Jadikan Ular Sahabat, Jangan Tampil Memikat

Jadikan Ular Sahabat, Jangan Tampil Memikat

  Minggu, 10 April 2016 09:54

Berita Terkait

Pelajaran dari Insiden Irma Bule 

KEMATIAN pedangdut Irma Bule akibat dipatok ular saat tampil di Kerawang Minggu (3/4) berbuntut panjang. Khusunya bagi para pekerja dunia hiburan yang menggunakan sensasi menari dengan ular. 

Heri Saputra, pemilik grup musik orkes melayu (OM) New Samber Nada yang kerap menyajikan hiburan tari ular tak bisa menutupi kegundahannya. Setelah kabar kematian Irma Bule, sempat muncul rasa takut di masyarakat, sehingga membuat orderan pentas meredup. 

Heri mengatakan,  tragedi itu harus disikapi secara positif. Bukan malah memojokkan pemilik bisnis serupa, tapi lebih berpikir pada sebuah kesalahan yang wajib dihindari di masa depan. ''Itu kan murni kelalaian, tidak ada standar keamanan sama sekali,'' ucapnya saat ditemui di surabaya kemarin (9/4).

Heri berpegang pada mudahnya ular cobra mematok Irma saat perform. Harusnya, sebelum tampil, ular tersebut diberi standar safety terlebih dahulu. Bukan lantas dilepas sembarangan di atas panggung. ''Jangan berpikir ular itu sudah jinak gak perlu lagi standar keamanan, salah besar itu,'' tegas Heri yang sering mengajak penyanyi-penyanyinya tampil di stasiun TV JTV.

Heri yang sudah berkecimpung di dunia hiburan serupa selama 7 tahun mengatakan pertunjukkan tari atau nyanyian yang melibatkan binatang liar harus selalu mempunyai standar keamanan. Tujuannya, selain memberi rasa nyaman pada penampil, penonton yang menikmatinya juga terhindar dari kejadian yang tidak diinginkan.

Pria 35 tahun itu lantas menjelaskan bagaimana standar keamanan yang selama ini dipegangnya. Mulai dari pemilihan talent, dia tidak sembarangan memilih penari atau penyanyi yang akan menampilkan sajian tarian ular. Diseleksi, mereka yang dipilihnya harus 'paham' dan kenal betul dengan binatang reptil itu. ''Paling tidak mereka memelihara reptil, disamping bakat nyanyi dan menarinya,'' terangnya.

Nah, standar keamanan yang paling penting adalah paham kondisi ular atau reptil. Sifat dan karakternya yang liar, membuat binatang itu sulit untuk diprediksi. Maka dari itulah, di tiap aksi panggungnya, ular-ular Heri selalu diplester bagian mulutnya.            

Bukan untuk menyiksa binatang, anak bungsu dari ketiga bersaudara itu hanya ingin mereduksi hal-hal yang tidak diinginkan. ''Kita tidak hanya melindungi talent dan pemain musik saja, ada penonton disitu yang juga wajib dilindungi,'' tegasnya.

Selain itu, pengetahuan mengenai reptil juga wajib dimiliki para pemilik hiburan itu. Ular jenis King Kobra misalnya, Heri mengatakan sebaiknya tidak diajak perform saat memasuki musim kawin. Sebab, ular itu akan semakin agresif dan sulit ditebak pada musim-musim tersebut. ''Biasanya 6 bulan sekali itu terjadi, jangan dipaksa daripada berakhir bencana,'' ungkapnya 

Terakhir, Heri mengatakan binatang yang akan diajak perform sebaiknya sudah mengenal sentuhan talentnya. Artinya, binatang itu sudah menjadi hewan peliharaan sang penari atau penyanyi. Sebab, semakin sering mengenal sentuhan sang pemilik, binatang reptil biasanya akan tenang dan jarang agresif. ''Mangkane saya pilih yang pelihara reptil, biar penampilan mereka alami. Benar-benar berpartner dengan ular, bukan menjadikan mereka alat tampil saja,'' bebernya.

Di Indonesia, Irma Bule bukanlah orang pertama yang menampilkan atraksi bersama ular saat berdangdut. Pendangdut Dewi Sanca, jauh lebih dahulu memulai tren ini di industri hiburan lokal.

Dewi mengatakan bahwa dirinya memulai debut penampilannya berdangdut bersama ular pada sepuluh tahun silam yakni tahun 2006. "Saat itu belum ada yang tampil bersama ular. Ular pertama saya waktu itu ada dua, semuanya jenis ular sanca," katanya saat dijumpai di Apartemen Mediterania Gajah Mada, Jakarta Barat, tadi malam (9/4).

Dia mengatakan bahwa hal tersebut memang sudah menjadi pilihannya. "Saat itu saya berfikir bahwa kalau tampil dengan membawa ular itu adalah sesuatu yang berbeda di masyarakat. Dan ternyata memang benar, akhirnya banyak masyarakat yang suka," tutur perempuan 32 tahun tersebut.

Dewi menerangkan bahwa tuntutan ekonomi juga menjadi faktor utamanya yang mendorong dirinya untuk berfikir cara mengumpulkan pundi-pundi uang dengan jalan yang lebih kreatif. Apalagi, Dewi menjadi tulang punggung keluarga setelah bapaknya meninggal dunia. "Saya harus menghidupi ibu saya yang kondisi mentalnya depresi hingga sekarang dan dua keponakan saya," ujar dia.

