Jamu Keliling Tak Lagi ”Digendong”

Jamu Keliling Tak Lagi ”Digendong”

  Rabu, 17 Agustus 2016 11:09
MIFTAH/PONTIANAK POST MOKO JAMU: David (50) sedang melayani pelanggan di gerai jamu miliknya, Senin (15/8) malam. Dengan mobil toko atau mobil toko, membuat ia dapat berjualan dengan lebih mudah dan fleksibel. Beberapa kursi di depan moko miliknya juga disiapkan untuk menjaga kenyamanan pelanggan.

Berita Terkait

Inovasi Pemasaran Produk Tradisional

Dahulu, jamu dijajakan dengan cara digendong oleh penjualnya atau dengan membuka gerai khusus jamu di pinggir jalan. Kini, jamu sebagai produk tradisional itu juga bertransformasi dalam pemasarannya. Dua pebisnis ini berhasil mengubah citra jamu yang identik dengan pola pemasaran tradisional .

Miftahul Khair, Pontianak

CARA berjualan dengan cara digendong oleh penjualnya atau dengan kios kecil yang dijajakan di pinggir jalan, kini dianggap sudah tak sesuai lagi dengan perkembangan selera di masyarakat. Untuk melayani mereka yang gemar menyesap jamu, cara menjajakan pun mesti berevolusi.

Animo (hasrat) masyarakat akan konsumsi jamu tradisional seakan tak surut meski zaman kian modern. Salah satu alasannya ialah karena efek samping negatif jamu tidak terlalu tinggi dibandingkan mengonsumsi obat kimia bila dikonsumsi dalam jumlah banyak dan jangka waktu yang panjang. Minuman herbal ini justru membutuhkan rutinitas dari pasien untuk mengonsumsinya.

Sudah dari asalnya kebanyakan penduduk Indonesia terutama di pulau Jawa, akrab dan bahkan sangat menyukai jenis minuman menyehatkan satu ini. selain banyak dijumpai di mana-mana, harga per porsi jamu tradisional juga terjangkau. Ini diungkapkan David (50), seorang penjual jamu yang mengubah pola pemasaran jamu dengan menggunakan mobil keliling, sebagai pengganti gerainya. Ia menamakan gerai miliknya “Jamu Jawa Asli”.

David menuturkan, jamu merupakan salah satu pengobatan yang sangat ampuh. Bukan hanya sebagai pengobatan alternatif atau pilihan. “Dari pegal linu sampai kanker ada ramuannya,” kata David, Senin (15/8) kemarin. Dengan bekal keyakinan seperti itu, ia lalu mulai berjualan minuman jamu berisikan ramuan tradisional. “Bukan jamu dalam kemasan atau sachet­-an biasa,” katanya.

Cara berjualannya pun cukup unik. Begitulah ia mengatakannya. Karena masih jarang sekali ditemukan di pasaran. Ia berjualan menggunakan moko atau mobil toko. Pemasaran produk tradisional dengan cara itu, menurut David memberikan kemudahan baginya. Ia tidak akan merasa dibebani membayar sewa ruko atau kios. Dengan berjualan menggunakan moko, ia merasa segmentasinya akan lebih tepat. “Karena kan jamu ini rata-rata dijualnya malam, jadi lebih nyaman kalau hanya menggunakan moko,” katanya.

Untungnya lagi, minat masyarakat terhadap caranya berjualan itu terbilang tinggi. Terparkir rapi di Jalan Kom Yos Soedarso, tepatnya di depan Universitas Panca Bhakti, gerai miliknya selalu ramai dikunjungi setiap malam. Dari berbagai keluhan dan usia, semua telah nyaman menggunakan jasanya.

Berjualan dengan menggunakan moko tersebut membuat david dapat memangkas modal awal usahanya. “Biaya sewa ruko akan sangat tinggi daripada berjualan dengan moko,” katanya. Moko miliknya pun bukan moko mewah yang biasa dilihat di Jakarta atau Bandung, atau kota besar lainnya.

David berjualan dengan mobil bekas yang dimodifikasinya sedemikian rupa. Dari sana, omzet yang didapat bisa lebih dimaksimalkan, kata David pelan. Sekitar 30 persen dari pendapatannya perbulan, setelah dipotong untuk kemudian diputarkan kembali.

Beda dengan David, penjual jamu lainnnya, Novi Andriny me-modern-kan pemasaran jamu tardisional dengan mengubah bentuk kemasan jamu. Ia berusaha mengubah tampilan jamu dengan menggunakan botol modern. Tampilan unik dan menarik tersebut membuat Jamu dapat memasuki segmen anak muda, setidaknya seperti itulah menurutnya.

Ia mengatakan, sejak dilaunching 20 Mei lalu, tampilan produk miliknya “Jamu Kite” unik itu mendapatkan respon positif dari masyarakat. “Mungkin karena tampilannya yang modern dan menarik mata,” katanya. Jamu Kite membawa tampilan menarik untuk menggoda para pelanggannya. Botol modern nan unik tersebut seolah membuat produknya bukanlah jamu tradisional.

Penjualannya pun sudah sampai ke Singkawang. Kegemaran masyarakat untuk mengonsumsi jamu kini sudah cukup membooming. Begitu pula di Pontianak. Namun rasa jamu yang umumnya pahit, agaknya menjadi sedikit hambatan, mendorong berkembangnya kegemaran meminum jamu. 

Maka Novi Andriny pun mencoba mengolah produk jamu yang rasanya tidak pahit. Tak ayal, jamunya pun dilirik berbagai segmen pelanggan. Cukup banyak para penggemar jamu yang ingin mencoba sensasi minum jamu produksinya. Dan masyarakat awam pun dapat menikmati kenikmatan rasanya, sembari mendapatkan khasiatnya.

Ia menuturkan, kemasan merupakan gebrakan pertama yang dapat ditonjolkan para pengusaha. Apalagi bagi para pengusaha yang menawarkan produk tak biasa seperti yang dia kerjakan saat ini. “Butuh sesuatu yang bisa menarik pelanggan,” katanya.

Faktanya, lanjut Novi, para konsumen dan pelanggan selalu saja menantikan inovasi baru dari para pengusahaa. Mereka seolah bosan dengan tampilan satu produk. Salah satu cara yang efektif ialah membuat produk dengan tampilan yang mengikuti trend. Hal itu juga dapat mengantisipasi hobi masyarakat untuk memfoto produk lalu mengunggahnya ke media sosial terpenuhi.(*)    

Berita Terkait