Intelektual Pengkhianat

Intelektual Pengkhianat

Selasa, 11 Oktober 2016 08:58   451

KAUM intelektual, ulama, rohaniawan dan apapun sebutannya adalah pemegang otoritas keilmuan, bukan pemegang otoritas kebenaran, kesucian dan kerahiban, mereka berpikir dan bekerja atas dasar metodologi tertentu, dan karena besarnya pengaruh nafsu saithoniah atau alasan kepribadian yang terpecah (split of personality) tidak jarang diantara mereka teralienasi dan melakukan pengkhianatan. Sementara pemegang dan pemilik otoritas kebenaran adalah Allah SWT.

Julien Benda (1997) seorang filsof Prancis dalam bukunya berjudul “Pengkhianatan Kaum Intelektual” menegaskan bahwa kaum intelektual mendedikasikan hidupnya untuk mencari dan membela kebenaran demi kemaslahatan bersama umat manusia. Namun sangat disayangnya,dalam perjalanan sejarah peradaban manusia, ada di antara mereka melakukan pengkhianatan, mencintai dunia terutama harta dan kekuasaan, diperbudak hawa nafsu dan keserakahan.

Kaum intelektual banyak dijumpai di lembaga perguruan tinggi dan lembaga sosial kemasyarakatan dan keagamaan yang diharapkan menjadi pilar dalam menegakkan dan membela kebenaran. Namun kenyataannya tidak sedikit diantara mereka melacurkan diri baik dalam skala kecil maupun besar pada ranah intelektual. Dari beberapa pemberitaan, penulis temukan;

(1) tidak sedikit alumni perguruan tinggi sebagai kaum intelektual ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka sebagai koruptor di negeri ini; (2) mereka mengetahui bahwa seleksi penerimaan mahasiswa baru adalah intake atau jalan masuk dalam mewujudkan atau menghasilkan sumber daya manusia berkualitas dan bermartabat, tetapi mereka tidak mengawal dengan baik proses rekrutmen tersebut, bahkan tidak jarang melakukan perbuatan tercela atau tidak terpuji; (3) memperoleh uang dari melaksanakan tugas mengajar dan  membimbing tugas akhir mahasiswa, baik berupa skripsi, tesis maupun disertasi yang dilakukannya secara tidak wajar dan tidak bertanggung jawab, misalnya; tidak memberikan kuliah, tetapi memberikan nilai lulus pada mahasiswa tertentu, memaksa mahasiswa membeli diktat atau buku yang dijualnya,jika mahasiswa miskin yang tidak membeli diktat dan buku yang dijualnya itu, tidak lulus ujianmata kuliah yang diampunya; (4) kaum intelektual diangkat menjadi staf ahli dalam urusan pemerintahan dan penyusunan naskah akademik perundang-undangan dan peraturan pemerintah yang kehadirannya semata-mata untuk menjadi pembenar dari apa yang diinginkan pemegang kekuasaan. Contoh lain, penguasa ingin judi dan perzinahan dilaksanakan di suatu negeri, maka kaum intelektual mengeluarkan fatwa bahwa judi dan pelacuran tersebut dihalalkan demi kemajuan negeri, dan seterusnya.

Hitler membunuh 3 (tiga) juta Yahudi, termasuk membunuh dengan sangat kejam para intelektual atau profesor yang tidak sejalan dengannya, sebagaimana dialami oleh profesor Viktor Frankl, diketahui ternyata di belakang Hitler yang kejam itu ada seorang intelektual bernama profesor Alfred Rosenbergh. 

Kisah seperti ini dimana kaum intelektual menjadi pengkhianat selalu terulang dalam sejarah, barangkali juga terjadi di kalangan intelektual di negeri ini; dan (5) fenomena terkini; kaum intelektual menjadi pengikut setia dan membela para dukun dan paranormal dengan alasan yang dikemas seakan-akan sedang terjadi revolusi saint dan/atau revolusi cara berpikir manusia di mana pendekatan positivistik dan naturalistik tak mampu menciptkan dan mengungkapkan kebenaran, yang benar baginya adalah melalui supranatural dan bahkan secara mistik.

Tentu saja tidak semua kaum intelektual yang dekat atau lengket dengan kekuasaan atau pemerintah adalah pengkhianat. Mereka dekat kekuasaan karena setiap kebijakan publik yang dirumuskannya memerlukan kajian akademik dari para intelektual beringritas. 

Menyikapi fakta dan data semakin maraknya kaum intelektual berkhianat tersebut mendapat tanggapan dari berbagai pihak, sejak dulu hingga sekarang ini.

Jalaluddin Rumi (2016) seorng sufi sekaligus teolog dan penyair termasyhur abad ke-13 dalam kitabnya “Fihi Ma Fihi” mengutif sebuah sabda Rasulullah Saw, “Seburuk-buruk ulama (intelektual) adalah mereka yang menunjungi para pemimpin, dan sebaik-baik para pemimpin adalah mereka yang mengunjungi ulama (intelektual). Sebaik-baik pemimpin adalah ia yang berada di depan pintu rumah orang fakir dan seburuk-buruk orang fakir adalah ia yang berada di depan rumah para pemimpin”.

Kaum intelektual (ulama) yang buruk itu adalah mereka yang bergantung, menghamba dan menjadi tukang para pemimpin, ingin dan senangnya dipuji tanpa menyadari bahwa pujian tersebut membawa mereka pada posisi terhina dan tercela.

Penulis sependapat dengan KH. Hasyim Mujazi, di mana ia mengatakan keterlibatan kaum intelektual pada padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi menggambarkan mereka dalam keadaan sakit, dikutip dari Indonesia Lawyers Club (ILC) TV One, Kompas, 6 Oktober 2016 lalu. Dan pada kesempatan yang sama, Azyumadi Azra mengatakan banyaknya kaum intelektual begitu mudah terpengaruh dan terseret ke dalam fenomena yang tidak masuk akal tersebutsebagai bukti adanya disorientasi dan dislokasi religio-intelektual, dan meluas kepada dimensi sosial, budaya, ekonomi, hukum dan politik. Hal ini terjadi disebabkan oleh; (1) krisis kepribadian karena masalah diri dan keluarga yang tidak terselesaikan; (2) obsesi politik, kekuasaan dan jabatan; dan (3) kerakusan dan kesulitan financial.

Menutup uraian ini, penulis ingin mengatakan “Lebih baik kau tersesat di jalan kebenaran dari pada kau merasa benar, padahal berada di jalan yang kesesatan” (Penulis, Dosen FKIP UNTAN).

 

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019