Inpirasi dari Kalam - Kalam Langit

Inpirasi dari Kalam - Kalam Langit

  Senin, 11 April 2016 09:10
FOTO BERSAMA : Dimas Seto bersama sejumlah anak yatim piatu berfoto bersama usai menonton film Kalam-Kalam Langit, Minggu (10/4).

Berita Terkait

Lantunan ayat suci Alquran mengawali cerita dari Film Kalam Kalam Langit di Ruang Teater 2, bioskop XXI Pontianak. Sejumlah penonton hanyut saat Mifrotul Mubarok, juara MTQ tingkat nasional asal Lombok yang memerankan Jafar kecil melantunkan QS. An-Naba.

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Setelah sukses dengan Film Tausiyah Cinta, Ketika Mas Gagah Pergi, masyarakat Pontianak kembali disuguhkan dengan film bernuansa Islami yakni Kalam-kalam Langit.  Film ini merupakan film besutan sutradara Tarmizi Abka, yang mencoba mengangkat dari pengalaman pribadinya tentang dunia pesantren dan lomba MTQ. 

Film drama dan religi ini menceritakan tentang seorang Jafar yang diamanahkan suara indah dalam melantunkan ayat-ayat Allah. Namun dia mengalami kebimbangan antara dakwah dan dilema. Film yang  menyentuh hati, terutama ketika Jafar harus rela kehilangan prestasi demi bakti pada orang tua. Penonton juga merasakan kesedihan, ketika Jafar yang hidupnya pas-pasan harus kehilangan kedua orang tua.

Menonton film ini, penonton juga disuguhkan dengan kearifan lokal Kota Lombok dan Cirebon. Baik dari suasana pesantren hingga kondisi alam yang menyentuh hati.  Film ini diputar pertama kali bersamaan dengan agenda nonton bareng bersama pemeran utama, Dimas Seto (Jafar Besar)  yang wajahnya tak asing lagi di layar kacar. Komunitas Pencinta Film Islami (KOPFI) Pontianak dan Komunitas One Day One Juz (ODOJ) Pontianak yang menggawangi acara ini pun turut melibatkan puluhan anak-anak yatim piatu untuk mengambil hikmah dari film tersebut. Antusias anak-anak pun terlihat saat menyaksikan film ini berlangsung. 

Dimas mengatakan melalui film tersebut, mengajak bersama-sama menjunjung tinggi Alquran. Sehingga tidak hanya dikenal saat membaca atau mendengarkan.”Banyak pesan-pesan yang bisa disampaikan. Terima kasih sudah menonton film ini. Saya harap ini menjadi langkah kita bersama untuk memajukan film-film terbaik dan berkualitas,” ucap Dimas.

Menurut dia, Saat ini perfilman Indonesia terus mengalami perkembangan. Tentu saja harus diimbangi dengan film-film yang tak sekadar menghibur, yang memberikan edukasi dan inspirasi kepada para penonton bukan sekadar menghibur. 

Film yang rencananya akan tayang serentak seluruh Indonesia pada 14 April 2016 ini mampu menyajikan sesuatu yang berbeda.   "Film ini special dan berbeda. Disini Quran menjadi bagian dakwah yang disampaikan lewat film. Hormati dan cintai film Indonesia. Jadikan film Indonesia raja di Negerinya sendiri,”Tambah Tarmidzi. 

Selain kedua pemain cilik, film arahan sutradara Tarmizi Abka dengan Faozan menjadi DOP-nya ini juga dibintangi Dimas Seto sebagai Jafar besar, Elyzia Mulachela asal Pulau Lombok sebagai

Anisa besar, Henidar Amroe sebagai ibu Jafar, Mathias Muchus sebagai ayah Jafar, Meriza Febriani sebagai Azizah, Ibnu Jamil sebagai Syatori dan beberapa pemain asal Lombok, Mataram. Film yang didukung penuh oleh Iwearzule ini siap syuting pada Oktober 2015 dan rencananya akan dirilis Lebaran 2016. 

Melihat antusias masyarakat Pontianak, Dimas Seto beserta Tarmizi Abka pun mengucapkan terima kasih. Ini kali ketiganya Dimas Seto datang ke Kota Khatulistiwa. Pagi harinya, Dimas juga menjadi bintang tamu di Majelis Quran di Masjid Mujahidin Pontianak. **

Berita Terkait