Ini Dia Mudik Ala Orang Kaya

Ini Dia Mudik Ala Orang Kaya

  Minggu, 3 July 2016 13:20

Berita Terkait

Per Gerbong Rp30 Juta,Alphard Rp 25 Juta, Heli per 30 Menit

Pilihan moda transportasi untuk mudik kian beragam. Yang dipilih pemudik itu mengandalkan kenyamanan dan kecepatan. Bahkan, kesan ekslusif begitu terasa dengan fasilitas yang ditawarkan. Mulai dari mudik dengan helikopter, mudik pakai kereta wisata, hingga mudik dengan menyewa mobil miliaran rupiah.

Tepat pukul 07.50, kereta api Argo Dwipangga masuk Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Tri Irawan Hadi dan keluarga besarnya bergegas masuk ke dalam kereta Toraja. Itu adalah gerbong penumpang ekslusif yang termasuk dalam rangkaian KA Ayodya jurusan Solo. Iwan bersama 21 anggota keluarganya secara khusus menyewa kereta tersebut untuk mudik ke Jogjakarta, pagi kemarin (2/7).

Namanya juga kereta ekslusif semuanya serba lebih lengkap daripada kereta biasa. Interiornya dari kayu jati dengan tambahan pernak pernik Tana Toraja. Mulai dari bantal di kursi penumpang berwarna merah muda, kain sandaran kursi warna senada, hiasan di dinding.

Bukan itu saja, dua layar telivisi 32 inch berserta perangkat audio cukup memanjakan keluarga Iwan. Sepanjang perjalanan selama delapan jam mereka bisa berkaraoke bersama. Di kereta yang dulu dikhususkan jadi kereta kepresidenan itu juga ada ruang khusus dengan kursi sofa yang bisa muat enam orang. Toilet yang bersih juga ada. Minibar dengan prama-semacam pramugari- juga menyediakan makanan dan minuman khusus untuk penumpang kereta yang dibuat pada 1967 itu..

Kemarin, Iwan disediakan aneka menu yang cukup enak. Mulai dari bakso, beef teriyaki, sayur capjay, dan ayam lada hitam. Minumannya aneka jus buah, bajigur, bandrek, kopi, dan teh. ”Snacknya juga enak. Ada jagung dan kacang godok, tidak berkolesterol lah,” ujar Iwan lantas tersenyum.

Berapa harga yang dibayar untuk menyewa kereta sepanjang 20 meter itu? Iwan bersama keluarganya mengeluarkan uang Rp 29,7 juta. Bagi Iwan harga seperti itu cukup pantas dengan fasilitas dan kenyamanan yang mereka dapatkan. ”Cocoklah dengan harganya. Nyaman dan yang penting bisa bareng-bareng keluarga,” ujar pria yang berkerja di sebuah perusahaan kontraktor itu.

Bukan kali ini saja Iwan memilih kereta api wisata untuk mudik. Tahun lalu, mereka juga menyewa kereta ekslusif tersebut. Pilihannya kala itu, jenis nusantara yang bisa muat 19 penumpang. Bedanya, tipe nusantara punya tempat duduk hanya berupa sofa dan dilengkapi dengan kamar tidur. Mirip ruang keluarga yang dipindah ke dalam gerbong kereta. ”Tapi kalau dibandingkan yang nusantara, lebih enak yang sekarang ini. Tempat duduknya juga lebih banyak,” tambah Iwan.

Kereta Toraja dan Nusantara hanya dua diantara tujuh tipe kereta wisata yang dikelola PT Kereta Api Wisata, anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia. Total jumlah kereta itu 12 unit. Selain Nusantara dan Toraja ada pula tipe Jawa, Sumatera, dan Bali yang masing-masing ada satu kereta. Selain itu, ada kereta jenis Imperial sebanyak tiga unit dan tipe Priority empat unit.

