Jaga Emosi Para ’’Hobbit’’ dengan Cokelat dan Gula-Gula

Jaga Emosi Para ’’Hobbit’’ dengan Cokelat dan Gula-Gula

  Senin, 25 April 2016 09:00

Pergi ke ‘Perkampungan Hobbit’ di Selandia Baru bagaikan memasuki dunia nan seru seperti dalam trilogi The Lord of the Rings dan The Hobbit. 

Any Rufaidah, Matamata

MENGUNJUNGI The Hobbiton Movie Set, bagi penggemar The Lord of The Rings dan The Hobbit seperti saya, terasa sebagai stempel yang mengesahkan kunjungan ke Selandia Baru. Ya, semacam wajib berfoto di depan menara kembar Petronas saat ke Malaysia atau selfie di depan Menara Eiffel ketika pergi ke Paris. Sah!

Untuk mencapai Hobbiton di Matamata, saya berangkat dari Waikato dan menempuh perjalanan sekitar sejam. Tidak bosan karena kiri dan kanan penuh pemandangan perbukitan yang menyenangkan. Hijau melulu. Sesekali ada titik hitam dan putih di bukit. Setelah didekati, ternyata domba dan sapi tengah merumput. 

Hobbiton memang dikelilingi peternakan. Bahkan, kompleks itu awalnya merupakan peternakan sebelum disulap menjadi lokasi syuting oleh sutradara Peter Jackson. Jalannya pun berkelok-kelok tapi mulus. 

Tiket masuknya terbagi menjadi tiga kategori. Dewasa (17 tahun ke atas) NZD 79 atau sekitar Rp791 ribu; remaja (9–16 tahun) NZD 39 atau sekitar Rp355 ribu; dan anak-anak 8 tahun ke bawah gratis. 

Harga tersebut termasuk tur selama dua jam yang disertai pemandu keliling Shire alias desa para Hobbit. Plus minum saat beristirahat di The Green Dragon Inn, tempat para Hobbit berkumpul dan berpesta. 

Setelah membeli tiket, peserta tur diajak naik bus hijau yang akan membawa mereka ke titik awal tur jalan kaki keliling Shire. Dari atas bus, pemandangan yang tersaji memang seakan membawa kami kembali ke abad pertengahan. 

Perbukitan. Pohon-pohon besar dengan dahan yang menjuntai seolah-olah membentuk lengan. Pemandu juga akan menunjukkan rumah keluarga Alexander, pemilik lokasi Hobbiton.

Melihat gundukan bukit yang hijau seluas 500 hektare dengan warna-warni pintu bulat yang menyembul, kolam penuh angsa, double arch bridge, dan kompleks The Green Dragon Inn benar-benar menyegarkan mata. Saya seakan merasa berada di Shire. Menunggu Gandalf datang, bertemu Bilbo, dan nongkrong bareng.

Sebenarnya rumah Hobbit tidak kecil-kecil amat. Bagi saya tentu saja, yang memiliki tinggi hanya 155 cm. Dan, sepertinya tak pas juga kalau disebut rumah karena yang ada hanyalah fasad dengan pintu dan jendela.

Saat pintu dibuka, terlihat lubang semacam gua. Tak ada ruang makan Bilbo yang hangat. Tempat Thorin Oakenshield, King Under The Mountain, bersama rombongan dwarf makan dan bikin rusuh. Mereka berkumpul di rumah Bilbo Baggins sebelum melakukan perjalanan untuk mengalahkan Smaug. 

The Hobbiton hanya digunakan untuk syuting outdoor. Untuk cerita di dalam ruangan, ada studio tersendiri di Wellington. Semuanya di New Zealand, tentu saja. Sebab, ini adalah negara asal Jackson.

Rachel, cewek asal Inggris yang menjadi pemandu saya, sangat energik saat menjelaskan beberapa bagian Hobbiton. Sesekali dia menambahkan beberapa cerita tentang kegilaan Peter Jackson saat mempersiapkan tempat tersebut sebagai lokasi syuting trilogi The Hobbit. 