Penghasilan yang diperolehnya saat itu tidak seberapa. Dewi hanya diupah sebesar Rp 125 ribu dalam sehari. Penghasilan tersebut masih harus dibagi kepada ular-ularnya. Namun, pada 2008 nasibnya mulai membaik. Namanya sebagai pendangdut dengan tarian ular semakin tersohor. Penghasilannya dari sekali tampil meroket hingga membuat dirinya sendiri terkaget. "Sekarang kalau diundang di stasiun televisi Rp 15 juta per jam," ungkap Dewi blak-blakan

Ular-ularnya pun juga kecipratan rejeki. Dari pendapatan yang segitu, perempuan bernama asli Endang Werginingsih tersebut menganggarkan Rp 8 juta hingga Rp 10 juta per bulan kepada ular-ularnya. Budget tersebut, diterangkan Dewi untuk perawatan sekitar seratus ular dengan berbagai jenis yang dia miliki saat ini. "Makannya sebulan itu rata-rata Rp 6 juta dan untuk perawatan seperti obat-obatan Rp 2 juta-an," papar dia.

Dari seratus ekor ular yang dimilikinya, enam di antaranya merupakan ular yang sangat berbisa, yakni king cobra, jenis ular yang membuat Irma Bule tewas. 

Sama seperti Irma, Dewi juga membawa ular jenis tersebut ke dalam atraksi panggungnya. "Sangat berbahaya. Makanya penyanyi dangdut yang pakai ular harus tahu cara penanganannya." ujarnya.

Lebih lanjut, Dewi menerangkan beberapa cara penanganan ular berbisa yang dibawanya saat pentas. "Kalau megang King cobra iu jangan pegang badannya, tapi kepalanya. Atau kalau tidak mau ada apa-apa, tutupi mulut ularnya dengan lakban atau sejenisnya," terangnya.

Bagaimana kalau sampai terpatuk saat manggung ? Dewi mengaku belum sampai mengalami hal tersebut. Namun dia mengaku pernah sekali dipatuk oleh king cobra saat sedang memandikannya. "Tapi penanganannya sama. Ikat sekencang-kencangnya bagian tubuh yang dipatuk, di bagian atas luka agar racun tidak cepat menyebar. Lalu pergi ke rumah sakit secepatnya," terangnya.

Kendati sangat beresiko, Dewi mengaku tidak melibatkan tim medis khusus atau pawang ular dalam setiap penampilan dangdutnya bersama ujar-ularnya. "Saya nggak bawa dokter untuk berjaga. Tapi biasanya saya ajak dua orang teman dari komunitas reptil. Karena mereka juga mengerti penanganan dasar jika, amit-amit, aku terpatuk king cobra," kara Dewi dengan bergidik ngeri.

Tapi yang lebih penting lagi, yakni menganggap ular-ularnya sebagai sahabat. "Karena mereka juga yang membuat saya memiliki brand (Dewi Sanca) ini. Jadi aku juga harus merawatnya dengan sebaik-baiknya, jangan sampai tubuhnya bau dan penyakitan," imbuhnya.

Jangan free handing

Pendapat lain diungkapkan oleh pecinta reptil, Budi Wonosasmito. Menurutnya, apa yang terjadi pada Irma Bule sudah diprediksi para pecinta reptil lainnya. Sebab, pihaknya sudah kerap mengkampanyekan untuk tidak menggunakan ular jenis King Kobra atau tipe venom lainnya dalam tarian atau nyanyian di atas panggung. ''2 tahun ini kami sudah galakkan hal itu,'' ucapnya.

Kampanye itu diutamakan penampilan secara free handling. Artinya memegang ular berbisa tanpa alat apapun. Tanpa keamanan apapun. Murni kulit langsung bersentuhan dengan tubuh ular. Ketidaktersediaan serum penawar bisa racun yang tidak memadai pada tiap lokasi pertunjukkan semakin memperparah tari ular yang ada di Indonesia. 'Ularnya kalau bisa juga peliharaan si talent, bukan baru ketemu diajak perform, bahaya sekali itu,'' tegasnya.

Pria yang memiliki ratusan reptil di rumahnya itu tidak menyalahkan para talent ataupun pihak-pihak yang bergerak di bisnis hiburan itu. Namun, Budi menegaskan adanya standarisasi keamanan yang ketat dalam tiap pertunjukkannya. Agar tidak ada lagi Irma Bule lainnya di kemudian hari. ''Mereka cari makan, jadi kita tidak bisa menyalahkan,'' bebernya.

Pria yang kerap menjadi juri kontes reptil internasional itu memberikan tips cara memperlakukan ular dengan benar. Penyediaan kandang yang aman, berbahan kaca mirip aquarium. Lalu, usahakan suhu udara dalam kandang tetap lembab (tidak terpapar sinar matahari secara langsung) atau beri air secara teratur. ''Suhu ini biar ular betah dikandang, gak ada keinginan untuk lari,'' ujarnya.

Pemberian makan secara teratur juga satu hal yang patut diperhatikan. Sebab, dengan begitu kesehatan ular bisa terjaga. Ditambah pemberian sentuhan yang konsisten agar ular terbiasa dengan sentuhan manusia. ''Biar jinak, gak agresif lagi,'' lanjut Budi. (rid/dod/kim)

Berita Terkait