Ini Dia Kunci Sukses Pendidikan Finlandia

Ini Dia Kunci Sukses Pendidikan Finlandia

  Sabtu, 27 Agustus 2016 08:47
BELAJAR: Murid menikmati pelajaran dengan santai di Finlandia. FOTO www.telegraph.co.uk

Berita Terkait

ADA sepucuk surat elektronik yang mengomentari tentang ‘full day school’ – sekolah sehari penuh- yang digagas Menteri Muhadjir Effendy akhir bulan lalu. Berikut cuplikannya. “Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang belum lama dilantik membuat gebrakan. Menteri Muhadjir akan menerapkan sistem ‘full day school’-Sekolah sehari penuh. Program ini dikatakan sebagai salah satu pesan Presiden Joko Widodo di bidang pendidikan. Katanya, gagasan ini ditiru dari Finlandia. Benarkah?”

Dalam  pembicaraan terkini tentang mutu pendidikan baik di dalam negeri maupun di manca negara sering merujuk hasil pendidikan di Finlandia. Dalam Wikipedia, disebutkan bahwa luas wilayah Republik Finlandia sebesar 338.424 km2  dengan penduduk sekitar 5.477.359 jiwa (2015). Posisinya berada di ujung barat laut Uni Rusia.

Data dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi – OECD (2010) menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Murni (APM) tingkat PAUD sebesar 48,2%, Pendidikan Dasar 95,5%; Pendidikan Menengah 87,2% dan Perguruan Tinggi 42,6%. Sebagai pembanding, APM Provinsi Kalimantan Barat berturut-turut adalah PAUD 53,28%;  Pendidikan Dasar - SD:93,18% serta SMP 71,40% ; dan Pendidikan Menengah 64,88%. Sedangkan APM di Indonesia berturut-turut adalah: PAUD 68,10%;  Pendidikan Dasar - SD:93,53% serta SMP 80,57% ; dan Pendidikan Menengah 57,15% (Kemendikbud, 2015). Sebagai catatan, Angka Partisipasi Murni (APM) adalah proporsi anak sekolah pada satu kelompok usia tertentu yang bersekolah pada jenjang yang sesuai dengan kelompok usianya.

Terlihat, di tingkat PAUD dan Pendidikan Dasar APM Finlandia kurang lebih sama besar dengan APM baik Kalimantan Barat maupun dari Indonesia. Tetapi, di tingkat SM Kalbar dan Indonesia lebih rendah. Kenapa Finlandia dapat berada pada posisi teratas di dunia?

Sebuah buku tipis (168 halaman) yang ditulis oleh Pasi Sahlberg, 2011, dengan judul “Finnish Lessons: What Can the World Learn from Educational Change in Finland?  diterbitkan oleh  Teachers College Press, New York, memberi jawaban  singkat dari pertanyaan tersebut. Pasi Sahlberg memperoleh gelar Ph.D Pendidikan Sains dari Universitas Jyväskylä, Finlandia tahun 1996. Di awal karirnya, Pasi Sahlberg sebagai seorang guru yang makin lama karirnya makin menanjak hingga menduduki posisi puncak di bidang pendidikan di Finlandia. Sejak 2007 ia bekerja pada ‘The European Training Foundation’, Torino, Italia sebagai Ketua ‘Education Specialist’.

Buku ‘Finnish Lessons’ ini  terdiri atas pendahuluan dan lima bab yang cukup pendek secara sederhana menyajikan kisah sukses reformasi pendidikan di Finlandia. Para siswa di Finlandia selalu unggul dalam hasil tes belajar yang dilakukan oleh PISA-‘Program For International Student Assessment’ suatu lembaga penelitian internasional dalam bidang pendidikan yang dikelola oleh OECD. Kisah keberhasilan pendidikan di Finlandia ini juga disertai gambaran pendidikan di negara itu yang jumlah jam sekolah relatif lebih sedikit dibandingkan jumlah jam belajar rata-rata secara internasional. Di Finlandia juga tidak ada program akuntabilitas dan ujian nasional seperti yang dilakukan di Indonesia. Fokus pendidikan di negara itu adalah pengembangan pribadi dan kesetaraan.

Digambarkan pula secara singkat sejarah negara Finladia yang hancur, luluh-lantak di akhir Perang Dunia II. Pemerintahan tidak stabil, serta pernah diokupasi Rusia dan juga Swedia. Ketika mulai melakukan reformasi dalam bidang pendidikan juga banyak oposisi yang menghadang. Semua itu, dapat dilalui dengan baik. Dalam laporan FISA, khusus Finlandia diberi judul “Slow and Steady Reform for Consistently High Results”-(OECD, 2010).

