Jaga Kelestarian TNDS Lewat Petani Madu

Jaga Kelestarian TNDS Lewat Petani Madu

  Rabu, 11 May 2016 10:16
TIKUNG: Tikung atau sarang lebah buatan petani sebagai sumber penghasil madu lebah andalan di kabupaten ini. WWW.MONGABAY.CO.ID

Berita Terkait

PUTUSSIBAU – Salah satu potensi alam di Bumi Uncak Kapuas yang bernilai ekonomis tinggi dan sejalan dengan program kabupaten konservasi dan pelestarian alam adalah madu hutan. Sampai saat ini, sedikitnya sudah terbentuk 60 kelompok petani madu (periau). Dari kelompok tersebut, bisa menghasilkan tidak kurang dari 100 ton madu alam, baik yang dihasilkan tikung maupun madu lalau.

Di Kalimantan Barat, madu terbaik berasal dari Kapuas Hulu, tepatnya di kawasan Danau Sentarum. Di sini merupakan habitat alami dari para lebah hutan liar. Karena hutan hujan tropis masih banyak tumbuh di kawasan ini. Karena memiliki kandungan protein dan nutrisi cukup baik, maka madu hutan liar sangat baik dikonsumsi oleh para ibu hamil, anak-anak, remaja dalam masa pertumbuhan.

Peluang usaha madu alam ini, menurut kepala Kecamatan (Camat) Batang Lupar, Gunawan, yang daerahnya masuk dalam kawasan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) masih terbuka. Bahkan, dia yakin, dengan adanya petani madu yang tergabung di Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS), bisa mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan di kawasan TNDS. Karena, dia menambahkan, setiap musim kering sering terjadi kebakaran.

“Saya kira pembentukan petani madu lebih luas dan banyak sangat tepat untuk menjaga kelestarian TNDS. Mencari ikan di danau dengan kondisi alam tidak menentu, sudah tidak bisa diharapkan lagi,” tutur Gunawan. Hanya saja, kelompok petani madu ini, menurut dia, tidak hanya dibentuk, akan tetapi terus dibina. Pembinaan yang dimaksud dia, baik dalam pengelolaan madu, maupun tata niaga madu itu sendiri, serta para petani juga diwajibkan menjaga kualitas.

Menurut dia, dibentuk petani madu lebih banyak dan menyebar, sehingga bisa membantu menyelamatkan hutan dari kebakaran. Karena, dia memandang, petani madu secara otomatis menjaga hutan. Sebab, dia menambahkan, bila hutan tidak dijaga dan dibiarkan terbakar, lebah sebagai penghasil madu akan lari ke tempat lain. “Pengembangan petani madu di kawasan TNDS yang masuk Kecamatan Batang Lupar, tentu saya dukung,” janji dia.

Sampai saat ini, kata Gunawan, untuk kawasan TNDS yang masuk dalam kecamatan yang dipimpinnya, baru terbentuk petani madu daerah-daerah danau seperti Leboyan, Semangit, Semalah, Tempurau, dan Melemba. Sementara pemukiman penduduk masyarakat lainnya, diakui dia, belum terbentuk. Mestinya, dia berharap, semua danau dibentuk kelompok petani madu, supaya mereka bisa menjaga kawasan masing-masing.

Yang lebih penting, sambung alumni Fisipol Untan Pontianak ini, pihak pengelola TNDS membentuk dokumen zonasi yang jelas, untuk daerah-daerah penyangga. Karena, menurutnya, TNDS ini berada di tujuh kecamatan penyangga, yakni kecamatan Selimbau, Jongkong, Sihaid, Semitau, Bunut Hilir, Badau, dan Lanjak. “Belum ada zonasi. Kalau mau dibentuk mesti kompromi dengan masyarakat,” tegasnya.(aan)

Berita Terkait