Investasi Bodong, Mental Konsumtif-Hedonistik, dan Kita

Investasi Bodong, Mental Konsumtif-Hedonistik, dan Kita

  Kamis, 4 Agustus 2016 10:24   525

Oleh: Y PRIYONO PASTI

PENIPUAN berkedok investasi yang menyedot milyaran rupiah uang anggota/nasabah terus saja berulang di republik ini. Korban pun berjatuhan, berasal dari berbagai lapisan, mulai dari kalangan masyarakat biasa sampai orang-orang yang berpendidikan tinggi dengan pelbagai profesi. Namun anehnya, masyarakat kita tak pernah jera.

Di Mempawah, Kalimantan Barat misalnya, keberadaan Save Our Trade (SOT) yang diduga investasi bodong, sempat menjadi berita heboh, menjadi perbincangan serius, perhatian sejumlah pihak termasuk pihak keamanan, dan menjadi headline news sejumlah koran lokal di Kalbar karena telah menilap milyaran rupiah uang anggota/nasabahnya.

Pada Selasa (2/8), heboh seputar SOP kembali mencuat. Kali ini tentang raibnya Bos SOP dan para leader-nya yang diduga membawa kabur uang anggota/nasabah sejumlah Rp 17 milyar. Sejak ingkar janji pada 22 Juli 2016 lalu, Bos SOT, MH dan para leader raib ditelan bumi.Untuk mengungkap keberadaanya, berbagai upaya dilakukan, termasuk mengadakan sayembara dengan hadiah ratusan juta rupiah (Pontianak Post, 2/8/2016).

Bila orang-orang pandai saja menjadi korban (tertipu), bagaimana dengan rakyat kebanyakan (kecil) yang tak memiliki akses informasi, yang tak mengerti seluk-beluk investasi? Bukankah mereka menjadi lahan empuk bagi perusahaan (atau oknum) yang melakukan penipuan berkedok investasi? Upaya apa yang mesti ditempuh untuk menyelamatkan diri dari jeratan iming-iming ‘kaya mendadak’ perusahaan investasi siluman ini? Tulisan ini mengulasnya.

Penipuan berkedok investasi ini sungguh dirancang sedemikian rupa untuk memikat para anggota/nasabah. Tabiat orang Indonesia diantaranya munafik, enggan bertanggung jawab, watak lemah, mudah ubah keyakinan, senang nostalgia, tukang lego, suka yang gampang-gampang, konsumtif, hedonistik (lih. Mochtar Lubis, 1977, Budi Shambazy, Kompas, 2/7/2005) yang memang mudah terpikat, mudah dibujuk rayu, apalagi ditambah bunga yang selangit, sungguh dimanfaatkan  perusahaan-perusahaan bodong untuk memuluskan investasi mereka.

Menurut Lin Che Wei, Direktur Utama Danareksa Neda dan Yoga, ada sejumlah taktik (skema) yang dipakai perusahaan bodong itu untuk ‘mengakali’ anggota/nasabahnya. Skema yang umumnya dipakai adalah skema Ponzi, yaitu penipuan yang menjanjikan return luar biasa besar yang sebenarnya didapat dari uang investor lain yang menginvestasikan uangnya belakangan dan bukan dari hasil pengelolaan uang para investor tersebut.

Perusahaan-perusahaan investasi bodong tahu, jika investor awal mendapatkan return sesuai dengan yang dijanjikan, mereka akan cenderung menginvestasikan kembali hasil dari uang tersebut dan bahkan akan membawa keluarga, teman, atau relasinya untuk berinvestasi di perusahaan tersebut.

Investor awal akan mendapatkan keuntungan karena langsung mendapatkan pengembalian sehingga terdorong untuk menginvestasikan lebih banyak lagi, sedangkan investor yang masuk belakangan akan lebih rentan terhadap ketiadaan return tinggi tersebut. Akibatnya, perusahaan ‘akal-akalan’ itu akan terus meraup keuntungan dari para anggota/nasabah, sementara jumlah kerugian yang diderita anggota/nasabah apalagi yang masuk belakangan cenderung membengkak.

Selain skema Ponzi (diambil dari nama Charles Ponzi, imigran asal Italia yang melakukan penipuan besar-besaran di Amerika Serikat tahun 1919-1920 dan 1926-1934), skema/taktik lain yang digunakan adalah skema piramida, arisan berantai (money game), high yield investment programme, penipuan berkedok penggarapan lahan agribisnis, berkedok perdagangan valuta asing, dan lowongan pekerjaan yang mengharuskan kita membayar untuk pelatihan atau justru meminta kita memasukkan uang terlebih dahulu sebagai prasyarat (Kompas, 30/4/2007).

Praktik investasi bodong ini berdampak sangat buruk. Selain sangat merugikan dunia investasi kita karena praktik penipuan seperti itu akan mengerosi kepercayaan masyarakat terhadap dunia investasi secara keseluruhan,  juga merugikan masyarakat, terutama yang tidak memiliki akses informasi dan tidak mengerti seluk-beluk investasi. Karena itu, penipuan berkedok investasi ini harus segera diakhiri. Ia tidak boleh lagi terjadi di republik ini. Jejaringnya harus diberangus. Pelakunya dihukum seberat-beratnya. Kita semua harus lebih waspada, berhati-hati, dan bekerja sama secara sinergis-sistematis-komprehensif-lintas sektoral menghentikan praktik penipuan laknat ini.

Mengkristalisasikan Lin Che Wei, perusahaan investasi yang memiliki ciri-ciri berikut ini harus dihindari, minimal diwaspadai keberadaannya. Pertama, memberikan ‘janji-janji surgawi’ akan imbal hasil (return) tinggi dalam jangka waktu yang relatif singkat.

Kedua, taktik penjualan yang memaksa. Jangan langsung termakan bujuk rayu penjual yang memaksa Anda untuk membuat keputusan saat itu juga, sekalipun penjual itu orang yang Anda kenal baik sejak lama.

Ketiga, perusahaan dan basis investasinya tidak jelas. Keempat, tak memiliki izin penawaran investasi dari lembaga pengawas.

Bagi anggota/nasabah yang sudah menjadi korban penipuan berkedok investasi, sebaiknya segera melapor kepada pihak yang berwajib. Berikan keterangan selengkap mungkin, siapa saja yang menghubungi dan bagaimana orang tersebut menghubungi.

Setelah itu, hubungi divisi legal dari Badan Pengawasan Pasar Modal (Bapepam) dan Lembaga Keuangan (LK) Indonesia serta pengacara yang khusus menangani kasus sejenis. Ajukan tuntutan hukum terhadap para pelaku penipuan.

Untuk meminimalisir keberadaan investasi bodong ini, Bapepam dan LK Indonesia harus proaktif. Misalnya, mencantumkan daftar perusahaan investasi, baik asing maupun lokal. Selan itu, melakukan verifikasi terhadap setiap produk investasi yang ditawarkan.

Dengan cara-cara ini diharapkan masyarakat kita menjadi sadar, tidak mudah tergiur, tak mudah dibujuk rayu, dan lebih waspada serta berhati-hati terhadap  tawaran-tawaran serta janji-janji manis perusahaan yang berkedok investasi yang membuat mabok kepayang ini. Semoga!

*) Seorang Pendidik, Alumnus USD Yogyakarta, Humas SMP Santo F. Asisi, Tinggal di Kota Pontianak