Biaya sewa selama musim lebaran itu berkisaran antara Rp 15 juta hingga Rp 37 juta. Tergantung jarak dan fasilitas yang diinginkan. Tujuan Gambir-Surabaya dengan kereta fasilitas makan misalnya dipatok Rp 29 juta. Sementara kalau ingin sampai Malang Rp 30 juta. Bila menggunakan kereta tipe priority bisa sampai Rp 37 juta untuk sampai Malang.

Menager Operasional dan Pelayanan PT Kereta Api Wisata Teguh Triyono menuturkan pada masa mudik dan balik Lebaran tahun ini sudah ada 24 kali pemesanan. Khusus untuk Toraja seperti yang sewa keluarga Iwan, ada empat kali penyewaan. ”Itu bisa bertambah lagi. Karena masih kami masih buka pemesanan,” ujar Teguh yang turun memantau langsung pemberangkatan kereta Toraja itu.

Dia menuturkan para konsumen biasanya memesan kereta itu sekitar sebulan atau dua bulan sebelum keberangkatan. Rata-rata pemesan adalah keluarga besar yang ingin mudik asyik dengan suasana nyaman. Dia mengibaratkan, mudik dengan kereta ekslusif itu seperti berkumpul di ruang tamu rumah, tapi berjalan. ”Tidak terasa tiba-tiba sudah sampai tujuan,” terang Teguh.

Selain itu, para penyewa juga biasanya memperhitungkan jarak tempuh yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perjalanan dengan pesawat terbang. Memang, perjalanan di pesawat relatif singkat. Tapi, mulai dari berangkat dari rumah sampai persiapan di bandara butuh waktu tak kurang dari tiga sampai empat jam. ”Dari sisi waktu sebenarnya juga sama kok,” ujar pria yang pernah berdinas di PT KAI Daop VIII Surabaya itu.

Menikmati perjalanan mudik dengan memanfaatkan jasa rental mobil mewah juga menjadi pilihan segelintir masyarakat ibukota. Toyota Alphard dan Vellfire merupakan jenis mobil mewah paling dicari di kalangan pemudik parlente untuk pulang ke kampung halaman.

Kesan elegan dan interior super nyaman menjadi daya tarik tersendiri bagi para pemudik untuk memutuskan menyewa mobil-mobil kelas atas tersebut. Kemacetan panjang yang lazim terjadi saat puncak arus mudik pun bukan lagi jadi soal. Penumpang mobil ekslusif itu bakal betah berlama-lama di jalan karena kenyamanan itu.

Mobil mewah, terutama Alphard dan Vellfire, memang dirancang khusus untuk menciptakan kesan nyaman tersebut. Yang paling menonjolkan kesan mewah adalah kursi ottoman didalamnya. Penumpang bisa kapan saja merebahkan tubuh saat dalam perjalanan. Sebab, kursi ekslusif berbasis elektris itu memiliki sandaran kaki dan tangan serta reclining seat (posisi jok) yang bisa diatur otomatis.

Di kawasan Jakarta, tidak sulit mencari jasa persewaan mobil mewah tersebut. Namun untuk saat ini, mayoritas jasa persewaan itu sudah full booking. Pengusaha rental mobil mewah Dimas Arif Wibowo mengatakan, para penyewa umumnya sudah memesan jauh hari sebelum Lebaran. ”Ada tujuh unit mobil mewah milik saya sudah keluar semua (disewa mudik, Red),” ujarnya, kemarin (2/7).

Pemilik Queen Rental by Dimas Wibowo di Ciputat Tangerang Selatan (Tangsel) itu mengungkapkan, sebagian besar mobil mewah tersebut disewa mudik ke sejumlah wilayah di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Antara lain, Bandung, Sukabumi, Subang dan Cirebon. Mayoritas penyewa berlatar belakang pengusaha, artis hingga pejabat.

