Jamaah Calon Haji Antisipasi Cuaca Ekstrem di Arafah

Jamaah Calon Haji Antisipasi Cuaca Ekstrem di Arafah

  Minggu, 11 September 2016 11:25
FOTO REUTERS

Berita Terkait

 

MAKKAH – Siang ini jamaah haji dari seluruh dunia berkumpul di Padang Arafah untuk mengikuti prosesi wukuf. Sejak kemarin pagi sebagian jamaah sudah tiba di sana. Sebagian besar berdiam diri di tenda-tenda yang sudah disiapkan, sebagian lagi menempat jabal rahmah, tempat yang diyakini sebagai titik pertemuan Adam dan Hawa.

Pergeseran jamaah haji menuju prosesi puncak haji dimulai Jumat (9/9) malam. Banyak di antara jamaah yang berangkat menuju Mina untuk melakukan tarwiyah. Yakni, beristirahat dan menginap di Mina sebelum menuju Arafah. Jalanan-jalanan utama menuju Mina juga dipenuhi bus-bus yang membawa jamaah. 

Khusus dari Indonesia, yang mengikuti prosesi tarwiyah mencapai 12.925 jamaah. “Data ini berdasarkan laporan yang masuk pada Jumat (9/9) malam,” ujar Kasi Bimbingan Ibadah PPIH Arab Saudi Tawwabuddin Muh Mulyana.

    Kepala Daker Makkah PPIH Arab Saudi Arsyad Hidayat mengungapkan, pihaknya tetap melakukan pemantauan kepada para jamaah yang memilih berangkat lebih awal ke Mina untuk melakukan tarwiyah. Para petugas perlindungan jamaah dari unsur TNI-Polri diterjunkan untuk mengawal. ”Termasuk juga kalau seandainya jamaah satu kloter berangkat semua. Petugas akan mendamping mereka,'' katanya.

    Pemerintah sedari awal memutuskan tidak memfasilitasi transportasi jamaahyang melaksanakan ritual tarwiyah. Jamaah haji Indonesia yang tidak melaksanakan prosesi tarwiyah bergerak langsung dari pemondokan-pemondokan di Makkah sejak pukul 07.00 pagi hingga tadi malam. Satu jam sebelum penjemputan, para jamaah sudah bersiap di depan pemondokan masing-masing.

    Jamaah kloter 20 embarkasi Jakarta Pondok Gede, misalnya, sudah bersiap di pemondokan nomor 604 menunggu jemputan pukul 10.30. Mereka membawa tas berisi perbekalan. ”Untuk makan siang di Arafah. Ada yang bawa roti, nasi, dan minuman,” ujar Ahmad Muzani, jamaah asal Lampung.

    Pada hari pertama di Arafah, makanan diberikan pada malam hari. Setelah itu, baru diberikan sebanyak tiga kali per hari hingga seluruh rangkaian prosesi puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina tuntas.  ”Jamaah akan mendapat 15 kali jatah katering dan sekali snack berat,” kata Ahmad. Tantangan terberat selama Arafah adalah cuaca. Sebab, semua jamaah berkumpul di tenda-tenda yang langsung terpapat sinar matahari.

”Sekitar 70 persen lebih jamaah di kloter kami masuk golongan risiko tinggi. Saling mengingatkan membantu jika ada yang kesulitan,” ujarnya.

    Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin akan menyampaikan sambutan untuk jamaah haji Indonesia di Arafah menjelang dhuhur. Hal yang sama juga dilakukan Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia di Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel. Khutbah wukuf akan disampaikan oleh Naib Amirul Hajj KH Miftahul Ahyar.  

    Koordinator Konsultan Ibadah PPIH Prof Aswadi Syuhada mengungkapkan, jamaah haji yang hendak menjalani prosesi puncak haji harus menyiapkan tujuh hal. Di antaranya perbekalan fisik dan mental yang cukup, akhlak mulia, banyak zikir, serta Istighfar. ”Banyak-banyak berdoa, kemudian terbebas dan membebaskan, serta tekat untuk berikhtiar dalam merealisasikan doa,” ujarnya.

    Hingga siang kemarin dua jamaah meninggal di Arafah. Mereka adalah Sarah Marjuki Sere, 84, jamaah kloter 33 Embarkasi Jakarta Pondok Gede, dan Sanipah Kawi Sholeh, 76, jamaah kloter 30 embarkasi Surabaya. 

 

Kurangi Plastik Daging Kurban

Sementara itu pelaksanaan kurban menjadi sorotan kementerian Lingkungan Hidup. Mmasyarakat diimbau tidak menggunakan kantong plastik untuk daging kurban. Imbauan tersebut dikeluarkan pemerintah sebagai antisipasi membludaknya timbulan sampah non-organik usai bagi-bagi daging saat Idul Adha. ”Imbauan itu sebaiknya dilakukan untuk mengurangi sampah plastik,” ujar Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) R. Sudirman, kemarin (10/9). 

KLHK sudah menyebarkan imbauan tersebut melalui surat edaran (SE) yang ditujukan ke gubernur, bupati/walikota, dan majelis ulama Indonesia (MUI). Pihaknya berharap pemerintah daerah dan stake holder agama Islam menyampaikan imbauan itu sebagai tindaklanjut gerakan pengurangan sampah yang sulit terurai. ”Sifatnya imbauan, tapi lebih baik dilakukan,” ungkapnya.  Sebagai gantinya, KLHK merekomendasikan panitia kurban menggunakan kantong kertas atau karton untuk tempat daging. Cara lain, masyarakat juga bisa membawa wadah daging dari rumah masing-masing. ”Tahun ini kami akan menghitung sampah plastik daging kurban untuk melihat sejauh mana kesadaran masyarakat,” terangnya.

Selain kantong plastik, KLHK juga meminta masyarakat tidak meninggalkan alas salat dari kertas bekas di kompleks masjid. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kebiasaan itu masih sering terlihat di sebagian besar daerah. Kebiasaan itu menyebabkan besarnya timbulan sampah di sejumlah titik-titik tertentu. 

Sudirman mengatakan, pihaknya tengah merumuskan formula untuk mengurai persoalan timbulan sampah tersebut. Dia berencana bekerjasama dengan pabrik plastik untuk membuat wadah daging kurban yang bersifat berkelanjutan. Misalnya membagikan lunch box (kotak nasi) untuk tempat daging. ”Nanti kami akan membahasnya dengan pihak-pihak terkait, paling tidak tahun depan sudah bisa diterapkan,” imbuhnya. 

(tyo/ca)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait