Jangan Biarkan Anak Memendam Masalah

Jangan Biarkan Anak Memendam Masalah

  Rabu, 25 November 2015 08:41

Berita Terkait

Akhir-akhir ini, kasus bunuh diri, membunuh yang melibatkan anak-anak sebagai pelakunya kerap terjadi. Tentu ini menjadi persoalan besar bangsa ini, jangan sampai remaja berpikir solusi menyelesaikan masalah adalah dengan mengakhiri hidupnya. Tak hanya orang tua, tetapi juga diperlukan peran keluarga dan masyarakat.Oleh : Marsita Riandini

Beragam persoalan muncul dalam hidup manusia. Tak terkecuali persoalan asmara yang mengalami pergeseran mengikuti perkembangan zaman. Bila dulu usia remaja hanyalah cinta-cinta monyet, tapi sekarang banyak remaja yang sudah serius dalam menjalin asmara, sehingga mereka tidak siap bila ternyata hubungannya kandas di tengah jalan.
Menanggapi hal itu, Endah Fitriani, M. Psi, Psikolog mengatakan pergeseran tersebut terjadi karena remaja dipengaruhi oleh teknologi yang canggih. Mereka bisa mengakses banyak hal dengan mudah, termasuk situs pornografi. “Penanaman agama yang baik sangat penting bagi anak, termasuk mengontrol anak saat menggunakan teknologi. Apa saja yang dibuatnya, untuk apa dan sebagainya,” kata Konselor di BKKBN Perwakilan Kalbar ini.
Cara mereka menyikapi masalah asmara pun beragam. Ada yang memikirkannya berhari-hari, ada pula yang bisa dengan mudah melupakannya. “Manusia memiliki karakter yang berbeda. Bagi mereka yang ekstrovert, maka dia cenderung lebih terbuka dalam setiap masalahnya. Mau menceritakannya pada orang lain, mendiskusikannya hingga tidak menjadi beban dalam dirinya,” ujarnya.
Lain halnya jika mereka termasuk yang introvert. Mereka cenderung tertutup, memendam masalah sendiri. Inilah yang kemudian bisa memunculkan beragam ide mereka untuk menyelesaikan masalah. “Kalau mereka tidak menemukan solusi yang tepat, tidak pula mau berbagi, ini yang kemudian mebuat mereka nekat untuk mengakhiri hidupnya,“ tambahnya.

Saat ini lanjut Endah, jangankan usia sekolah menengah, usia sekolah dasar pun banyak yang sudah mengenal cinta. “Saya biasanya dapat curhatan anak yang baru masuk SMP tentang cinta. Kalau sudah begini, saya selalu bilang ke mereka bahwa cinta ada batasannya. Saat sekarang, mereka bisa menjadikan itu untuk memotivasi diri sebatas mengenal dia saja. Kalau yang ditaksir termasuk anak yang pintar, bagaimana dia juga bisa lebih jauh pintar dari anak tersebut,” guru Bimbingan Konseling di SMP Negeri 10 Pontianak ini.
Namun, tidak semua anak bisa menerima hal itu. Bila dia memendam terlalu jauh dan menganggap cintanya itu segalanya, ini yang berbahaya. Apapun bisa anak lakukan untuk mendapatkan solusi yang dianggap mereka terbaik.  Maka perlu peran orang tua untuk mendampingi anak, sehingga mereka mendapatkan solusi yang tepat. “Dalam hal ini kenapa anak bisa bunuh diri, mungkin komunikasi orang tua kepada anaknya renggang. Meskipun kita tidak bisa menyalahkan orang tua. Biar bagaimanapun peran lingkungan membentuk, baik masyarakat maupun sekolah dan keluarga,” katanya.

Jika masalah bunuh diri karena putus cinta, maka sering kali sang pacar menjadi objek yang disalahkan, baik secara langsung maupun tidak. Endah menyarankan agar adanya pendampingan terhadap sang pacar, agar dia tidak semakin tertekan, apalagi jika usianya di bawah umur. “Kita tidak tahu apa alasan, kenapa kandasnya hubungan mereka berdua. Ada banyak faktor penyebabnya,” tambahnya.Peran keluarga sangat diutamakan  agar dia tidak merasa bahwa yang terjadi semuanya karena dia. Bisa saja rasa bersalah dan tanggapan negatif orang lain terhadap dirinya membuatnya frustasi.  “Sebaiknya hal ini dijadikan pembelajaran, bukan untuk menyalahkan. Kita semua introspeksi diri,” pungkasnya.

 

Berita Terkait