Di kalangan pemilik jasa rental, mobil mewah itu jarang diberikan kepada pelanggan yang ingin mudik ke Jawa Timur, Jogjakarta dan luar pulau Jawa. ”Antisipasi biar tidak dibawa kabur,” imbuh pria kelahiran Jakarta ini.

Khusus momen Lebaran, banyak jasa rental yang menawarkan paket sewa selama 10 hari hingga dua minggu. Selain Alphard dan Vellfire, mobil kelas menengah atas yang menjadi incaran pemudik parlente adalah Toyota Camry, Toyota Fortuner dan Honda Pajero. Beragam mobil mewah yang ditawarkan merupakan keluaran 2011 sampai yang terbaru 2016.

Untuk tarif sebenarnya tidak ada aturan yang mengikat. Namun, para pemilik rental dan user (sebutan broker mobil) di pasaran sepakat bila Alphard dan Vellfire berada di urutan paling atas. Yakni Rp 25 juta hingga Rp 28 juta untuk paketan 10 hari mudik.

Sementara Camry, Fortuner dan Pajero dipatok Rp 18 juta/10 hari. Pada saat mudik seperti sekarang ini, besaran tarif lebih tinggi dibanding hari biasa. ”Normal umumnya Alphard dan Vellfire hanya Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta sehari. Kalau yang lain (Camry, Fortuner, Pajero) tidak sampai Rp 2 juta,” bebernya.

Umumnya, tarif tersebut sudah include upah dan uang makan driver. Khusus Lebaran, sebagian rental sengaja memberikan pelayanan tambahan bagi pelanggannya. Diantaranya, snack, fasilitas terminal untuk colokan charger laptop hingga bonus bahan bakar minyak (BBM) untuk satu tank awal. ”Yang menentukan tarif dan fasilitas tambahan itu pemilik rental sendiri,” jelas pria 29 tahun ini.

Rizal Nugraha, salah seorang user rental car di kawasan Bekasi Barat mengungkapkan pelbagai alasan melatarbelakangi penggunaan mobil mewah untuk mudik. Paling umum, yakni agar terkesan prestisius di hadapan keluarga besar di kampung halaman. Ada pula yang ingin mencari perhatian orang terdekat. ”Biar keren dan dianggap kaya saat di kampung,” terangnya.

Di kalangan persewaan mobil mewah, mayoritas pemakai jasa rental tidak mau disebut sebagai penyewa. Mereka pun mewanti-wanti kepada pemilik rental agar tidak membocorkan nama mereka ke orang lain. ”Kalau ditanya orang, itu mobil punya sendiri, bukan nge-rental,” paparnya.

Dari moda transportasi udara, Helicopter City Transportation (HeliCity) menawarkan cara mudik baru. Sesuai namanya, naik helikopter. Sejauh ini sanggup melayani jarak yang bisa ditempuh sampai 2 jam yaitu antara Jakarta – Semarang.

Penawaran pulang ke kampung halaman naik helikopter itu benar-benar perdana. Baru ditawarkan HeliCity tahun ini mulai 1 Juli 2016 sampai 12 Juli 2016. ”Ya bisa dibilang bukan program mudik lah. Hanya menawarkan solusi di high season Ramadhan dan Lebaran ini,” ucap HeliCity Business Head, Ari Nurwanda, kepada Jawa Pos, Jumat (01/07).

Ari terkesan sedikit malu untuk mengatakan programnya itu dalam rangka mudik. Maklum, masih menjadi hal baru di Indonesia. HeliCity yang merupakan unit usaha di bawah Whitesky Aviation melihat ada peluang bisnis dari ritual tahunan mudik hari raya Idul Fitri.

Walaupun hanya untuk jarak dekat seperti rute Jakarta – Bandung dengan jarak tempuh darat sekitar 100 km, tetap diyakini ada pasarnya. Terlebih akibat membludaknya volume kendaraan di jalur darat pada musim lebaran, kata Ari, rute yang biasanya bisa ditempuh maksimal 3 jam lewat jalan tol itu bisa mencapai kali dua lebih lama.

