Jadi Saksi Tegangnya Drama Perekrutan Pemain

Jadi Saksi Tegangnya Drama Perekrutan Pemain

  Kamis, 4 Agustus 2016 10:38

Berita Terkait

Bekerja di bagian media Manchester City, Hanif Thamrin membidani lahirnya program bahasa Indonesia di TV milik klub tersebut. Batal tur ke Indonesia bareng City gara-gara kondisi sepak bola tanah air yang ruwet.

FAJAR RILLAH VESKY, Payakumbuh 

KESEMPATAN itu tak disia-siakan Hanif Thamrin. Begitu jumpa pers selesai, segera saja dia mendekati kiper Juventus Gianluigi Buffon. ”Boleh saya berfoto sebentar dengan Anda?” tanya dia.

Buffon tak hanya mengiyakan permintaan tersebut. Kiper tim nasional (timnas) Italia itu bahkan menyempatkan diri mengobrol sebentar dengan pria asal Payakumbuh, Sumatera Barat, tersebut.

Bagi Hanif, itu benar-benar mimpi yang menjadi kenyataan. Maklum, Juventus adalah tim pujaannya. Dan Buffon merupakan pemain idolanya. 

Jadi, ketika sehari kemudian tim tempat Hanif bekerja, Manchester City, kalah 1-2 oleh Juventus pada laga fase grup Liga Champions 2015–2016, Hanif masih punya alasan untuk tersenyum. Bahkan, mungkin dia malah tidak akan tersenyum seandainya City yang menang pada laga di Stadion Etihad, Manchester, 15 September tahun lalu itu.   

Hanif mengaku biasanya seminggu penuh menghindari membaca berita bola saat Juventus kalah. ”Tak perlu ditutupi hanya karena saya bekerja di City. Bahkan, kebanyakan manajer (bagian) di City bukanlah pendukung The Citizens (julukan City). Kami adalah profesional,” ungkapnya, Selasa (2/8). 

Sudah dua tahun urang Minang itu menjadi staf bagian media Manchester City. Hanif dipercaya sebagai produser konten berita internasional. Dia bertanggung jawab menyalin dan menerjemahkan konten berita dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.

Di samping itu, Hanif menulis konten berita untuk situs resmi klub juara Premier League 2012 dan 2014 tersebut dan untuk aplikasi mobile. Dia juga mengurusi berita di media sosial. Dan menghasilkan acara TV bulanan untuk CityTV, stasiun televisi klub yang diakuisisi Abu Dhabi United Group pada 2008 tersebut. 

Hanif mengungkapkan, masa awalnya di City sangat tidak mudah. Tak ada yang mengajaknya bicara. Tak ada yang mau duduk bersama saat makan siang tiba. Maklum, tim media City didominasi orang Inggris yang dikenal dingin. Dibutuhkan waktu untuk terbuka, apalagi untuk dekat, dengan orang asing. 

”Saya butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa beradaptasi dengan orang-orang Inggris. Mereka baru mau terbuka dengan saya setelah kami mengikuti kuis yang digelar dalam sebuah acara amal bersama Manuel Pellegrini (manajer City saat itu, Red),” kenang Hanif.

Ragam pengalaman sebagai satu-satunya orang Indonesia yang bekerja di City itulah yang kemudian dia bukukan dalam Pemburu di Manchester Biru. Dia hadir di kampung halaman (Payakumbuh) juga dalam rangka bedah buku setebal 152 halaman tersebut besok (4/8). ”Saya mendapat kehormatan dan kesenangan bekerja dengan dia di Manchester City,” tulis Chappy Les Chapman, presenter CityTV, dalam testimoni untuk buku Hanif.  

Hanif terbiasa bekerja keras. Sebelum di City, Hanif sempat bekerja sebagai tukang cuci mobil di London. Saudara sepupu Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi Dt Rajo Ka Ampek Suku itu pernah pula menjadi kuli angkut. Pernah pula bekerja sebagai salesman dari rumah ke rumah, pelayan restoran, hingga kasir. ”Pokoknya, berbagai pekerjaan saya lakukan agar bisa kuliah dan menjadi jurnalis di Inggris,” kata pria yang merupakan adik kandung Yuri O. Thamrin, Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, itu.

