Jadi Konsep Bupati, Budayawan Malaysia Ikut Bicara

Jadi Konsep Bupati, Budayawan Malaysia Ikut Bicara

  Selasa, 10 May 2016 10:18
CINDERAMATA: Bupati Sintang, Jarot Winarno menyerahkan cinderamata kepada Datu Haji Sanib bin Haji Said, pengurus besar Yayasan Budaya Melayu Sarawak Malaysia. SUTAMI/PONTIANAK POST

Memperingati Hari Jadi ke 654 Kota Sintang, Pemerintah Kabupaten Sintang bekerjasama dengan Majelis Adat dan Budaya Melayu (MABM) Sintang melaksanakan seminar yang bertemakan mewujudkan kota Sintang sebagai wadah dan spirit multikultural yang berkeadaban di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Sintang, Senin (9/5). 

Sutami, Sintang

DENGAN umur 654 tahun ini, kita sudah terbukti mampu membentuk Kabupaten Sintang sebagai sebuah wilayah dengan sistem multikultural yang kokoh,” kata Bupati Sintang, Jarot Winarno mengawali pembicaraan. 

Menurut dia, tertib sosial bisa terwujud jika seluruh potensi yang ada bisa seimbang. Kepercayaan antarmasyarakat menjadi kunci yang bisa diwujudkan dengan pelaksanaan kebudayaan dan tradisi. Selama kebudayaan bisa hidup dan tumbuh, maka kepercayaan juga akan terjaga. Pemkab Sintang ingin merevitalisasi kebudayaan yang ada demi ketahanan budaya yang berkualitas dan tertata baik. “Seminar ini merupakan kepedulian kita akan sejarah dan bentuk peran kebudayaan yang sangat penting,” yngkap bupati.

Jarot juga menyampaikan, Sintang harus menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh etnis, budaya, dan golongan. “Maka, saya mengajak seluruh etnis dan elemen masyarakat untuk menjaganya. Inilah salah satu modal kuat kita untuk membangun,” ujarnya.

Budayawan Malaysia ikut berbicara dalam forum seminar di pendopo bupati, dengan membawakan makalah tentang multikultural yang dibangun. Ia adalah Datu Haji Sanib bin Haji Said Pengurus Besar Yayasan Budaya Melayu Sarawak Malaysia. Makalah yang dipaparkan yakni materi dengan tema sumbangan budaya Melayu dalam agenda multikultural yang berkeadaban.

“Kami di Sarawak juga ada banyak suku yang bisa tinggal dengan damai dan harmonis. Kerajaan Malaysia memberikan kebebasan kepada suku-suku yang ada untuk mengaktualisasikan diri. Masing-masing suku bisa menggelar acara seni budaya, dan pertemuan yang menghasilkan rekomendasi kepada kerajaan Malaysia. Karena kami tinggal dengan suku lain, maka kita harus senantiasa bersabar,” katanya. 

Sementara Ketua Umum MABM Kalimantan Barat, Chairil Efendi memaparkan materi dengan tema pendidikan multikultural demi terwujudnya kehidupan sosial yang harmonis. “Multikulturalisme merupakan gerakan teologis untuk memahami segenap perbedaan yang ada pada tiap manusia, dan memahaminya sebagai hal yang alamiah. Indonesia merupakan salah satu negara dengan multikultural terbesar di dunia. Multikulturalisme sejalan dengan UUD 1945, Pancasila dan UU Republik Indonesia nomor 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional,” ujarnya. 

Ia juga mengajak mencintai keanekaragaman bahasa, membangun sikap sensitif gender, sikap kritis terhadap ketidakadilan, menghapus diskriminasi etnis, dan menghargai perbedaan kemampuan. “Itulah yang disebut pendidikan multikultural,” kata Chairil. 

Kemudian Zainuddin Isman memaparkan materi tentang pengaruh budaya Melayu di Kalbar. Menurutnya, sejarah masa lalu sudah membuktikan semua berasal dari satu keturunan. Begitu juga Kabupaten Sintang yang sudah terbukti bisa bersatu karena masyarakatnya memiliki sejarah multikulturalisme yang kuat, sehingga menjadi modal untuk bisa membangun Kabupaten Sintang lebih baik lagi.

Ketua MABM Sintang, Ade Kartawijaya menjelaskan, MABM dibentuk untuk meningkatkan sumber daya manusia masyarakat. “Kita baru pertama kalinya memperingati hari jadi kota Sintang. Maka seminar ini kami harapkan mampu menambah wawasan masyarakat,” katanya.  

Menurutnya, MABM siap membantu Pemkab Sintang dalam membangun daerah  supaya terus melesat maju ke depan. (**)