Jangan Terbuai La Nina

Jangan Terbuai La Nina

  Senin, 25 April 2016 09:30

Berita Terkait

BNPB: Tidak Mungkin Bisa Zero Titik Api 

PONTIANAK – Tak ada lagi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) adalah salah satu tekad yang dicanangkan pemerintah tahun ini. Sebab, tahun lalu, bencana yang memicu munculnya asap itu sudah begitu merugikan dan memalukan. Tahun ini, kebakaran hutan diprediksi masih akan terjadi saat musim kering tiba. Namun intensitasnya diperkirakan tak separah tahun lalu. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, tahun ini la nina bakal mampir ke Indonesia. Pernyataan itu seolah mengisyaratkan bahwa musim kemarau di sisa tahun tak akan separah 2015. Tak lebih dari empat bulan. Namun, publik tak boleh tertidur dengan nina bobo itu. Kemungkinan munculnya titik api pada 2016 diprediksi masih tinggi. 

Di Kalimantan Barat, kebakaran hutan dan lahan diperkirakan terjadi antara lain di Ketapang, Kayong Utara, Mempawah dan Kapuas Hulu. Untuk mengantisipasinya, sejumlah instansi seperti kepolisian, TNI, Manggala Agni BKSDA Kalbar dan masyarakat telah melakukan sejumlah persiapan. Salah satunya membentuk 1.720 pleton siaga api di tiap desa di Kalimantan Barat. 

Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto menargetkan zero titik api di wilayah hukumnya pada 2016 ini. “Tahun ini, saya targetkan zero titik api dan tidak ada penindakan hukum. Karena saya berharap mampu melakukan pencegahan kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya beberapa waktu lalu. 

Untuk mencapai target zero titik api tersebut, pihaknya dan instansi terkait akan mengupayakan semaksimal mungkin melakukan pencegahan agar tidak ada titik api. Salah satunya dengan membangun sinergisitas dengan instansi lain dalam menekan seminimal mungkin titik api sepanjang 2016 ini.

Selain itu, menurut Arief pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan pihak Kodam XII Tanjungpura dan menyatakan kesiapannya untuk memobilisasi prajurit dalam melakukan sosialisasi pencegahan pembakaran hutan dan lahan dan lain sebagainya. Sementara itu, untuk langkah-langkah penegakan hukum, yakni menekan seminimal mungkin langkah tersebut, dengan lebih mengedepankan langkah-langkah pencegahan.

Wahana Lingkungan Indonesia (WALHI) ikut menegaskan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini masih ada. Manajer Kampanye Walhi Zenzi menyatakan, pemerintah dan publik tak boleh terlena dengan prediksi musim panas yang pendek. Pasalnya, degradasi alam di Indonesia sudah pada tahap yang membuat kawasan hutan dan lahan liar mudah terbakar dalam waktu yang singkat.

Berkaca dari tahun lalu, pemerintah juga sempat terlena usai BMKG menyatakan el nino yang mampir ke Indonesia tidak akan lama. Akibatnya, banyak pihak yang akhirnya mengendorkan kesiapsiagaannya. Hal itu kemudian berujung pada kebakaran hebat yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan. Bahkan, Papua yang selalu zero fire dilaporkan mengalami kebakaran hutan dan halan yang tak kalah luasnya dengan dua pulau tersebut.

’’Terlebih lagi untuk lahan gambut. Praktek oknum-oknum yang membuat kanal secara ilegal di lahan gambut sudah pasti membuat persediaan air di sana menghilang saat musim kering. Beda dengan tanah mineral yang bakal subur jika di sekitarnya ada jalur air, persediaan air di lahan gambut justru bakal mengalir ke kanal,’’ terangnya.

Hal tersebut lah yang membuat skala karhutla tahun ini bisa sama dengan tahun lalu. Dia mengambil contoh awal tahun di mana sudah ditemukan ratusan titik api terutama di wilayah gambut yang tereksploitasi seperti Riau dan Kalimantan. Padahal, durasi musim kemarau hanya Februari dan Maret saja.

’’Awal tahun lalu saja sudah timbul dampak asap yang mempengaruhi wilayah kota Riau. Memang, saat ini memasuki musim hujan di wilayah-wilayah kantong titik api. Tapi, ini seperti tenang sebelum badai. Kalau saja musim kemarau bertahan minimal tiga bulan, maka puncak dampak titik api dan asap bisa seperti tahun lalu,’’ terangnya.

Tahun lalu, data KLHK tentang emisi gas karbon dari karhutla mencapai 1,1 gigaton CO­2­-eq (setara CO2). Dari total emisi tersebut, kebakaran lahan gambut menyumbang 76 persen dengan total 855 mega ton CO­2­-eq. Meski tahun ini kemungkinan emisinya tak sebesar itu, Zenzi menegaskan bahwa dampak asap pada puncak kemarau bisa sebesar tahun lalu. 

