara lain menulis “ Berhati – hatilah jangan sampai Anda menjadi orang yang menzalimi saudara sendiri. Zalim karena Anda mengambil hartanya dengan cara yang tidak dibenarkan. Sungguh, kelak benar –benar akan datang kepada Allah di hari ketika perhitungan sama sekali tidak menggunakan dirham dan dinar, akan tetapi menggunakan pahala atau dosa “. Sebab Rasulullah SAW bersabda “ Barangsiapa yang mempunyai barang – barang dari hasil menzalimi saudaranya, maka hendaknya dia meminta kerelaan dari saudaranya itu. Sebab kelak di akhirat, dinar dan dirham, tidak berguna lagi, sebelum kebaikan ( pahalanya ) diberikan kepada saudara yang dizaliminya itu. Apabila dia tidak mempunyai kebaikan ( pahala ) maka dosa-dosa saudaranya itu diambil lalu dilemparkan kepadanya.” ( HR.Bukhari ). Dalam bagian lain Dakhil menulis “ Memakan makanan yang diharamkan sesungguhnya bisa mendatangkan kesialan bagi pelakunya serta mendatangkan siksaan yang pedih di dunia dan di akhirat. Seseorang yang makan makanan yang haram, doanya tidak akan dikabulkan. Karenanya renungkanlah di antara dua hal ini, semoga Allah membimbing anda. Manakah yang anda pilih. Pertama , doa dikabulkan dan anda diberi bimbingan di dunia dan di akhirat. Atau, pintu – pintu ditutup sehingga doa yang anda panjatkan tidak dikabulkan. Anda tidak diberi bimbingan di dunia dan di akhirat, dan seluruh kebaikan diharamkan bagi anda, hanya karena anda mengambil hak orang lain dengan jalan haram ?”.

Hadaanallah “ Semoga Allah memberikan kita hidayah “. Wallahu’alam.

*) Tokoh agama Ketapang

Uti Konsen