Jalan Panjang Menuju Seri Kelima

Jalan Panjang Menuju Seri Kelima

  Rabu, 13 April 2016 09:45

SEBELUM Street Fighter, ada sejumlah fighting game lain. Misalnya, Yie Ar Kung-Fu buatan Konami yang masih bisa kita temukan di antara koleksi game mesin Famicom 8-bit. Tapi, Street
Fighter –terutama Street Fighter II– memelopori genre fighting yang kita kenal sekarang. Konsep dua karakter berhadapan di mana setiap karakter punya health point dan serangkaian jurus
yang membutuhkan kelihaian memainkan joystick atau D-pad menjadi pakem yang berlaku di nyaris semua fighting game hingga sekarang. Yang jadi berkembang hanyalah kompleksitas sistem
pertarungan dan kualitas audiovisual. Belum lama ini, Capcom merilis Street Fighter V. Untuk merayakannya, mari kita menyimak perjalanan serial legendaris Street Fighter yang paralel dengan
riwayat genre fighting game. (c14/ray)

Street Fighter
Muncul kali pertama di mesin arcade pada 1987. Karakter yang bisa dimainkan hanya dua, yaitu Ryu dan Ken, dua rival sekaligus sahabat yang kemampuan tarungnya sama persis. Setelah pertarungan awal antara keduanya, sang pemenang akan menjelajahi berbagai negara untuk menantang para jagoan di sana. Ada delapan petarung lain. Semua merupakan laki-laki. Lawan terakhirnya adalah Sagat, ahli kickboxing asal Thailand. RYU BELIA: Perhatikan bahwa dia berambut merah dengan sepatu selop yang juga berwarna merah. CAPCOM

Street Fighter II
Sejarah yang sesungguhnya dimulai pada 1991. Sistem jurusnya lebih kompleks. Ada yang menggunakan charging. Ada juga yang menekan tombol berkali-kali. Konsep kombo berkembang, bukan oleh sistem yang disediakan produsen. Tapi, sistem itu ditemukan sendiri oleh para pemain. Dalam Street Fighter II versi pertama, disuguhkan delapan pilihan karakter yang dapat dimainkan. Ditambah empat karakter boss yang hanya bisa ditantang. Dalam versi selanjutnya, keempat boss dapat dimainkan plus fasilitas mengadu karakter yang sama. Jumlah versi pengembangan seri kedua ini cukup banyak. Versi pemungkasnya adalah Super Street Fighter II X yang memperkenalkan jurus Super Combo. 

Street Fighter Zero
Sukses film Street Fighter II Movie memotivasi Capcom memproduksi Street Fighter Zero (Amerika: Street Fighter Alpha) yang grafisnya kental dengan nuansa anime. Latar waktunya adalah sebelum Street Fighter II. Sistem pertarungan ditingkatkan secara drastis. Dalam Super Combo, kini tersedia tiga level kekuatan. Ada juga Zero Counter sebagai satu-satunya cara memotong Super Combo. 

Street Fighter EX
Genre fighting 3D makin populer pada 1996, terutama dimeriahkan serial Tekken milik Namco. Capcom berusaha menandinginya dengan Street Fighter EX yang dikerjakan bersama developer independen Arika. Konsep grafisnya 3D, tapi dengan sistem pertarungan tetap 2D. Sebagian penggemar genre fighting menyukai dipertahankannya adu jurus ala Street Fighter. Sayangnya,
kualitas grafis 3D-nya inferior sehingga tenggelam oleh Tekken. Meski begitu, pengalaman proyek tersebut merupakan landasan penting bagi seri-seri Street Fighter masa kini.

Street Fighter III
Akhirnya, Street Fighter mencapai seri angka ketiga. Capcom menggunakan arcade board canggih yang memungkinkan karakter berukuran besar teranimasi secara sangat halus. Proyek Street Fighter III mengganti nyaris semua karakter Street Fighter II, kecuali Ryu dan Ken. Sayangnya, para wajah baru kurang sukses menandingi popularitas pendahulunya.

Street Fighter IV
Setelah seri ketiga, Street Fighter vakum cukup lama. The King of Fighters milik SNK, lalu pendatang baru Guilty Gear milik Arc System Works, mengisi kekosongan. Hingga akhirnya, Street Fighter IV kembali menggebrak pada 2008. Capcom mengusung grafis 3D dengan gaya sumi-e. Visual tersebut berpadu sempurna dengan sistem pertarungan yang tetap 2D.

Street Fighter x Tekken
Seri keempat segera menempatkan Street Fighter ke singgasana. Capcom lantas menggandeng Namco Bandai –produsen Tekken– untuk proyek kolaborasi. Para karakter Street Fighter diadu
dengan para karakter Tekken. Konsep grafis dan permainannya mirip Street Fighter IV. Namco Bandai juga berhak menggunakan para karakter Street Fighter dalam proyek mereka sendiri yang berjudul Tekken x Street Fighter (iya, cuma membalik judul). Yang ini konsepnyamengacu kepada serial Tekken. 

 

Street Fighter V

Bagaimana jika konsep grafis unik Street Fighter IV dijalankan Unreal Engine IV, engine grafis tercanggih saat ini? Heboh, tentu saja. Capcom membuat Street Fighter V dengan engine yang saat ini juga sedang dipakai untuk membuat Final Fantasy VII Remake dan Dragon Quest XI. Latar cerita Street Fighter IV berlangsung setelah akhir Street Fighter IV dan menjelang awal Street Fighter III. Empat karakter baru diperkenalkan, yakni Laura, ahli jujitsu gaya Brasil; Rashid, petarung dari Arab; F.A.N.G., pembunuh bayaran yang ahli racun; serta Necalli, dewa perang yang hidup abadi. Selain itu, ada selusin wajah lama yang grafisnya diperbarui agar sesuai dengan teknologi grafis yang digunakan. Sistem pertarungan kali ini lebih mirip dengan Street Fighter Zero, yaitu dengan berbagai kegunaan V-Gauge. Ditambahkan pula teknik focus attack yang  erupa dengan guard break
dari seri Street Fighter EX. Oh iya, medan
pertarungan kini juga memegang peranan. Para
karakter bisa dihantam hingga menembus
tembok seperti serial Dead or Alive. Atau
terlempar masuk ke bus ketika kalah.
Ada sejumlah kritik bahwa seri kelima ini tidak
banyak menampilkan pilihan karakter dan
sistem pertarungannya tidak terlalu drastis
berubah. Sebenarnya semua itu terkait dengan
kebijakan baru Capcom yang tidak akan merilis
versi-versi pengembangan dalam game
tersendiri seperti terdahulu. Jadi, tidak bakal
ada Super Street Fighter V atau semacamnya.
Sebagai gantinya, segala pengembangan
–termasuk karakter baru– bisa langsung
di-download konsumen begitu tersedia.
Konsumen dapat membayarnya dengan Fight
Money yang diperoleh dengan sering-sering
bermain. Atau dengan uang sungguhan bagi
yang ingin menghemat waktu.