Inovasi Kelola Sampah

Inovasi Kelola Sampah

  Senin, 23 May 2016 09:30
ANGKUT SAMPAH: Walikota menimbang sampah yang akan diangkut oleh driver Angkuts di Taman Digulis kemarin. Aplikasi Angkuts memudahkan warga untuk membuang sampah tanpa harus keluar rumah. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Kreativitas dan inovasi anak muda Pontianak berhasil melahirkan solusi pengelolaan sampah. Dengan sistem Angkuts dan Prolibag, masing-masing mampu mengubah sampah anorganik dan organik hingga bernilai ekonomis. Seperti apa cara kerjanya?  

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Sejak pagi, Taman Digulis Pontianak ramai dikunjungi warga, Minggu (22/5). Ada yang spesial hari itu, selain dipadati masyarakat yang datang berolahraga, juga terlihat para pejabat dari lingkungan Pemkot Pontianak. Termasuk orang nomor satu di kota ini, yaitu Wali Kota Pontianak Sutarmdiji.

Suasana semakin semarak, saat prosesi peluncuran sistem Angkuts dan pemanfaatan Prolibag. Seluruh mereka yang hadir menjadi saksi, di mana kota ini mengikrarkan diri sebagai kota pertama di Indonesia yang mampu mengelola sampah dengan baik.  

Harapannya dalam kurun waktu satu dua tahun ke depan, Pontianak bisa menjadi model percontohan dalam pengelolaan sampah. Dengan peningkatan kepedulian terhadap pengelolaannya, sampah tidak lagi menjadi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah bahkan bernilai ekonomis bagi masyarakat.

Untuk sampah anorganik, kini Pontianak memiliki layanan jasa berbasis aplikasi android yang diberi nama Angkuts. Layanan jasa pengangkutan sampah seperti koran, botol plastik, gelas plastik, kaleng alumunium, kardus dan kertas ini sangat unik. 

Banyak keuntungan bisa didapat, pertama para pengguna jasa angkutan sampah ini justru tidak perlu membayar. Sebaliknya malah mendapat bayaran sesuai dengan jumlah sampah yang diserahkan kepada driver Angkuts atau yang  disebut Pengangkuts.

Direktur PT Angkuts Kreatif Indonesia, Muhammad Hafiz Waliyudin mengatakan, latar belakang menggagas aplikasi ini adalah berkaca dari kesuksesan layanan ojek berbasis aplikasi android atau online.  

Dia menjelaskan, pola kerja Angkuts hampir sama dengan pemulung sampah namun Angkuts lebih terorganisir serta memanfaatkan teknologi informasi. “Lebih pada keinginan mengorganisir para pemulung. Jika di Jakarta misalnya, tukang ojek bisa meningkatkan taraf hidup melalui ojek online, pemulung juga memiliki peluang sama.

Saat ini aplikasi Angkuts baru bisa diakses dengan smartphone berbasis android. Penggunaannya cukup mudah, hanya perlu menginstal aplikasi Angkuts yang diunduh di Playstore. Setelah itu, pengguna harus registrasi dengan mengisi data identitas diri. 

Selanjutnya, bagi yang memiliki sampah-sampah anorganik seperti yang tercantum dalam aplikasi, cukup memanggil driver dengan menekan dan tahan ikon “Panggil Angkuts”. Dilanjutkan mengisi alamat lengkap dan menekan tombol OK. 

Pengangkuts yang berada di kelurahan terdekat akan segera merespon, lalu datang dan mengambil sampah tersebut. Sampah-sampah anorganik seperti kertas, koran, kardus, kaleng alumunium, botol dan gelas plastik akan ditimbang untuk menentukan uang yang akan diterima pengguna aplikasi. “Nantinya uang itu akan masuk dalam bentuk virtual account dalam akun yang bersangkutan,” paparnya.

Selanjutnya, apabila uang yang ada dalam akun pengguna aplikasi itu sudah mencapai kelipatan Rp50 ribu, maka pengguna bisa menguangkannya di Kantor Angkuts yang beralamat di Jalan Tabrani Ahmad, Kecamatan Pontianak Barat. Dalam aplikasi Angkuts juga tertera daftar harga sampah-sampah anorganik yang dihitung per kilogram.

Mahasiswa tingkat akhir Fakultas Teknik ini mengatakan, untuk tahap awal kerja sama dengan Pemkot Pontianak, maka diwajibkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) maupun sekolah-sekolah menggunakan aplikasi ini. “Kami juga berkolaborasi dengan Pemkot memberikan sosialisasi dan edukasi dalam pengelolaan sampah ini,” tuturnya.

Kini Angkuts baru memiliki 25 Pengangkuts  yang tersebar di seluruh kelurahan se-Kota Pontianak. Sebagian besar mereka berasal dari kalangan mahasiswa. Harapannya ke depan, agar lebih terorganisir, para pemulung di kota ini juga ikut bergabung. “Kelemahannya sejauh ini adalah penggunaan smartphone, belum semua memiliki,” jelasnya. 

