Ini Kronologis Turis Dimakan Buaya di Raja Ampat

Ini Kronologis Turis Dimakan Buaya di Raja Ampat

  Selasa, 5 April 2016 15:21
indopos.co.id

Berita Terkait

CIPTO AG, tenaga ahli Underwater Tourism Kementerian Pariwisata (Kemenpar), mengatakan tidak ada atraksi menyelam dengan buaya air asin, atau American Salt Water Crocodile, di Raja Ampat.
Pernyataan ini dikemukakan menyusul adanya wisatawan Rusia yang tewas akibat diserang buaya air asin di perairan Raja Ampat, beberapa waktu lalu.
"Wisata menyelam dengan buaya air asin hanya ada di Jardines de la Reina Marine Park di Karibia," kata Cipto. "Buaya air asin berenang di situs banyak ikan, sama dengan shark point."
Ia juga mengatakan buaya air asin hanya menyerang dalam kondisi tertentu; diserang, atau ada mahluk yang menyerang eksosistem-nya.
Penjelasan terakhir mungkin menjawab insiden penyerangan turis asal Rusia oleh buaya air asin di Raja Ampat. Sergei Lykhvar, warga Moskwa itu, ditemukan sedang diseret buaya air asin pada Selasa (29/3). Dia tewas.
Tim Crisis Center Kemenpar segera mengusut insiden ini, dan mengungkap kronologi kejadian. Ini amat penting agar tidak mengganggu arus wisatawan ke Raja Ampat.
Lykhvar berhenti bekerja untuk berlibur sekian lama di Indonesia. Ia mengunjungi Bali, dan hampir satu bulan berada di Raja Ampat.
Yusdi, kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat, mengatakan insiden itu terjadi pada hari terakhir Lykhvar seharusnya berada di Raja Ampat, sesuai paket wisata yang dibeli.
Seharusnya, Lykhvar berkemas untuk melanjutkan perjalanan ke Sorong, lalu kembali ke Rusia. Namun, Lykhvar ngotot ingin snorkeling sendirian pada hari terakhirnya.
Dia memilih bagian selatan pulau Manyaifuin. Padahal, lokasi homestaynya di perkampungan utara pulau. Beberapa guide sempat mencegah, tapi Lykhvar berangkat ke lokasi yang diinginkan sendirian dan diam-diam.
Setelah 24 jam tak kembali, guide melapor ke polisi, tim SAR dan Pemda. Lykhvar dinyatakan hilang. Pencarian dilakukan.
Lykhyar ditemukan tak bernyawa, dan sedang diseret buaya di lokasi terpencil, jauh, dan berbahaya.  Hasil visum RSUD Raja Ampat menyebutkan Lykhvar diduga kuat diserang buaya.
Jasad Lykhvar dibawa ke Sorong. Sesuai permintaan keluarga, jasad Lykhvar dikremasi. Kasus ini sudah diinfokan ke pihak Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia. "Kami menaruh simpati dan turut berduka atas peristiwa itu," kata Cipto.
“Intinya, semua aktivitas wisata alam itu berisiko. Namun bila dilakukan dengan kaidah keselamatan, risiko bisa diminimalisir."
Di kalangan diver, insiden itu diterima sebagai 'kelalaian individu'. Mereka tetap yakin Raja Ampat aman bagi penyelam yang mengikuti prosedur dan ditemani guide.**

Berita Terkait