Jas Merah

Jas Merah

  Selasa, 10 November 2015 08:40   1

Oleh: Meli Mulyadi

Presiden pertama Republik Indonesia, Bapak Bangsa kita, Bung Karno telah berwasiat kepada kita, generasi penerus bangsa agar JAngan Sekali-kali MEelupakan sejaRAH. Pesan beliau tentu merupakan nasehat berharga bagi kita. Demi perjalanan Negara Indonesia kedepannya.

Dengan mengetahui sejarah, kita dapat mengambil pelajaran berharga mengenai hal-hal yang tidak boleh terulang kembali. Ataupun hal-hal yang harus kita lakukan demi kesuksesan masa depan. Selain itu, dengan mengetahui sejarah bangsa, diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan anak negri terhadap negaranya. Sejarah tokoh berpengaruh, sejarah pemerintahan negara, maupun sejarah berdirinya suatu tempat dan asal-usul nama sebuah daerah wajib dijadikan bahan edukasi bagi generasi penerus. Oleh karena itu, pemerintah telah berusaha semaksimal mungkin untuk mengabadikan objek sejarah baik fisik maupun non fisik. Dapat disebutkan di antaranya seperti pembukuan cerita lisan, pendirian museum, maupun pemeliharaan situs bersejarah agar masyarakat tidak lupa akan sejarah tersebut. Tetapi tentunya usaha maksimal dari pemerintah masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah, dalam mencapai kesempurnaan. Salah satu contohnya adalah Sejarah Kelurahan Saigon di Pontianak Timur.

Seperti yang disebutkan, Kelurahan Saigon memiliki sejarah yang unik untuk dilestarikan. Asal-usul nama kelurahan Saigon terkait erat dengan nama pendirinya yaitu H. Mohammad Yusuf Saigon. Nama Saigon ternyata memang berhubungan dengan nama sebuah kota di negara Vietnam, Kota Saigon.

Muhammad Yusuf Saigon al-Banjari (meninggal 1 September 1942) adalah anak laki-laki dari Muhammad Thasin Al-banjari yang mengembara ke beberapa wilayah hingga ke Brunei dan Sabah untuk menyebarkan agama Islam terutama dalam bidang ilmu tajwid. Muhammad Thasin al-Banjari meneruskan perantauannya ke Pontianak, Kalimantan Barat dan menikah dengan perempuan bernama Fatimah dan mempunyai tiga orang anak lelaki, yaitu Muhammad Yusuf, Muhammad Arsyad dan Abdur Rahman. Muhammad Yusuf lahir di Kampung Banjar Baru Pontianak daerah tepi Sungai Kapuas yang dikenal dengan Banjar Serasan.

Pada masa mudanya, seperti ayahnya, Muhammad Yusuf adalah perantau. Ia mengembara ke berbagai daerah di Indonesia sampai ke Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Kamboja dan Vietnam. Ia merupakan pedagang intan dan berlian. Di Vietnam ia menikah dengan Putri Sarijah binti Muhammah Sholehia yang masih keturunan raja-raja dari Vietnam Selatan dan dikaruniai empat orang anak (1 perempuan, 3 laki-laki).

Setelah cukup lama merantau Muhammad Yusuf kembali ke Pontianak bersama istrinya Putri Sarijah dan anak-anaknya dengan membawa bibit-bibit karet. Di Kampung Saigon sekarang inilah ia membuka hutan dan membangun perkebunan karet yang luas. Pada saat pembukaan tempat itu, dia memberikan nama kampung itu dengan Kampung Saigon. Nama itu diberikan untuk mengenang istrinya yang berasal dari Saigon, Vietnam Selatan. Ia yang awalnya bernama Muhammad Yusuf Al-Banjari mengganti namanya menjadi Muhammad Yusuf Saigon.

Perkebunan karetnya maju pesat dan usahanya mengantarkannya menjadi saudagar kaya pada saat itu. Bahkan Muhammad Yusuf Saigon mendapat penghargaan dari Pemerintah Belanda sebagai penghasil karet yang paling bagus di Indonesia tahun 1900-an. Selain itu Muhammad Yusuf Saigon juga membuka koperasi yang menjadi koperasi pertama di Kalimantan Barat.

Tidak ketinggalan kepedulian Muhammad Yusuf Saigon terhadap pendidikan agama yaitu dengan membuka pesantren dengan nama Saigoniah School dan santri belajar tanpa bayar. Murid-muridnya tersebar di berbagai daerah mulai dari Ketapang, Singkawang, Sambas, Sintang, dan sebagainya. Pesantren Saigoniah School ini  menelurkan beberapa ulama besar salah satunya yaitu H. Muhammad Muctar Nasir, salah satu Imam Besar Masjid Istiqlal. Sekarang gedung Saigoniah School menjadi SDN 03 Pontianak Timur.

Muhammad Yusuf Saigon meninggal pada Bulan Desember 1942 dalam usia ke-103 tahun. Makamnya berada di areal Pemakaman Muslim H. M. Yusuf Saigon yang terdapat di jalan H.Yusuf Karim. Jadi nama Kampong Saigon yang sekarang ini menjadi nama kelurahan Saigon awalnya merupakan perkebunan karet milik Muhammad Yusuf Saigon.

Beberapa jejak sejarah Kelurahan Saigon masih bisa ditemukan di Kelurahan Saigon sekarang. Diantaranya adalah rumah salah satu keturunan H. Mohammad Yusuf Saigon yang saat ini kondisinya tidak terawat dan terbengkalai di Jl. Tanjung Raya 2, Gg. H. Rajak. Selain itu ada ditemukan relief sejarah awal kelurahan Saigon di jalan masuk menuju makam H. Mohammad Yusuf Saigon. Oleh karena itu, dengan situs sejarah yang ada, sebenarnya bisa dijadikan potensi wisata baik wisata edukasi maupun religi yang akhirnya akan melestarikan sejarah tersebut agar diketahui generasi penerus bangsa.

Tulisan ini tentu saja masih banyak kekurangan di dalamnya, sehingga masih besar terbuka peluang untuk menggali lebih dalam sejarah Kelurahan Saigon dengan berbagai literatur yang ada. Baik berupa dokumen, peninggalan fisik, maupun sumber dari para keturunan H. Muhammad Yusuf Saigon yang tentu saja berharap akan peran lebih pemerintah untuk melestarikan sejarah Kelurahan Saigon. Sebagai pemuda, pelajar mahasiswa dan unsur masyarakat lainnya, Mari kita bantu pemerintah untuk menggali jejak sejarah Kelurahan Saigon, di Pontianak Timur, maupun sejarah daerah lainnya demi kekayaan peninggalan Bangsa Indonesia. JAS MERAH. Salam...

 

*)Mahasiswa Teknik Arsitektursedang tugas perancangan kota

di Kelurahan Saigon