Infrastruktur Strategi Kolonial Eropa di Asia dan Afrika

Infrastruktur Strategi Kolonial Eropa di Asia dan Afrika

  Rabu, 3 February 2016 08:47   1

Oleh  : Dahrin La Ode Menurut catatan sejarah juga fakta sejarah bahwa kunci sukses kolonial bangsa Eropa antara lain Belanda, Inggeris, Perancis, Portugis, dan Spanyol terhadap bangsa-bangsa di Asia dan Afrika adalah pembangunan infrastruktur. Ada beberapa infrastruktur yang penting yaitu jalan, jembatan, gedung-gudung pelayanan publik, serta kapal laut sebagai faktor penghubung antar pulau atau intersulair di Asia dan Afrika. Dengan begitu maka kolonial bangsa Eropa “diterima” oleh bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. Bangsa kolonial percaya bahwa “bila infrstruktur tersedia, maka mobilisasi manusia, barang, jasa, dan ekonomi bisa dinamik”. Ternyata memang terbukti. Dengan demikian maka infrastruktur sangat bernuansa politis.

Lebih khusus keberhasilan kolonial bangsa Eropa kita lihat bekas koloni Belanda di Nusantara yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, diproklamirkan oleh Proklamator Soekarno-Hatta. Menurut perkiraan sementara bahwa tidak kurang dari 70% infrastruktur jalan yang dikembangkan di Indonesia pasca kemerdekaan adalah peninggalan kolonial Belanda.  Dalam pemerintahan Presiden Jokowi-Jusuf Kalla ada Nawacita, di dalamnya ada pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di Indonesia bagian Timur serta tol maritim dalam upaya mengintegrasikan Bumi Maritim Indonesia. Dalam hal ini termasuk infrastruktur jalan dan jembatan di Kalimantan Barat (Kalbar) dan secara spesifik pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di Kota Pontianak.

Kita semua pernah lihat fakta jalan Sintang-Putussibau tidak pernah utuh dan Kota Pontianak yang pernah mengalami kerusakan infrastruktur jalan yang mencapai 80% volume jalan Kota Pontianak. Akibatnya semua model dinamika mobilisasi manusia, barang, jasa, dan ekonomi hampir semuanya mengalami kelambanan.

Kemudian pemerintah Kota Pontianak dengan tekun membangun kembali infrastruktur itu hingga berubah menjadi “baru dan baik hingga ke angka 100%”. Beberapa tahun stelah itu, BPS Kota Pontianak mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Pontianak pada tahun 2013 naik ke angka sebesar 6,91% serta penurunan angka kemiskinan terjadi mulai tahun  2008 dari sebesar 9,29% dan tahun  2014 angka itu turun drastis ke angka 5,13%.

Bangsa kolonial Belanda, Inggeris, Perancis, Portugis, dan Spanyol,  membangun infrastruktur dengan harapan agar pertama, disukai oleh local peopple  atau Pribumi di Asia dan Afrika; kedua, Pribumi mendapatkan kesejahteraan dalam hal kemudahan mobilisasi manusia, barang, jasa, dan ekonomi; dan ketiga, tercapainya integrasi di berbagai aspek kehidupan masyarakat koloni. Dalam pembangunan nasional, Presiden Jokowi dalam Nawacitanya juga mencantumkan infrastruktur sebagai titik berat pembangunan kesejahteraan rakyat Indonesia. Demikian juga dengan Pemerintah Kota Pontianak dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6,91% dan penurunan tingkat kemiskinan hingga ke angka 5,13% juga menggunakan titik berat pembangunan infrastruktur.

Fakta sejarah keberhasilan strategi kolonial Eropa kepada bangsa-bangsa di Asia dan Afrika menjadi faktor penguat untuk berlangsungnya masa koloni kepada Pribumi hingga 400 tahun lamanya.

Presiden Jokowi mengalami penambahan kekuatan dukungan pemerintahnya dari PAN, Golkar, dan masyarakat setelah benar-benar fokus pada pembangunan infrastruktur untuk mengintegrasikan “Bumi Maritim Indonesia”. Begitu pula dengan Pemerintahan Sutarmidji-Edi Rusdi Kamtono, keberhasilan membangun infrastruktur jalan seolah membawa pesan kepada kita bahwa “jika kita ingin mensejahterakan masyarakat secara konstruktif maka harus dimulai dengan membangun infrastruktur, karena infrastruktur menciptakan integrasi aspek-aspek yang berbeda-beda secara mendasar.

Koloni bangsa Eropa atas bangsa-bangsa Asia dan Afrika, Presiden Jokowi, dan Walikota Sutarmidji, membuktikan bahwa validitas strategi infstruktur jalan dan jembatan sangat kuat untuk mencapai pembangunan yang konprehensif. Jadi pertanyaan jika membangun infrastruktur jalan dan jembatan akan menghasilkan berapa ribu rupiah perjam hampir tidak diperlukan. Di dalam pemehaman ilmu politik strategi kolonial itu disebut politik infrastruktur. (**)

*)Dosen Universitas Pertahanan Indonesia (Unhan)