Jalan Nanga Mao-Serawai Rusak, Bensin Rp25-30 Ribu per Liter

Jalan Nanga Mao-Serawai Rusak, Bensin Rp25-30 Ribu per Liter

  Senin, 20 November 2017 10:00
RUSAK PARAH: Jalur jalan provinsi sepanjang 66 km, antara Nanga Mao – Tebidah - Serawai yang menghubungkan 200 desa dari 8 kecamatan di kabupaten yang mengalami rusak parah. DENY/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

SINTANG sejumlah kepala desa dan tokoh masyarakat dari ruas jalan Nanga Mao - Serawai - Ambalau, Kabupaten Sintang, provinsi Kalimantan Barat akhirnya mendatangi gedung DPRD Kalbar. Kedatangan mereka diterima Suyanto Tanjung, anggota DPRD Kalbar dari daerah pemilihan Sintang-Melawi - Kapuas Hulu. Mereka mewakili suara 20 ribu masyarakat menuntut Pemprov Kalbar menganggarkan jalan rusak sepanjang 66 kilometer pada APBD tahun 2018. 

“Sayangnya tak ada anggaran di rancangan APBD 2018. Saya sampai berkelahi dengan Dinas PUPR Kalbar di rapat dengan Komisi V, Jumat pagi. Padahal sebelumnya saya sudah pernah bertandang ke rumah dinas Gubernur Kalbar dan membicarakan hal ini. Sudah oke. Ternyata tak dimasukan ke Dinas PUPR Kalbar,” katanya dengan nada kecewa Jum’at (17/11) dihadapan kepala desa dan tokoh masyarakat Serawai-Ambalau di Pontianak.

Yopi Bira Kepala Desa, Riam Sablon, Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang mengaku kecewa perbaikan ruas jalan Serawai-Ambalau hanya mimpi belaka. “Jalannya rusak sudah puluhan tahun. Tak ada perhatian Pemprov Kalbar. Kami sebagai masyarakat merasa kecewa. Jalur daratnya tak bisa dilewati,” ujarnya.

Jalan sepanjang 66 km memang rusak parah. Ada 200 desa dan 8 kecamatan pada jalur jalan provinsi ini. Dampak kerusakan jalan ini membuat puluhan ribu jiwa merasakan belum merdeka. ”Bagaimana mau merdeka. Harga kebutuhan pokok nyaris serupa dengan di Papua,” ucapnya.

Seperti harga satu liter bensin yang susah diperoleh berkisar Rp25 sampai 30 ribu/liter. Harga beras sekitar Rp25 ribu perkilogram. Padahal daerah perkotaan hanya Rp9.500-12.500/per kilogram. Harga tabung gas elpiji isi 3 kilogram Rp55 ribu/tabung. Sementara harga semen mencapai Rp300 ribu/per sak. “Harga transportasi darat juga mahal untuk melewati jalur ini. Sering ada sumbangan Rp5.000 per titik. Setidaknya ada 25 titik,” ucapnya.

Guna menyiasati mahalnya harga kebutuhan pokok di sana, puluhan ribu warga hanya bisa pasrah. Mereka hidup apa adanya. Sebagian masyarakat di sana bercocok tanam menjadi petani. Artinya sebagian beras tidak dibeli tetapi mengandalkan tanaman masyarakat. ”Namun tak semua masyarakat punya lahan pertanian,” kata Yopi. 

Menyiasati kebutuhan pokok warga dari 8 kecamatan ini, komoditi kebutuhan pokok diangkut melalui jalur air yakni kapal motor Bandung. ”Hanya lama sampainya. Butuh waktu belasan hari dari arah Pontianak. Belum lagi transportasi air juga mahal,” ujarnya.

Lorensius Sehan, Kepala Desa Manakon, Kecamatan Ambalau menyampaikan kedatangan beberapa kepala desa mewakil suara kepala desa dan masyarakat dari Ambalau-Serawai. Mereka berkeinginan segera dibangun jalan pada tahun 2018 mendatang. “Harus selesai. Sebab kami belum merdeka. Bayangkan dari Kecamatan Nanga Mau, Nanga Belidak, Menukung-Serawai hujan tak bisa lewat. Seperti bubur. Kering juga tidak bisa dilalui. Rusak jalannya memang parah,” tuturnya.

Sahdan, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sintang dari Partai Gerindra meminta Pemerintah Kalbar serius dan punya itikad baik membangun jalan rusak sepanjang 66 kilometer. “Tujuannya untuk memperbaiki hidup masyarakat disana. Warga di sana hidup seperti di negeri Papua, dengan harga barang selangit,” ucap dia.

Menurutnya sebenarnya tak ada alasan jalan Nanga Mao-Serawai yang rusak parah tak masuk prioritas anggaran. Masalahnya Dinas PUPR Kalbar pasti mampu, seandainya terkait masalah anggaran. ”Provinsi sedang bahas anggaran. Di Kabupaten Sintang juga bahas anggaran. Seandainya diperbolehkan, pastilah kami anggarkan di APBD Sintang. Masalahnya kan tak bisa Itu jalan masuk ranah provinsi,” kata Sahdan.

Dari satuan anggaran yang dilihatnya dari APBD Kalbar tahun 2018, ternyata ada daerah tidak prioritas tapi jalannya dianggarkan. Sementara jalur Nanga Mao-Serawai tak masuk sama sekali. Padahal jalur ini menjadi urat nadi banyak masyarakat disana.

Pemkab Sintang sendiri sebetulnya bisa menganggarkan dengan dana UPJJ Kabupaten Sintang sebesar Rp5 miliar saja. Warga di sana sudah bisa menikmati dan melewati jalan provinsi ini. 

“Tapi kan tak bisa. Melanggar aturan. Kami tak minta aspal tapi cukup fungsional. Cukup kasik tanah kuning saja agar hujan turun bisa dilewati,” ucapnya. 

Di sisi lain, Sahdan juga menagih janji politik kepala daerah di Kalbar. Sebab pada pilgub dua kali sebelumnya, ribuan suara mendukung kepala daerah terpilih. “Andai kami tak dianggap, keluarkan saja kami. Kami pastikan tak akan pilih Gubernur pada tahun 2018 mendatang, sampai jalan kami diperbaiki,” ucapnya.(den)  

Berita Terkait