Untuk memperoleh keuntungan, setelah membeli sampah dari masyarakat, para Pengangkuts akan menjual kembali sampah-sampah tersebut ke pengepul akhir. Keuntungan dari penjualan sampah anorganik itu, 100 persen akan menjadi hak driver, tidak ada sistem bagi hasil. 

“Ke depan, kami akan berupaya  bisa memiliki pengolahan sampah-sampah itu secara mandiri, sebagaimana arahan Pak Wali tadi supaya kami membeli alat pencacah sampah,” imbuhnya. Selain Angkuts yang fokus dengan sampah anorganik, ide untuk mengelola sampah organik juga muncul dari pemuda Pontianak. Penggagas Prolibag Beny Thanheri, berhasil menciptakan suatu wadah yang dinamainya Prolibag Pintar. Berupa wadah sederhana yang diciptakan untuk membantu dalam penanganan sampah organik, terutama sampah organik rumah tangga. “Dengan Prolibag, tidak perlu repot, tinggal simpan Prolibag Pintar minimal satu buah di belakang rumah atau di halaman depan rumah,” jelasnya.

Wadah Prolibag ini desainnya cukup sederhana, yakni rangka besi yang dibentuk seukuran plastik polybag dan disediakan kait untuk menempatkan plastik polybag sehingga bisa berdiri kokoh. Sistem penggunaannya, sampah organik yang dihasilkan setiap hari, langsung dipisah dan dimasukkan ke dalam Prolibag hingga mencapai 70 persen dari volume polybag. 

Sampah ini fungsinya seperti pupuk. Kemudian barulah sampah organik itu ditimbus dengan tanah untuk ditanami berbagai jenis tanaman. Sampah pun jadi bernilai ekonomis. “Bisa ditanami dengan bibit pohon, bunga atau tanaman lainnya sesuai selera,” terangnya.

Prolibag juga bermanfaat mengatasi persoalan sampah. Diketahui dalam satu hari rata-rata Kota Pontianak mampu menghasilkan 300 ton sampah. Sebanyak 70 persennya berasal dari rumah tangga, lalu 60 persen sampai 80 persen sampah rumah tangga itu adalah organik. “Dengan Prolibag sampah organic yang 80 persen ini bisa dimanfaatkan tiap rumah tangga,” katanya.  Selain itu juga bermanfaat membuat kota semakin hijau dan teduh. Karena penggunaan Prolibag secara menyeluruh akan melahirkan aktifitas baru seperti bercocok tanam, tanaman hias dan aktifitas penghijauan kota.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Pontianak Sutarmidji menyatakan sangat mengapresiasi inovasi kedua gagasan yang dicetus anak muda Pontianak itu. Kehadiran Angkuts yang mengubah sampah-sampah anorganik menjadi bernilai ekonomis, bisa membantu Pemkot dalam menangani persoalan sampah. 

Semakin banyak masyarkat yang menggunakan Angkuts, maka semakin banyak pula volume sampah yang dikurangi ke TPA. “Jika mereka bisa tangani 10 persen saja sampah anorganik, itu sudah luar biasa,” katanya. 

Selain juga bisa memberi nilai tambah bagi rumah tangga. Uang yang diperoleh dari menjual sampah, tentu bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal. “Salah satunya membayar PBB seperti yang sudah berjalan dengan Bank Sampah atau lainnya,” ujarnya. 

Terciptanya Prolibag juga sangat ia dukung. Karena meamang sampah organik paling banyak dihasilkan dibanding anorganik. “Jika kota lain terus memperbanyak tempat pembuangan sementara (TPS) sampah, kita justru mengurangi. Dari 130 TPS sekarang tinggal 100 dan akan terus berkurang,” imbuhnya. 

Sutarmidji pun optimis, jika kedua sistem ini berjalan dengan baik, dalam kurun waktu satu atau dua tahun ke depan, Pontianak bisa menjadi model percontohan pengelolaan sampah di Indonesia. 

Tujuannya, untuk mewujudkan Pontianak sebagai kota yang taat dan tertib aturan. Sebagaimana tahun 2016 sudah dicanangkan Pontianak Tertib Aturan, salah satunya tertib dalam membuang sampah. “Jangan sampai ada lagi warga yang diajukan ke pengadilan karena membuang sampah sembarangan atau buang sampah di luar jadwal yang ditetapkan,” pungkasnya. 

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Pontianak Sri Sujiarti menambahkan, jika secara nasional dicanangkan Indonesia bersih sampah 2020, di Pontianak targetnya tahun 2017 sudah zero waste atau nol limbah. “Makanya semua pihak harus bekerja sama mencapai hal itu, termasuk melahirkan ide kreatif seperti Angkuts dan Prolibag,” katanya.** 

Berita Terkait