Jabatan Istri Lebih Tinggi

Jabatan Istri Lebih Tinggi

  Senin, 19 September 2016 10:14

Berita Terkait

Perbedaan posisi pada dunia pekerjaan terkadang menimbulkan ketidakseimbangan dalam hubungan sosial seseorang. Tak terkecuali pula dalam rumah tangga. Perbedaan posisi di dunia kerja antara suami dan istri pun dapat memicu konflik, jika tak disikapi bijaksana. 

Oleh : Marsita Riandini

Saat ini kesempatan bagi wanita untuk sukses dalam kariernya cukup besar. Wanita memiliki peluang meraih jenjang setinggi-tingginya, bahkan bisa saja melampau posisi pasangannya. Namun bagi sebagian pria, ternyata sulit menerima keadaan ini. Lantas bagaimana agar hubungan tetap berjalan dengan baik tanpa terganjal masalah jabatan maupun pendapatan antara sang suami dan istri?

Maria Nofaola, S.Psi., M.Psi., Ch.t., Psikolog mengatakan semua tergantung konsep dari setiap pasangan dalam memandang kondisi tersebut. Ada suami yang tidak mempermasalahkannya, bahkan bersyukur punya istri yang bisa mencapai karier yang lebih tinggi. Tetapi ada pula yang merasa itu menjatuhkan harga dirinya dan merasa harga dirinya jatuh di mata orang lain.

“Ini bergantung konsep pribadi seseorang. Biasanya yang menganggap itu masalah karena kepercayaan dirinya rendah sehingga merasa tidak nyaman dengan pendapatan dan jabatan istrinya lebih tinggi. Dia merasa gagal sebagai seorang kepala rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan keluarganya, ataupun konsep-konsep negatif lainnya,” kata psikolog klinis di RS. Sultan Syarif Muhammad Alkadrie ini. 

Posisi istri yang lebih tinggi di tempat kerjanya sering memicu pertengkaran sehingga muncul ketidakharmonisan dalam menjalani biduk rumah tangga. Kadang masalah muncul karena kepribadian suami itu sendiri. Istri mungkin saja tidak bermaksud untuk menunjukkan bahwa pendapatannya lebih besar, namun hal ini kemudian membuat sang suami merasa tersinggung. Masalah menjadi besar, jika suami termakan dengan omongan-omongan dari luar, baik itu yang bermaksud merendahkan maupun tidak. 

Seorang suami harus bisa menempatkan dirinya sebagai pihak yang tetap pantas dihormati. Bisa dengan cara memberi dukungan dan kesediaan mendengar masalah-masalah yang dihadapi istri. Terpenting lagi tetaplah memenuhi kewajiban untuk memberikan nafkah kepada keluarga. 

“Tetapi ini kembali lagi dengan kesepakatan pasangan. Ada yang menganggap uang suami tetap dikelola sepenuhnya oleh istri. Ada pula yang merasa sama-sama sudah bekerja jadi bisa membagi beban pengeluaran. Apakah itu suami yang membayar kebutuhan sehari-hari, istri yang membayar biaya sekolah,” jelasnya. 

Menurut Maria, jabatan istri yang lebih tinggi dan berpengaruh di kantor tentu tak diperoleh secara instan. Ada proses pencapaian  yang dilakukan, bahkan umumnya melewati tahapan demi tahapan. 

“Seharusnya ini tidak menjadi masalah. Sebab istri mendapatkan jabatan tersebut biasanya atas izin suami. Pun posisi tersebut tidak secara tiba-tiba. Jadi aneh jika kemudian ini menjadi pemicu masalah rumah tangga,” ungkapnya.

Bisa saja suami istri bekerja dalam instansi yang sama dan jabatan sang istri lebih tinggi. Ada istri memiliki jabatan lebih tinggi dari suami, tetapi keduanya bekerja di instansi berbeda. 

“Untuk yang satu kantor biasanya ada kebijakan-kebijakan yang tidak membolehkan suami istri bekerja satu kantor. Kalau pun ada biasanya ada pihak managemen perusahaan telah mengaturnya. Biasanya akan dipindahkan di divisi yang berbeda,” ujar dia.

Kenapa tidak membolehkan suami istri bekerja satu kantor yang sama? Menurut Maria, setiap perusahaan tentu punya kebijakan masing-masing. Beberapa alasannya adalah untuk menjaga profesionalisme dalam bekerja, serta menghindari terjadinya kongkalikong antara suami dan istri. 

“Bahkan banyak perusahaan yang sudah menetapkan kebijakan, jika menikah dengan teman satu kantor, maka salah satunya berhenti,” tuturnya. 

Jika istri berada pada satu instansi yang sama, tetapi berbeda divisinya, maka ini sebenarnya tak perlu di permasalahkan. Buatlah kesepakatan bersama istri agar profesionalisme dalam bekerja tetap berjalan. Jangan merasa rendah hanya karena jabatan istri di kantornya. Sebab itu sudah menjadi kesepakatan bersama. 

“Buatlah kesepakatan bersama istri untuk menghindari konflik-konflik akibat kesenjangan dalam dunia kerja,” terangnya. 

Demikian pula jika bekerja di instansi yang berbeda, dan jenis pekerjaan yang berbeda pula. Maka suami tak perlu merasa minder, tetapi dukunglah sang istri untuk mencapai tahapan-tahapan kariernya. Suami harus lebih berbesar hati untuk menerima kesuksesan yang diraih sang istri. Jangan sampai hal ini malah mengubah persepsi dan komunikasi suami-istri yang kemudian memicu pertengkaran. Pahamilah bahwa Anda dan istri sedang tidak berkompetisi. Kelebihan istri jangan dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai kekuatan yang bisa menambah kebahagiaan keluarga. **

Berita Terkait