Di tengah keraguan publik terkait karhutla, pemerintah masih kukuh mengeluarkan optimisme dalam penanganan karhutla tahun ini. Selain faktor musim kemarau yang lebih pendek, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar mengaku bahwa upaya penanganan karhutla tahun ini lebih baik.

’’Saya rasa instruksi presiden kepada Kepolisian dan TNI untuk membantu penanganan karhutla sangat efektif. Hal itu terbukti dari catatan tentang titik api awal tahun yang jauh lebih kecil dibanding tahun lalu,’’ terangnya.

Dia menerangkan, titik api yang muncul pada periode Januari hingga awal April hanya mencapai 29 persen dari angka tahun lalu. Hal tersebut pun diperlihatkan dari beberapa wilayah yang rawan kebarakan hutan. Misalnya, titik api Provinsi Riau pada awal 2016 yang tercatat hanya mencapai 18 persen dibanding tahun lalu.

’’Tentu masih ada titik apinya. Karena pencegahan karhutla di daerah itu tidak mudah. Yang dilacak sebagai hotspot di daerah itu belum tentu titik api. Setelah dicek oleh tim, ternyata hotspot itu bisa ditimbulkan oleh refleksi dari bangunan seng, lokasi pembuatan batu bata, atau tempat pembakaran limbah kain dan sampah,’’ jelasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead menegaskan bahwa pihaknya sudah mempersiapkan program untuk memperbaiki lahan-lahan gambut yang rawan terbakar. Dalam hal ini, pihaknya mengaku sudah melakukan pemetaan dan mempersiapkan langkah perbaikan lahan gambut yang komprehensif.

’’Kami sudah menerapkan delapan provinsi yang perlu mendapatkan restorasi lahan gambut. Diantaranya, empat kabupaten menjadi prioritas untuk tahun ini. Yakni, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng; Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau; serta Kabupaten Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel,’’ terangnya.

Dia menerangkan, pihaknya saat ini sedang memetakan empat kabupaten prioritas untuk membedakan lahan yang harus dilindungi dan lahan yang bisa dibudidaya. Setelah itu, baru pihaknya pihaknya berencana untuk melakukan tahap-tahap pemulihan lahan gambut.  Dimulai dengan menaikkan permukaan air hingga revegetasi tanaman di lahan gambut eks terbakar.

Terpisah, Badan Nasional Penanggulangan Nasional (BNPB) memastikan jika semua jajarannya di tingkat BNPB Daerah berada dalam kondisi siaga. Hal ini tidak lepas dari sudah ditetapkannya status siaga darurat oleh kepala daerah di lokasi rawan kebakaran hutan sejak maret lalu. “Dengan peningkatan status tersebut, otomatis posko-posko sudah didirikan,” kata Kepala Humas BNPB, Sutopo.

Sebagai informasi, BMKG telah mengeluarkan prediksi bila musim kemarau tahun ini tidak akan selama tahun lalu. Sebab, indeks El nino, yang menyebabkan musim kemarau panjang dan kering tahun lalu, sudah menurun hingga 1 persen. 

”Seluruh wilayah Indonesia menghadapi musim kemarau mulai Mei-Juni nanti. Diharapkan September sudah muncul la nina,” tutur Deputi Bidang Meteorologi BMKG Yunus Subagyo Swarinoto. 

Dengan datanya la nina ini, otomatis berdampak besar pada musim hujan tahun ini. Intensitas hujan akan jauh lebih banyak, terutama untuk wilayah Indonesia bagian selatan katulistiwa. Selain itu, berdampak pada musim hujan, la nina juga dipresdiksi membuat musim kemarau nanti akan jadi lebih basah. ”Jika normal, musim kemarau dalam bulan Juli-Agustus hujan bisa nol, maka tahun ini, hujan akan turun sesekali. Sehingga satu bulan tidak nol sama sekali,” jelasnya. 

Tapi, Yunus, sapaan akrabnya, member catatan. Kondisi ini terjadi bila la nina dalam skala kuat. Oleh kerananya, semua pihak diharapkan tidak terlena dan tetap waspada soal kemungkinan berbeda. 

Sama seperti tahun lalu. Saat el nino diperkirakan lemah sehingga tidak berdampak nyata pada musim kemarau di Indonesia. Nyatanya, el nino datang kuat dan menyebabkan kemarau panjang dan kering. Sehingga, banyak pihak kecolongan. Kebakaran hutan dan lahan pun meluah hingga tak bisa ditangani.  (arf/mia/bil/JPG/c10/kim) 

Berita Terkait