Sebenarnya, lokasi tersebut sempat dipakai untuk syuting trilogi The Lord of The Rings sekitar 1999. Dibiarkan sejenak, lantas diperbaiki untuk syuting The Hobbit. 

Jackson sangat detail. Beberapa jenis bunga dan buah semacam labu ditanam dua bulan sebelum syuting. Jadi, pertumbuhannya terlihat alami. 

Tapi, hal serupa tidak bisa diterapkan untuk pagar kayu yang berlumut. Bisa-bisa syuting harus menunggu puluhan tahun. ’’Mereka menggunakan kertas khusus, lem, pewarna, dan yoghurt untuk bikin lumut. Jadi, ini bisa dimakan. Kamu nggak akan mati kalau makan. Paling cuma bermasalah dengan perutmu,’’ kelakar Rachel.

Ada beberapa jenis rumah Hobbit atau yang disebut Hobbit Holes. Setiap rumah memiliki satu ciri khusus. Misalnya, ada yang dilengkapi tempat pengeringan ikan, ada yang dilengkapi deretan botol madu.

Ada pula yang memiliki tumpukan roti di halamannya. Itu mencerminkan profesi mereka sehari-hari. Yang paling istimewa, tentu saja, Bag Ends alias rumah tempat Bilbo dan Frodo Baggins tinggal. 

Rumah Bilbo Baggins menggambarkannya sebagai orang kaya. Sebab, memiliki 20 jendela. Pada abad ke-18, pemilik rumah di Inggris harus membayar pajak untuk setiap jendela yang ada. 

Dulu pemerintah tak bisa menarik pajak pendapatan karena masyarakat menganggap sebagai invasi atas privasi warga. Karena itu, pajak dikenakan untuk rumah besar yang memiliki banyak jendela. Dengan anggapan, pemilik rumah berukuran besar pasti memiliki pendapatan yang juga besar. 

Dalam salah satu adegan di installment terakhir The Lord of The Rings: The Return of The King dikisahkan, sebagian desa dibakar Saruman. Bukannya menggunakan efek spesial, Jackson membakarnya beneran. Lalu membangunnya kembali sama persis.

’’Hanya ada satu yang berbeda. Meja yang mestinya bundar, sekarang jadi kotak. Orang dengan uang banyak bisa melakukan apa saja. Ya, kan?’’ ujar Rachel.

Satu lagi, saat syuting, tentu dibutuhkan suasana yang tenang. Padahal, lokasi adalah alam terbuka. Dengan banyak burung dan binatang lainnya yang berlalu-lalang. Tidak mungkin untuk menangkapinya satu per satu.

Solusinya, Jackson mendatangkan bald eagle dari Amerika. Cukup terbang beberapa kali, elang yang terlatih itu sukses membuat para hewan menyingkir. Setidaknya dua jam sebelum dan selama syuting. Ada dua pawang yang menemaninya. 

Masalahnya, perlakuan itu ternyata tidak berhasil untuk katak di kolam. ’’Jadi, ada kru yang pakai baju renang, masuk ke kolam, dan mengambil semua kodok. Setelah syuting kelar, mereka dikembalikan lagi. Bukan dimakan, tentu saja,’’ terang Rachel. 

Meskipun menggunakan alam sebagai lokasi syuting, Jackson ingin seminim-minimnya merugikan lingkungan. Terutama hewan yang sudah terbiasa hidup di antara pepohonan dan kolam. 

Untuk memerankan Hobbit dalam jumlah banyak, Jackson mendatangkan ratusan anak sebagai pemeran pembantu. Mereka didandani dan dipasangi telapak kaki raksasa penuh bulu yang menjadi ciri khas Hobbit. 

Karena pengambilan gambar berlangsung selama dua hari, untuk menjaga emosi anak-anak tetap ceria, Jackson mendatangkan aneka macam cokelat dan gula-gula. ’’Any kind of it. Just ask, and the crew will give it to you,’’ ungkap Rachel tentang suasana syuting saat itu. (*/c5/ttg)