Jauh-jauh dari Desa, Menunggu tak Jelas

Jauh-jauh dari Desa, Menunggu tak Jelas

  Minggu, 18 September 2016 10:40
MENUNGGU: Warga yang terpaksa harus antre menunggu pelayanan kependudukan di Disdukcapil Kabupaten Kapuas Hulu untuk melakukan perekaman e-KTP. MUSTA’AN/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Warga Keluhkan Pelayanan Akta Lama

PUTUSSIBAU – Jarak tempuh dari desa dan kecamatan menuju ibukota Kabupaten Kapuas Hulu sangatlah jauh. Rerata mereka membutuhkan waktu 3 hingga 4 jam, terutama mereka yang tinggal di daerah pedalaman. Sementara, mereka harus mengurus langsung akta kependudukan ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), dengan proses pelayanan cukup lama.

Untuk menuju Kota Putussibau, masyarakat yang ada di kecamatan dapat mengunakan jalur transportasi darat dan Sungai Kapuas. Hal ini dikarenakan sampai saat ini masih ada desa dan kecamatan yang belum memiliki jalan darat yang memadai. Untuk menghubungkan dari kecamatan menuju kota kabupaten yakni Kecamatan Bunut Hilir dan Embaloh Hilir, kedua kecamatan ini masih terisolir.

Masyarakat mengeluhkan jauh dan besarnya biaya transportasi untuk pergi ke Putussibau, hanya untuk mengurus berbagai dokumen yang mereka perlukan. Dokumen-dokumen yang diperlukan seperti pembuatan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP), akta kelahiran, kartu keluarga (KK), dan lain-lainnya yang harus diurus ke kabupaten. “Kalau mengurus Akta lahir dan lainnya kami ke Putussibau,” ucap Yani, warga Bujut Hilir.

Yani mengaku kesal, karena Disdukcapil menunda pemberian dokumen akta kelahiran yang dia urus. "Saya disuruh menunggu oleh petugas dengan batas waktu yang tidak jelas berapa lama," katanya, Jumat (16/9). 

Dia mengatakan, sesuai jadwal yang diberikan petugas Disdukcapil, dirinya sudah bisa mengambil akta kelahiran pada Rabu (14/9) pagi, namun ternyata akta lahirnya belum selesai.

"Petugas bilang harus tunggu tanda tangan lagi, sebab Kepala Dinas sedang sakit. Padahal sesuai dengan isi surat pengambilan, saya disuruh mengambil akta kelahiran hari ini,"  ucapnya kesal. Dia mengaku untuk mengambil akta kelahiran tersebut, harus datang jauh-jauh dari Kecamatan Bunut Hilir ke Putussibau.

"Bunut – Putussibau itu jaraknya 3 jam pakai speedboat. Belum biaya transportasinya pulang-pergi Rp240 ribu, itu belum termasuk ongkos ojek  dan penginapan," jelasnya. 

Warga Kecamatan Semitau, Yola, juga mengaku kesal karena tidak dapat mengambil akta kelahiran pada hari yang sama. Dia sampai meninggalkan pekerjaan hanya untuk mengambil akta kelahiran tersebut ke Putussibau.(aan) 

Berita Terkait