Jangan Paksa Kerja Saat Sakit

Jangan Paksa Kerja Saat Sakit

  Senin, 15 February 2016 07:45

Berita Terkait

Rutinitas kerja tentu saja menguras tenaga, waktu, juga pikiran. Bila tak terkendali, bisa berpengaruh pada kondisi kesehatan. Padahal kedua-duanya saling menunjang agar pekerjaan yang dihasilkan menjadi optimal, dan fisik tetap terjaga kebugarannya.Oleh : Marsita Riandini

Lelah saat bekerja kerap dirasakan semua orang. Beragam cara mereka menyikapinya, ada yang memilih menunda melanjutkan pekerjaan, ada pula yang memilih tetap bertahan untuk menyelesaikan pekerjaan. Namun hal penting yang harus dipahami bahwa kesehatan jauh lebih berharga untuk selalu dijaga. Jika kondisi seseorang sakit, maka kinerja yang dihasilkan tentu tidak maksimal. Demikian yang disampaikan oleh Dr. Fitri Sukmawati, M. Psi, Psikolog kepada For Her.

Seringkali sejumlah orang dihadapkan pada pilihan, antara pekerjaan atau kesehatan. Tentu saja ini pilihan sulit. Apalagi jika pekerjaan itu menuntut agar diselesaikan dalam waktu dekat. “Pekerjaan dan kesehatan sama-sama pentingnya. Tetapi jika kondisi sakit, tetap saja kesehatan harus diutamakan,”beritahu Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Kalbar ini.

Jika sakit yang dialami masih memungkinkan untuk bekerja, silahkan jika dirasa masih bisa bekerja secara optimal. Tetapi jangan dipaksakan jika ternyata kondisi fisik tidak kuat. “Sampaikan kepada atasan jika memang tidak mampu. Atasan pasti memahami, apalagi jika sakit yang diderita cukup serius,” sarannya.

Berbagilah pekerjaan kepada teman jika ternyata tugas menumpuk. Dengan begitu pekerjaan menjadi lebih ringan. “Jangan menyembunyikan dari orang lain ketika rasa sakit menyerang. Semakin dipaksakan tubuh akan semakin lemah. Cobalah untuk beristirahat sejenak sampai menemukan suasana tubuh yang lebih nyaman untuk kembali bekerja. Minumlah obat, jika memang itu bisa membuat kondisi lebih baik,”ulas dia.

 

Fitri mengatakan, jangan memaksa menjadi hero atau pahlawan bagi diri sendiri. Sebab setiap orang memiliki batasan maksimal dalam hal apapun, termasuk kondisi kesehatan. Sekalipun pekerjaan itu disenangi, tetap saja larut dalam rutinitas kerja membutuhkan energi. “Meskipun ada yang merasa kesibukan kerja membuat dia lupa pada penyakit yang diderita, itu tidak masalah. Bagus kalau bisa termotivasi seperti itu. Tetapi bukan berarti melupakan untuk memeriksakan kondisi kesehatan. Apalagi jika ternyata semakin dibawa kerja semakin sakit,” papar dia.

Tak hanya penyakit yang menderita fisik saja, sering pula orang yang bekerja membutuhkan kesegaran pikiran. Psikologisnya tertekan, terutama ketika deadline-deadline pekerjaan di depan mata. “Kalau masalahnya psikologis, juga membutuhkan refreshing. Membuat suasana hati kembali nyaman untuk bekerja,” timpal dia.

Refreshing tak harus mengambil cuti, juga tak harus pergi ke tempat yang jauh. Berhenti sejenak dari pekerjaan, dan beristirahat itu juga bisa membuat otak kembali segar. “Stress yang dirasakan menjadi berkurang. Bisa pula jalan-jalan sebentar, atau mencari waktu khusus untuk nonton,”ulasnya.

Refreshing bukannya untuk lari dari masalah, melainkan untuk memberikan waktu bagi seseorang untuk menjernihkan pikirannya. Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam untuk menenangkan pikirannya. “Jika ternyata beban yang dirasakan begitu kuat, cobalah untuk berbagi cerita dengan orang yang dipercaya, agar lebih tenang,” pungkasnya. **

Berita Terkait