Di Inggris, Hanif berkuliah di Goldsmiths, University of London. Sambil kuliah dan bekerja serabutan tadi, dia juga mengirim puluhan surat lamaran kerja. Dan puluhan surat itu kembali dengan berita penolakan. Akhirnya Hanif mendapat kesempatan magang di BBC (British Broadcasting Corporation), London. Saat mulai meniti pengalaman bekerja di perusahaan media ternama tersebut, datanglah kesempatan menjadi jurnalis di Manchester City Football Club. 

Hanif pun meninggalkan London. Pindah ke Manchester, kota hujan yang dingin. Keputusan yang semula berat dia ambil itu ternyata membuahkan berbagai pengalaman tak terlupakan. Tentang Pellegrini misalnya. Manajer asal Cile yang kini telah digantikan Pep Guardiola tersebut tak banyak basa-basi. Sangat dingin, pintar, dan berwibawa.

Menurut Hanif, tidak mudah bisa dekat dengan Pellegrini. Dia selalu jaga jarak dengan semua orang. Meski demikian, Hanif mengaku kagum dengan ketegasannya. Begitu pula cara Pellegrini menjawab rumor transfer pemain dan rencana pelengseran dirinya.

”Dia tak pernah terpancing menanggapi isu tak penting,” katanya. 

Hanif juga punya bergudang cerita tentang proses rekrutmen pemain di City. Di antaranya, yang direkrut pada musim panas tahun lalu, Raheem Sterling, Nicolas Otamendi, Fabian Delph, dan Kevin De Bruyne. ”Tiga minggu sebelum mereka diumumkan bergabung dengan tim, kami sudah dapat informasi dari manajemen. Tapi, kami tidak boleh membocorkan,” ujarnya.

Hanif membeberkan, proses transfer Sterling ke City diwarnai banyak drama. Kisah dimulai dari pernyataan agen yang menyebut Sterling tidak akan memperpanjang kontrak dengan Liverpool. Lalu, pemain sayap timnas Inggris itu mangkir di sesi latihan pramusim The Reds, julukan Liverpool. Sterling akhirnya diboyong City dari Liverpool dengan mahar 49 juta pound sterling. ”Saya menaruh respek kepada Sterling. Walau publik Inggris berpendapat lain dan selalu mencacinya saat dia bermain di laga tandang,” ujarnya.

Perekrutan Otamendi, lanjut Hanif, malah lebih menegangkan. Sebab, saat perpindahannya diumumkan City, bek asal Argentina itu belum mendapatkan visa kerja di Inggris. Transfer Delph dari Aston Villa ke City lain cerita lagi. Saat tim sudah bersiap mengumumkan namanya, Delph bikin kejutan. Di situs resmi Villa dia menyatakan akan bertahan. Namun, dua hari kemudian, baru si pemain menyebut bergabung dengan City. ”Rupanya, bukan cuma ABG yang galau. Pemain bola juga bisa mengalaminya hehehe,” kata dia. 

Hanif juga pernah kecewa ketika rencana tur City ke Indonesia menjelang musim 2015–2016 batal. Gara-garanya adalah kondisi persepakbolaan tanah air yang ruwet. Padahal, menurut Hanif, rencana tersebut sudah 95 persen positif. Stadion Utama Gelora Bung Karno sudah diinspeksi. Hotel telah pula dipesan. ”Manajemen juga sudah menginstruksi saya bersiap-siap ikut dalam tur City jika jadi terbang ke Jakarta,” katanya.

Dalam kondisi kecewa setelah batalnya tur itu, Hanif akhirnya menggagas program berbahasa Indonesia di CityTV. Program tersebut diluncurkan televisi milik Manchester City itu pada 14 Agustus 2015 atau menjelang HUT Ke-70 RI.

Menurut Hanif, bahasa Indonesia adalah bahasa pertama di luar bahasa Inggris yang memiliki program sendiri di CityTV. Bahkan, sampai sekarang pun, tak ada klub Premier League lain yang kanal televisinya punya program bahasa Indonesia. ”Mungkin bagi orang lain ini biasa, tapi bagi saya istimewa,” tegasnya. (*/JPG/c9/ttg)

 

Berita Terkait