Jaga Kekhasan Rasa, Pilih Jadi Reseller

Jaga Kekhasan Rasa, Pilih Jadi Reseller

  Sabtu, 21 May 2016 08:57

Berita Terkait

PONTIANAK - Amplang masih diproduksi secara semi otomatis, artinya masih diperlukan sentuhan tangan manusia untuk menjaga rasa dan aromanya agar tetap khas. Saat ini, produksi amplang boleh dibilang sudah menjamur dan banyak sekali UMKM yang terlibat dalam pembuatan Amplang. Karena menjamurnya usaha ini, tentu diperlukan strategi khusus baik dari segi rasa, bentuk, jenis serta kemasan.

Industri rumahan amplang berkembang cukup pesat khusus di tempat asalnya, Ketapang dan kayong Utara, lalu menyebar ke daerah lain di Kalbar. Saat ini banyak sekali UMKM yang memproduksi amplang dengan berbagai bentuk dan ukuran. Karena pangsa pasar yang masih terbuka luas, maka masing-masing besaing untuk membuat amplang yang unik dan rasa yang khas. Namun tentu saja kualitas rasa menjadi pembeda.

Demi menjaga kekhasan rasa dari bumbu dan olahan tangan pembuat di daerah asal, Beberapa UMKM di Pontianak hanya menjadi reseller. Namun mereka cukup kreatif. Membeli secara kulakan, amplang-amplang itu diberi kemasan menarik dan brand khusus oleh mereka. Seperti yang dilakoni Mardiyah.

Warga Jalan Gusti Hamzah, Pontianak ini saban harinya memesan amplang dari Kayong Utara dan lantas diberik brand Amplang Ikan Tenggiri ini juga mengandalkan penjualan produk dengan kemasan yang mirip dengan Kritem. Kemasan ini khusus dipesannya di pabrik printing di Jakarta. Ongkos produksinya sekira Rp2000 per kotak. “Tetapi ternyata menjual dalam kemasan seperti ini tidak rugi. Saya malah bangga punya brand sendiri,” sebutnya.

Camilan khas Kayong Utara ini, sebut dia mampu terjual 30 kotak per hari. Sementara harga setiap kotaknya adalah Rp17.000,-. “Permintaannya lumayan besar. Saya juga sudah titip jual ke PSP dan Bandara. Beberapa toko juga sudah,” sebut dia. Warga Jalan Gusti Hamzah, Pontianak ini sendiri memesan amplang langsung dari masyarakat Kayong Utara. “Tetapi saya memesannya dari satu tempat, sehingga kualitas rasa setiap produknya sama,” sebut dia.

Hanya saja baru belakangan ini dia menggunakan kemasan khusus untuk produknya. Kemasan itu berupa kotak dari karton yang diprint berwarna kuning. Satu kota amplang berisi 100 gram keripik tempe. “Selama ini saya kurang paham untuk pemasaran, jadinya hanya jual keripik tanpa kemasan saja dan dijual ke dekat-dekat rumah. Tetapi teman-teman dari Himpu (Himpunan Pengusaha UMKM) Pontianak menyarankan untuk membuat kemasan dan brand. Alhamdulillah ada peningkatan penjualan,” ungkapnya.

Berbeda dengan Herman (30). Warga Desa Kapur ini hanya menjadi reseller murni. Amplang yang diordernya dari Ketapang sudah memiliki brand sendiri. Dia hanya mengambil selisih harga saja. “Merek amplang yang saya jual ini sudah terkenal di ketapang. Sudah puluhan tahun usaha ini dibuat jadi rasanya sudah terkenal,” pungkasnya. (ars)

Berita Terkait