Ingin Dia Senang, Sang Nenek hanya Bisa Berharap

Ingin Dia Senang, Sang Nenek hanya Bisa Berharap

  Kamis, 21 April 2016 10:52
GAGAL BERANGKAT: Yusti, atlet renang NPC Kapuas Hulu yang terancam gagal berangkat PON, didampingi neneknya, Maria, saat ditemui sejumah wartawan, kemarin. MUSTA’AN/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Meskipun belum bisa berangkat ke Pontianak untuk mengikuti latihan persiapan menjelang kejuaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Jawa Barat, 12 Oktober mendatang, Yustina Kotok, perenang National Parilimpik Cumite (NPC) Kapuas Hulu, berharap bisa berangkat ke Pontianak. Dia ingin bisa mengikuti PON, sehingga mengharumkan nama Kabupaten Kapuas Hulu.

MUSTA’AN, Putussibau

YUSTINA mengaku jika dirinya sudah dua kali tidak latihan lagi. Alasannya karena belum  ada kejelasan kapan dia akan berangkat. Perempuan berusia 23 tahun ini tidak tahu kenapa belum ada kejelasan keberangkatannya ke Kota Pontianak. "Pelatih saya bilang tidak ada dana," tuturnya. 

Sebelumnya ia masih rutin menjalani latihan renang. Dalam satu minggu, bisa tiga kali dia berlatih renang di Sungai Bika dan Sungai Sibau.

Warga Dusun Nanga Lapung, Desa Bungan Jaya tersebut memastikan jika dirinya akan bertahan beberapa hari di Kota Putussibau, sambil menunggu kepastian pemerintah akan keberangkatannya. "Sambil menunggu kepastian ini, banyak tawaran pekerjaan yang ditinggalkan di kampung, seperti tawaran menjadi guru TK dan SD, serta jadi penjaga toko," ujar wanita yang selalu ditemani neneknya saat berpergian itu.

Jika memang nantinya ia tidak bisa berangkat ke Kota Pontianak, dia sudah berencana pulang ke kampung halamannya, mencari pekerjaan lain. "Mau tak mau saya harus pulang kalau di sini (Putussibau, Red) tidak ada yang ditunggu lagi," ujarnya. 

Sang nenek, Maria Senanu, merasa sedih melihat cucunya saat ini, karena harus menunggu kapan ia diberangkatkan ke Kota Pontianak. Maria tetap berharap agar dirinya bisa melihat cucunya bahagia. Ia tak ingin melihat cucunya itu kecewa. “Dia ini punya bakat dan kerja keras," tuturnya.

Jika tidak ada kepastian dari pemerintah akan nasib cucunya ini, dia pun akan memulangkan cucunya ke kampungnya. "Lebih baik ia dipulangkan ke rumah saja dan cari pekerjaan lain. Ketimbang nunggu di sini,” kata dia.

Sementara itu Antonius L Ain Pamero, wakil Bupati (Wabup) Kapuas Hulu, menyarankan seharus NPC Kabupaten Kapuas Hulu melaporkan terlebih dahulu kepada pemerintah setempat, jika mereka itu terpisah dari KONI Kabupaten Kapuas Hulu. "Seharusnya mereka itu sampaikan dulu kepengurusannya, karena perubahan itu harus sesuai mekanisme yang harus disampaikan pada dinas teknis terkait, sesuai prosedur berlaku," ungkapnya.

Wabup mencoba meluruskan bahwa pemerintah bukannya tidak memberikan perhatian terhadap atlet NPC. Justru, ditegaskan dia bagaimana mereka sangat mendukung keberadaan para duta olahraga tersebut. "Yang namanya anggaran tidak serta merta tahun bisa diambil, mereka mesti memasuk anggaran tersebut, dianggarkan, baru bisa cair, harus ia sampaikan sebelumnya. Sekarang mereka itu sudah terlepas dari KONI, jadi tidak bisa sembarangan," jelasnya.

Namun begitu, pihaknya tetap mencarikan solusi agar atlet yang tertinggal ini bisa berangkat ke Pontianak. Namun dari pos penganggarannya, diakui dia jika mereka ini tak terakomodir karena NPC sudah terpisah dari KONI. 

"Saya ini bangga dengan mereka, ke depannya mereka ini harus melaporkan dan menyelesaikan proses administarasinya supaya bisa kami anggarkan pendanaan," katanya.(aan)

Berita Terkait