Pada bagian pendahuluan dari buku Sahlberg itu disajikan serangkaian argumentasi yang mwnyatakan bahwa dalam meningkatkan pendidikan kita dapat saling belajar satu dengan yang lain. Dalam bab pertama disajikan sejarah singkat perkembangan pendidikan di Finlandia sejak tahun 1970-an hingga dewasa ini. Ada perubahan struktural  yang dewasa ini disebut ‘peruskoula’- suatu sitem pendidikan dasar yang mirip dengan wajib belajar pada usia 7-16 tahun.

Peruskoula ini mengganti sistem pendidikan dasar dan menengah yang pada umumnya diselengakan di Erupa-Grammar School. Setelah selesai wajib belajar 9-tahun  (usia 7-16 tahun) siswa diberi kesempatan memilih ke pendidikan vokasi yang diakhiri dengan kualifikasi vokasional, untuk masuk ke pasar kerja atau untuk melanjutkan pendidikan politeknik, atau ke pendidikan umum yang diakhiri dengan ujian matrikulasi untuk memasuki jenjang strata-1 universitas. Dengan demikian, tidak ada lulusan sekolah kejuruan yang masuk ke universitas. Mereka harus masuk program strata-1 politeknik (https://citizenshaw.wordpress.com/2015).

Bab kedua buku ini membandingkan capaian pendidikan di Finladia dan capaian pendidikan di Amerika Serikat serta   ‘Global Educational Reform Movement (GERM)’. Ternyata pendidikan di Finlandia lebih murah, lebih hemat waktu, serta lebih sedikit frekuensi ujian dibandingkan dengan ujian-ujian GERM itu. Tetapi, lebih menekankan pada kesetaraan.

Bab ketiga membahas tentang mutu dan peran penting dari guru dan pembelajaran. Bab keempat menunjukaan berbagai unsur politik yang saing berkelindang dengan reformasi pendidikan ini. Dan, pada bab kelima disajikan visi pendidikan masa depan Finlandia.

Pasi Sahlberg menunjukkan bahwa perubahan sistem pendidikan di Finlandia merupakan hasil suatu usaha semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, para adminsitrator, para pengambil kebijakan, para politis, para pengusaha, para pendidik, serta para tokoh masyarakat. Diskusi dan kerjasama berlangsung baik tas-bawah maupun bawah-atas. Kurikulum juga diubahan dari kurikulum 1960-an menjadi Kurikulum 1979. Pada tahun 1985 semua sekolah di Finlandia telah menerapkan kurikulum yang sama. Ujian nasional tidak lagi diselenggarakan dan diganti dengan semacam ujian matrikulasi SMA. Selain itu, para guru tidak menjadi taget akuntabilitas. Sistem ranking siswa juga ditiadakan.

Bagian pertama reformasi ini memerlukan waktu 25 tahun, dilanjutkan usaha 15 tahun berikutnya. Reformasi pendidikan Finlandia memerlukan waktu 40 tahun. Memang terkesan ‘lambat’ tetapi konsisten dan teguh memegang arah. Tetapi, sungguh berhasil.

Kini, mengajar menjadi salah satu profesi tertinggi. LPTK dapat memilih 10% tertinggi dari para calon mahasiswa. Akibatnya, tidak ada mahasiswa calon guru yang kena DO atau mengundurkan diri.  Menjadi  guru berarti menempati posisi terhormat di masyarakat. Tentu saja gajinya juga bagus.

Di samping itu, semua guru berizasah master dalam bidang pendidikan yang berbasis riset. Karena itu, mereka menjadi sangat ahli dalam bidangnya. Tidak ada seorang pun yang mengajar di luar bidang kepakarannya.

Pasi Sahlberg merujuk tiga hal mengapa kualitas para guru di Filandia sangat bagus. Pertama, orang-orang yang paling kompeten di negara itu memilih karirnya sebagai guru karena ada pendapat mengajar bukan sekedar mencari uang tetapi suatu penjaga moral. Mereka berpendapat bahwa menjadi guru sebagai panggilan moral. Kedua, ada kolaborasi yang kuat antar prodi murni dengan LPTK yang sebidang, misalnya antara Prodi Fisika dan Prodi Pendidikan Fisika. Ketiga, LPTK berorientasi pada penelitian. Artinya, para guru meneliti dan hasilnya diikuti dan diimplementasikan. Guru sungguh menjadi andalan baik baik siswa, orang tua maupun masyarakat umum. Mereka bekerja baik dalam tataran pragmatis maupun tataran moral.

Inilah sejumlah penjelasan mengapa kualitas pendidikan di Finlandia dapat diandalkan dibandingkan dengan negara-negara lain termusuk Indonesia. Kita perlu belajar dari negara itu. Terutama pada program peningkatan mutu guru. Semoga!

Leo Sutrisno, Pengamat Pendidikan

leo.sutrisno@gmail.com

Berita Terkait