Jatuh karena Cuaca Buruk

Jatuh karena Cuaca Buruk

  Senin, 21 March 2016 09:05
GRAFIS:BUDIKECIK/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PALU – Pesawat helikopter milik TNI AD jatuh di Dusun Pattiro Bajo, Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Jumat (20/3) pukul 17.55 Wita. Heli yang membawa 13 penumpang itu terbang dari Desa Watutau Kecamatan Lore Utara menuju Poso pada pukul 17.30. Namun saat terbang di atas perkebunan Kasiguncu heli itu jatuh. Semua penumpang dikabarkan meninggal. Diduga heli itu jatuh karena cuaca buruk.

Korban perwira yang meninggal antara lain Kolonel Inf Saiful Anwar, Kolonel Inf Ontang, Kolonel Inf Heri Setiaji, Letkol Cpm Tedi dan Mayor Inf Faki. Kolonel Ontang sebelumnya pernah menjabat Asisten Intel Kodam XII Tanjungpura. Pria yang bertubuh besar ini sangat akrab dengan wartawan. Korban lain adalah Lettu Cpn Wiradi. Dia alumni SMA Taruna Bumi Khatulistiwa di Jalan Ahmad Yani, II Kubu Raya. Wiradi merupakan angkatan 11 di STBK. 

Helikopter yang jatuh itu sedang dilibatkan dalam Operasi Tinombala. Yakni operasi perburuan kelompok teroris Santoso Cs di Poso. Kepala Penerangan Kodam VII Wirabuana, Kolonel CZI I Made Sutia, turut membenarkan jatuhnya helikopter yang memang berpangkalan di Kodam Wirabuana tersebut. 

Para penumpang yang diketahui ikut dalam helikopter tersebut, yakni Danrem 132 Tadulako, Kolonel Inf Syaiful Anwar, Kolonel Inf Ontang (BIN), Kolonel Inf Herry (Bais), Letkol CPM Teddy (Dandenpom Palu), Mayor Inf Faqih (Kapenrem Tadulako), Kapten CKM Yanto (Dokter Denkesyah Palu), Prada Kiki (Ajudan Danrem), serta 8 orang crew heli masing-masing; Kapten CPN Agung (Pilot), Wiradi (Co Pilot), Tito (Co Pilot), Sert Bagus (Mekanik), Serda Karmin (Mekanik), dan Pratu Bangkit (Avionic). 

“Helinya jatuh dan terbakar. Proses evakuasi masih terus berjalan,” kata seorang sumber. 

Terpisah, Kepala Penerangan Kodam VII Wirabuana, Kolonel CZI I Made Sutia, turut membenarkan jatuhnya helikopter yang memang berpangkalan di Kodam Wirabuana tersebut. Made sendiri hingga kini terus mengumpulkan informasi dari TKP. “Benar, memang Danrem juga salah satu penumpang didalamnya. Tapi kita masih memastikan lagi,” sebut Made. 

Pangdam VII Wirabuana Mayjen TNI Agus Suryabakti, membenarkan adanya musibah jatuhnya helikopter milik TNI di Poso, Sulawesi Tengah, Minggu (20/3) petang. Menurutnya, ada 13 orang yang menjadi korban dalam tragedi nahas itu.

"Iya, 13 orang meninggal dunia. Saat mau pendaratan cuaca banyak petir, kemudian terbakar dan jatuh," kata Agus, Minggu malam.

Sebanyak 13 korban itu, termasuk pimpinan rombongan Dandrem Kol Inf Syaiful Anwar, dalam rangka operasi bantuan terhadap Polri di Poso.

"Itu sedang tugas perbantuan pada Polri, pengendalian pada pasukan di lapangan. Sehingga danrem bersama tim berangkat, mengupdate tim lapangan," jelas Agus.

Pantauan di lokasi kejadian, kondisi helikopter hancur dengan 80 persen terbakar. Sampai berita ini ditulis, lokasi kecelakaan dijaga ketat aparat keamanan TNI dan Polri. Seluruh penumpang dan awak kru yang menjadi korban langsung dievakuasi ke RSUD Poso yang berjarak sekitar 15 kilometer dari TKP.  

“Kami dengar memang suara ledakan. Tapi kami kira suara petir karena kondisi waktu itu memang lagi hujan. Eh ternyata heli yang jatuh,” kata beberapa warga di lokasi. “Kami turut berduka atas musibah ini,” lanjut mereka. Tampak ratusan warga memadati lokasi jatuhnya pesawat dan ikut membantu proses evakuasi korban.

Kepala Polres Poso AKBP Rony Suseno yang dikonfirmasi terpisah juga membenarkan terjadinya musibah kecelakaan jatuhnya helikopter milik TNI-AD di wilayah desa Petirobajo Poso Pesisir. 

Kondisi jenazah menurut petugas medis RSU Poso, sebagian besar sulit dikenali karena mengalami luka bakar. Sedangkan empat jenazah lainnya masih bisa dikenali di antaranya, Danrem, Kapenrem dan dari BIN.

Wakil Bupati Poso Samsuri tampak berada di pelataran kamar jenazah RSUD Poso untuk melihat langsung kondisi korban.  

Cuaca Buruk 

Sementara forecaster Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mutiara Palu, Rio Marthadi mengungkapkan, pada umumnya kondisi cuaca di Sulawesi Tengah (Sulteng) sejak pagi hingga sore harinya kurang bagus dan tidak bersahabat, khususnya di wilayah Sulawesi bagian timur. Di daerah tersebut terdapat tiupan angin yang tidak terarah dan potensi pertumbuhan awan-awan konvektif sangat besar. Terkait insiden terjatuhnya helikopter, kata Rio, kondisi cuaca pada saat heli terbang dan menuju ke Poso buruk. 

Menurutnya, sekitar pukul 17.00 saja mulai bertumbuhnya awan konvektif sekitar Danau Poso, Kecamatan Pamona dan bagian Lore. “Buruk sekali. Artinya awan konvektif sangat banyak. Jam lima sore saja kondisi cuaca sangat tidak memungkinkan untuk penerbangan berangkat ke Poso,” jelas Rio.

Pertumbuhan awan konvektif mulai membesar mulai pukul 17.20 hingga 17.40 wita, bahkan ditambah dengan adanya angin dari daerah timur laut seperti dari Ampana dan Luwuk, membuat pertumbuhan awan konvektif semakin meningkat di kawasan Poso, Lore dan Napu. 

“Sudah timbul awan konvektif ditambah lagi dari sana daerah Luwuk dan Ampana, maka semakin buruk lah cuaca di sekitar Poso,” sebutnya.

Rio mengatakan, sekitar pukul 18.00 saat terjadi awan konvektif semakin dominan yang dapat mengakibatkan terjadinya petir, hujan deras dan angin yang tidak terarah. “Kecepatannya angin sekitar pukul 17 mencapai 40 knot atau 20 meter per detik. Anginnya seperti belalai gajah yang muter-muter,” pungkasnya. (agg/bud/jpnn)

Penumpang Heli Nahas

1. Kolonel Inf Saiful Anwar (Danrem 132/Tdl)
2. Kolonel Heri (BAIS)
3. Kolonel Inf Ontang RP (Satgas Intel Imbangan)
4. Letkol Cpm Tedy (Dandenpom)
5. Mayor Inf Faqih (Kapten Rem)
6. dr Kapt Yanto
7. Prada Kiki (Ajudan Danrem)
8. Kapten Cpn Agung
9. Lettu Cpn Wiradi
10. Letda Cpn Tito
11. Serda Karmin
12. Sertu Bagus
13. Pratu Bangkit

Berita Terkait