Ini Cara Walikota Singkawang Mengatasi Konflik

Ini Cara Walikota Singkawang Mengatasi Konflik

  Minggu, 29 November 2015 08:15

Berita Terkait

DEMI menjaga toleransi keberagaman di Kota Singkawang, maka setiap ada permasalahan, segera diselesaikan agar tak membesar. Hal tersebut diungkapkan Wali Kota Singkawang Awang Ishak. Sebagai kota penyandang predikat ketiga toleransi secara nasional, menurut dia, merupakan sesuatu yang harus disyukuri. Namun, dia juga mengingatkan bahwa kondisi tersebut harus terus menjadi  hal yang wajib dijaga.

"Kita patut bersyukur, Singkawang mendapat predikat kota ketiga toleransi tingkat nasional," kata Awang ketika menyambut kedatangan rombongan Kementerian Agama (Kemenag) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) di Kota Singkawang. Menurut Awang, kondisi tersebut bisa terus dijaga dengan secara cepat menyelesaikan jika ada masalah, agar tak membesar. "Kalau memang ada masalah, jangan sampai dibesar-besarkan. Dan apabila ada yang baik, maka perlu dibesar-besarkan," pesan dia.

Ketua FKUB Provinsi NAD, Ziauddin, saat berkunjung ke Singkawang, mengaku begitu mengagumi kehidupan masyarakatnya yang terlihat tinggi sikap toleransinya. "Kondisi kehidupan masyarakat inilah, sehingga Singkawang mendapatkan predikat kota ketiga toleransi se Indonesia," kata Ziauddin.

Dia menyebut Singkawang begitu luar biasa. Pihaknya pun melihat untuk kemudian mempelajari mengenai kerukunan yang ada. "Toleransi antar agama juga tinggi, kita mempelajari ini, bagaimana umat beragama saling toleransi," katanya.

Selain mempelajari Kota Singkawang, dalam kesempatan tersebut, mereka juga menceritakan tentang Aceh. Harapan dia agar masyarakat di kota ini tidak hanya mengenal Aceh dari sisi negatifnya. "Orang mengenal Aceh sebagai daerah GAM, Aceh dikenal adanya ganja, Aceh dikenal dengan tsunami. Aceh saat ini sudah kondusif dan secara UU Otsus, Aceh menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya,” kata Ziauddin.

Sementara bagi non Islam, dia juga mengungkapkan tidak dikenakan syariat Islam. "Pelaksanaan syariat Islam di Aceh hanya untuk muslim. Bagi non muslim hanya dikenakan UU negara atau hukum positif. Namun, apabila dia melanggar dan bersedia dikenakan pelaksanaan hukum syariat, maka kita persilakan,” katanya.

Kekaguman akan Singkawang juga disampaikan kepala Kantor Kemenag Provinsi  NAD, HM Daud Pakeh. Dia menyebutkan kondisi di kota ini juga ada di Aceh, yakni satu wilayah dengan penduduk beragam suku dan agama. Namun, dia menambahkan, daerah yang dimaksudnya itu kecil, tidak seluas Singkawang. "Kalau di Aceh, tepatnya di Kenayoh, Banda Aceh. Berkumpul penduduk dari beragam agama maupun suku. Namun wilayahnya tidak seluas Singkawang yang tentunya keberagamannya lebih luas lagi," katanya.

Ketua FKUB Kota Singkawang, Baharuddin, mengatakan kondisi kerukunan yang ada di kota ini merupakan bentuk dukungan seluruh masyarakat. "Alhamdulillah masyarakat Kota Singkawang turut mendukung rasa toleransi, solidaritas, dan saling melindungi,” katanya. (fah)

Berita Terkait