Di dunia bisnis jasa penerbangan helikopter, biasanya pengenaan tarif dilakukan per minimum dua jam. Dengan pola bisnis seperti itu, sulit dilakukan penawaran menarik dalam rangka program mudik lebaran.

”Maka kami membuat satu inovasi baru ini. Kami coba membuat formulasi cukup 30 menit saja. Jadi per 30 menit kena charge dari sebelumnya per minimum 2 jam,” tutur pria kelahiran 8 Februari 1972 itu.

Penjajakan formulasi tarifnya itu sudah dimulai sejak sekitar pertengahan 2015. Pihaknya belum melakukan grand launching sejak saat itu sambil terus melakukan evaluasi dan pengembangan. ”Ini kebetulan ada momen peak season Ramadhan dan Lebaran maka sekalian kita buat program ini,” ucapnya.

Dalam kondisi normal, tarif sewa (charge) helikopter per 30 menit sebesar Rp 26,4 juta sudah termasuk pajak (PPn). Namun dalam program Lebaran ini pihaknya menawarkan special rate sebesar Rp 16,5 juta include PPN per trip.

Dengan tarif sebesar itu, satu helikopter tipe Bell 407 yang digunakan HeliCity menampung empat orang penumpang. Di kabin (onboard), selain ditemani pilot, turut mendampingi satu orang engineer (mekanik).

Di darat (onground), passenger handling bertugas menuntun para penumpang mulai dari sejak tiba di lokasi helikopter parkir sampai menuju kabin dan siap terbang (takeoff). Petugas itu pula yang akan membawakan makanan bagi penumpang untuk bekal sepanjang penerbangan. ”Snack biasa saja. Minumnya juga biasa, air mineral atau teh. Tapi bisa juga menyesuaikan permintaan penumpang,” ungkap Ari.

Untuk program mudik tahun ini, dari sebanyak 6 helikopter dikelola HeliCity, disediakan dua unit. Satu unit dijadwalkan terbang tiga kali saja dalam sehari diupayakan tidak sampai sore karena memertimbangkan kondisi cuaca yang biasanya mulai hujan jelang malam terutama di Jawa.

Sampai saat ini HeliCity sudah menerima pesanan terbang mayoritas ke Bandung mulai 6 Juli sampai 12 Juli 2016. Khusus program ini titik terbang di Jakarta dipusatkan di Senayan National Golf dan kawasan bandara Halim Perdanakusumah. ”Kami memang menyadari ini baru langkah awal. Mungkin belum banyak karena ini baru diperkenalkan. Tapi ke depan kami meyakini ini menjadi salah satu kebutuhan,” yakinnya.

Atas dasar itu pihaknya pada April 2015 melakukan penandatanganan pembelian 30 unit Bell helikopter dan diharapkan secara bertahap mulai tahun ini sudah dikirimkan pesanannya. Bell Helicopter Textron, produsennya, berpusat di Fort Worth, Texas, Amerika Serikat.

Dengan kedatangan unit baru yang lebih efisien dan berkapasitas sekitar empat penumpang itu, kata Ari, diupayakan tarifnya bisa di bawah Rp 15 juta per 30 menit. ”Nantinya ya bukan untuk program high season seperti Ramadhan ini saja tapi juga kami melihat ada kebutuhan reguler untuk bisnis,” pikirnya.

Saat ini banyak perusahaan besar yang berkantor di pusat Jakarta tetapi memiliki remote office di kawasan industri seperti di Cikarang, Karawang, dan daerah lainnya. Di daerah-daerah terutama kawasan industri itu meskipun infrastruktur tolnya sudah tersedia namun sejauh ini selalu terjadi kemacetan. ”Kami memang ingin membuat bisnis ini lebih serius,” tekadnya.(gen)

Berita Terkait